Polisi memberikan penjelasan terkait polemik aturan pengemudi menghisap rokok

DRADIOQU.COM - Polisi memberikan penjelasan terkait polemik aturan pengemudi menghisap rokok, mendengarkan radio dan menggunakan Global Positioning System (GPS) pada saat berkendara. Intinya, pengemudi tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat mengganggu konsentrasi pada saat mengendarai kendaraan.
Kakorlantas Polri Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, diciptakan salah satunya dalam rangka menjamin dan menjaga keselamatan berlalu lintas.
"Makanya banyak aturan-aturan yang harus dipatuhi dan mana yang dilarang. Salah satunya adalah yang sedang hot sekarang ini seperti penggunaan radio di motor dan di mobil, merokok, GPS," ujar Royke, Rabu (7/3).
Dikatakan, berbicara penggunaan radio, merokok dan GPS termaktub dalam Pasal 106 UU Nomor 22 Tahun 2009. "Jadi ada dua, ada yang di batang tubuh, ada yang di penjelasan. Kalau di batang tubuhnya mengatakan (mengemudi) harus penuh dengan konsentrasi. Pada penjelasan (Pasal) 106 menjelaskan yang mengganggu konsentrasi yaitu mengantuk, lelah, mabuk, menggunakan handphone," ungkapnya.
"Handphone itu apa? Telepon genggam. Jadi kalau menggenggam HP itu enggak boleh. Tapi kalau handphonenya ditaruh di dashboard, pakai handsfree, itu boleh. Atau pakai loudspeaker juga boleh," tambahnya.
Menyoal GPS, Royke menyatakan, boleh menggunakan GPS dengan catatan dipasang di tempat yang tidak mengganggu konsentrasi.
"Kemudian, dia pakai suara, cukup mengarahkan saja. Itu boleh. 'Belok kanan 200 meter lagi', itu membantu pengemudi tidak nyasar, terhindar macet. Ada beberapa aplikasi yang ditawarkan seperti Google maps, Waze, dan segala macam, bisa saja dipasang," katanya.
Ia menegaskan, yang tidak boleh itu adalah ketika mengendarai kendaraan, baik mobil atau sepeda motor, pengemudi mengotak-atik GPS di telepon genggam.
"Yang tidak boleh adalah sambil nyetir GPS diotak-atik. GPS itu disetting sebelum berangkat ke Bandung, Semarang, Surabaya, setting, start, berangkat. Kalau sambil nyetir (setting GPS) nggak boleh. Kalau mau setting ulang lagi silahkan berhenti di bahu jalan, rest area atau tempat yang aman," jelasnya.
Ia menegaskan, jadi tidak boleh main-main handphone pada saat berkendara. Apalagi ditambah sambil merokok.
"Sudah merokok dia main-main handphone lagi, nggak boleh. Di undang-undang memang nggak dilarang merokok. Tapi ketika dia hisap rokok dan (pengemudi sepeda motor) lepas tangan satu, itu yang dilarang oleh undang-undang. Naik sepeda motor tangan harus dua, stangnya sudah disiapkan dua sisi. Undang-undang lalu lintas tidak melarangnya (soal merokok), tapi undang-undang yang lain mengatur. Undang-undang kebersihan misalnya, buang puntung sembarangan ini melanggar atau buang rokok sembarangan apinya kena sebelah, melanggar KUHP," jelasnya.
Ihwal mendengarkan musik atau radio, Royke mengatakan, boleh saja. Namun, jangan terlalu keras karena bisa mengganggu konsentrasi dan itu melanggar undang-undang.
"Mau pun pakai handsfree, volume terlalu keras sehingga mengganggu pendengaran, tidak mendengar klakson kendaraan yang lain, ini juga tidak boleh. Tapi kalau sebatas dia mendengarkan radio dia secukupnya suaranya, volumenya (tidak masalah)," tandasnya.
Sementara itu, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Paggara menegaskan, penggunaan GPS pada mobil dan sepeda motor bukan merupakan pelanggaran lalu lintas. Menurutnya, dalam Pasal 283 Juncto Pasal 106 ayat 1 UU Lalu Lintas yang dilarang itu adalah kegiatan menggunakan GPS di handphone sambil berkendara sehingga mengganggu konsentrasi mengemudi.
"Jadi penggunaan handphone, pada saat menggunakan tangan mempengaruhi konsentrasi, itu yang dilarang dan juga akan membuat mengemudikan kendaraan dengan tidak wajar," katanya.
Menurutnya, pada Pasal 106 ayat 1 tertulis bahwa setiap pengemudi harus mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
"Tidak dipengaruhi oleh karena lelah, mengantuk, kemudian menggunakan handphone, kemudian video yang terpasang di kendaraan atau pun terpengaruh dengan minuman keras atau obat-obatan. Sehingga jelas bahwa penggunaan handphone itu dilarang, apalagi dengan menggunakan aplikasi," tegasnya.
TAG