Liberty In Creativity Book Lounching Made In Prison By Evy Amir Syamsudin



DRADIOQU.COM - Yayasan Second Chance bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia dan Italian Cultural Institute Jakarta, meluncurkan buku terbaru Evy Amir Syamsudin, Made In Prison. Pada hari ini Rabu (9/3), bertempat di Djakarta Teater, Jakarta Pusat. 

Dalam karya terbarunya, Evy Amir Syamsudin mengangkat karya-karya unggulan dari beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) di seluruh Indonesia, disertai kisah-kisah kehidupan para warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau yang Iebih sering disebut dengan narapidana. 


Karya warga binaan pemasyarakatan, kerap kali dikisahkan oleh Evy, setelah dalam buku pertamanya Voicing the Voice/ess, pada 2015. Made in Prison menjadi wadah bercerita Evy mengenai hal detil tentang produktivitas dan hasil kreasi narapidana dalam kondisi serba terbatas. 

Hal yang menarik dari penceritaan hasil karya napi adalah dengan menampilkan sosok seorang whistle blower kasus penggelapan pajak yang dijatuhi hukuman sebelas tahun, mampu bangkit berkat pembinaan petugas Lapas, dan bersama pihak Lapas membangun Kayna Bakery atau KArYa NApi Bakery di Lapas Cipinang. Selama menjalani masa pidana. dirinya tetap produktif dan mampu menafkahi keluarga meski berada di balik jeruji. 

Selain itu, yang menarik lagi adalah kisah Sumiati, seorang warga binaan yang divonis 16 tahun atas kasus pembunuhan akibat kisruh rumah tangga, mendapatkan pembinaan dalam mengolah kecap di Lapas Wanita Malang. Produksi kecap yang dimulai tahun 2002 nyatanya mampu menjadi wadah pembinaan untuk menjadikan Sumiati dan teman-temannya produktif dan berpenghasilan. Kini, kecap sudah dikembangkan dalam berbagai varian dan diminati oleh masyarakat Malang.

Tentang Evy Amir Syamsudin 

Evy Amir Syamsudin menempuh pendidikan di University of San Fransisco US di bidang finance dan Academy of Art University San Francisco US di bidang interior design. Evy adaiah pendiri Yayasan Second Chance yang fokus mendorong potensi warga binaan agar menjadi individu yang berkarya dan mandiri. Ketika mendampingi suaminya Pak Amir Syamsudin menjalani tugas sebagai Menteri Hukum dan HAM Kabinet indonesia Bersatu II, Evy menggagas Napi Craft yaitu pameran yang menampilkan karya-karya terbaik narapidana dari Iapas seluruh Indonesia. Napi Craft pertama kali berlangsung pada 2012 dan masih terus diselenggarakan setiap tahunnya. Bersama Second Chance, Evy juga telah menggandeng sejumlah perusahaan untuk memberikan dukungan kepada narapidana dalam bentuk pelatihan dan pembekalan keterampilan. Hingga kini di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, Evy kerap menyempatkan diri bertemu Iangsung dan berbincang dengan para warga binaan. 

Pada 2015 ia menerbitkan buku pertama berjudul Voicing the Voice/ess yang mengisahkan pengalaman, renungan dan gagasannya mengenai iembaga pemasyarakatan. Dalam menerbitkan Made in Prison (2017) Evy dibantu oleh Feby Indirani penulis sejumlah buku dan jurnalis yang pernah bekerja di berbagai media nasional seperti Kompas TV, Business Week Indonesia dan Koran Tempo. 

Pada 2015 ia menerbitkan buku pertama berjudul Voicing the Voice/ess yang mengisahkan pengalaman, renungan dan gagasannya mengenai lembaga pemasyarakatan. Dalam menerbitkan Made in Prison (2017) Evy dibantu oleh Feby lndirani penulis sejumlah buku dan jurnalis yang pernah bekerja di berbagai media nasional seperti Kompas TV, Business Week Indonesia dan Koran Tempo. 

Tentang Yayasan Second Chance 

Yayasan Second Chance adalah satu dari sedikit organisasi nirlaba mandiri di Indonesia yang memfokuskan diri untuk memajukan kehidupan warga binaan lembaga pemasyarakatan. Sebagaimana tecermin pada namanya, Second Chance ingin memberikan kesempatan kedua kepada warga binaan dengan memberikan program pelatihan dan pendampingan agar mereka dapat menjadi manusia produktif dan dapat diterima kembali oleh masyarakat. Second Chance juga merancang berbagai program yang mendorong warga binaan sehingga karya dan kreasi mereka dapat memiliki nilai ekonomis. 

Yayasan Second Chance diinisiasi Evy Amir Syamsudin seorang perempuan pengusaha yang pernah memimpin Dharma Wanita Persatuan Kemenkumham ketika mendampingi suaminya Amir Syamsudin menjabat Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Kabinet Indonesia Bersatu II 2011-2014. 
TAG