Pangsi, 'Pangeusi Numpang ka Sisi' Warisan Leluhur Yang Harus di Lestarikan



DRADIOQU.COM - Pangsi adalah salah satu pakaian khas sunda warisan nenek moyang para leluhur yang patut untuk dilestarikan. Pangsi sendiri yaitu pakaian hitam-hitam yang ukurannya lebar yang bahan dasarnya dari bahan katun. Pangsi bukan sekedar pakaian penutup tubuh saja, pangsi memiliki Filosofi terkait dengan kehidupan masyarakat tempo dulu.

Meski tak ada dokumen langsung terkait dengan Filosofi Pangsi sunda ini, namun pangsi memiliki makna yang terkandung tidak bertentangan dengan adat, budaya, dan agama di indonesia yang menjelaskan bahwa setiap bentuk dan jahitan mengandung makna yang dapat dijadikan pengingat para pemakainya agar selalu intropeksi diri.

Pangsi merupakan singkatan dari Pangeusi “Numpang ka sisi” yakni pakaian penutup badan yang acara pemakaiannya dibelitkan dengan cara menumpang seperti memakai sarung. Sebenarnya pangsi sendiri adalah nama dari celananya saja, nama bajunya adalah salontreng. Namun sekarang ini banyak orang yang menyebutkan jika pangsi adalah untuk keduanya yaitu baju dan celana.

Pangsi termasuk pakaian serbaguna, pada zaman dulu Pangsi sering digunakan oleh petani, seniman, dan bahkan pejabat dalam merayakan adat. Banyak orang yang menyebut kalau Pangsi adalah baju koko atau komprang karena warnanya hitam padahal sebenarnya desainnya sangat berbeda. Kini model Pangsi sedikit dimodifikasi namun tanpa menghilangkan arti dan filosofi Pangsi itu sendiri. 

Modifikasi tersebut pada bagian bawah kerah pakaiannya. Jika zaman dulu pangsi hanya identik dengan warna hitam semua, sekarang pangsi yang sudah dimodifikasi pada bagian depannya, yaitu pada bagian bawah kerah dan pada pergelangan tangan. Pangsi sering dipadu padankan dengan kain bermotif, seperti batik. Semoga bermanfaat,

Andy Djava.
Ketua Umum, Paguyuban Pecinta Wayang Golek Bogor Raya.
TAG