Tiga gelar doktor HC sebelumnya diterima chairman Mayapada itu dari National Taiwan University

DRADIOQU.COM - Filantropi yang diberikan kepada masyarakat, dalam dan luar negeri, adalah wujud komitmen dan tanggung jawab kepada bangsa dan umat manusia. Filantropi bukanlah sedekah atau tindakan belas kasihan. Jika setiap orang sukses memiliki komitmen terhadap sesama, kesenjangan sosial akan menyempit dan wajah dunia akan lebih baik.
"Saya akan menggunakan kekayaan saya untuk membantu sesama yang terkena musibah dan kurang beruntung," kata Dato Sri Prof Dr (HC) Tahir MBA pada pidato pengukuhan gelar doktor honoris causa bidang Ilmu Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (8/3).
Acara ini dihadiri oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Pur) Moeldoko, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Mensos Idrus Marham, Chairman Lippo Group Mochtar Riady, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Agum Gumelar, Agung Laksono, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, ekonom Rizal Ramli, Cawagub Jatim Puti Soekarnoputri, Cagub Jabar Ridwan Kamil, kalangan pengusaha, dan ratusan hadirin dari berbagai kalangan.
Anugerah doktor HC dari Unair merupakan yang keempat bagi Tahir. Tiga gelar doktor HC sebelumnya diterima chairman Mayapada itu dari National Taiwan University, Universitas 17 Agustus Surabaya, dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebetulnya, kata Rektor Unair Prof Mohammad Nasih, sudah diproses sejak dua tahun lalu. Namun, rencana itu ditunda karena UGM pada 22 Januari 2016 memberikan gelar doktor HC kepada Tahir.
Dalam kata sambutannya, Prof Dian Agustia, Ketua Tim Promotor gelar doktor HC untuk Tahir, mengatakan pengusaha nasional itu sudah beberapa kali memberikan kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Airlangga. Gelar doktor HC juga sudah disetujui Kemenristek Dikti.
Rektor Unair mengapresiasi aktivitas kemanusiaan yang dilakukan Tahir. Filantropi yang diberikannya sudah menolong banyak orang dan diharapkan menginspirasi kalangan pengusaha dan semua orang yang memiliki kekayaan yang cukup agar bersedia berbagi. Jika 100 orang pengusaha memberikan filantropi, dampaknya akan besar bagi peningkatan keadilan sosial.
Tahir kini tercatat sebagai filantrop Indonesia terdepan. Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 ini tidak saja membantu sesama orang Indonesia, melainkan juga menolong para pengungsi di Timur Tengah.
Selain membantu pengungsi di Yordania, Tahir juga mengunjungi pengungsi di perbatasan Irak. Beberapa anak Irak dijadikan anak asuhnya.
"Dalam membantu, saya tidak melihat latar belakang. Cinta kepada sesama manusia menembus batas agama, suku, ras, golongan, dan bangsa," ungkap Pendiri Tahir Foundation itu.
Lahir dan hidup semasa kecil di kota Surabaya, kata Tahir, memberikan kesan dan pengaruh yang sangat kuat pada perjalanan hidupnya. Ia selalu terpanggil untuk kembali membangun daerah kelahiran. Gelar doktor HC dari kota kelahiran akan memberikan kebanggaan tersendiri.
Prestasi yang diraihnya merupakan hasil kerja keras. Tahir menjelaskan, ia terbiasa hidup disiplin. Bangun setiap pukul 05.00 pagi, membaca sedikitnya lima media massa dalam dan luar negeri, dan tidur pada pukul 23.00 setelah menonton televisi untuk mengikuti siaran berita dalam dan luar negeri.
Sejak tahun lalu, Tahir mengikuti pendidikan S3 di UGM dan diperkirakan selesai 2019. Dengan prestasi itu, ia ingin memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara serta keluarga.
"Mudah-mudahan tahun depan selesai dan dengan itu, semua jenjang pendidikan sudah saya tempuh," ungkapnya.
Berdaya Saing
Memenuhi persyaratan akademis, Tahir menyampaikan pidato pengukuhan gelar doktor HC berjudul "Menjadikan Ekonomi Indonesia Berdaya Saing Global dengan Mengelola Sumber Daya Secara Berkeadilan: Perspektif Resource-Based Theory".

Sumber daya dan kemampuan suatu negara dalam Resource-Based Theory (RBT) memiliki dua asumsi dasar. Pertama, heterogenity, yakni sumber daya (maupun kapabilitas) terdistribusi secara berbeda di antara organisasi. Kedua, immobility, yakni sumber daya (maupun kapabilitas) yang tidak bisa bertindak secara sempurna.
Kedua asumsi ini secara bersama memungkinkan perbedaan sumber daya yang dimiliki organisasi dan akan bertahan sepanjang waktu, sehingga memungkinkan keunggulan bersaing berbasis sumber daya. Tahir melihat empat aspek tangible resources Indonesia yang memiliki sifat heterogenity dan immobility, yakni sumber daya alam terbarukan, geografis, infrastruktur, dan industrialisasi agrikultur.
Keempat aspek ini dianalisis dengan menggunakan VRIN framework dari RBT. Setelah dianalisis, aspek yang memiliki nilai (valuable), langka (rare), tidak dapat ditiru secara penuh (imperfectly intangible), tidak tergantikan (non-substitutable) adalah aspek sumber daya alam terbarukan dan geografis. Kedua aspek inilah yang menjadi keunggulan Indonesia.
Indonesia memiliki banyak sumber daya alam terbarukan seperti sinar matahari, angin, air, dan panas bumi. Indonesia juga memiliki keunggulan geografis untuk membangun sumber daya alam terbarukan. Namun, membangun nfrastruktur energi terbarukan membutuhkan kucuran dana besar. RRT, misalnya, mengucurkan dana US$ 361 miliar atau sekitar Rp 4.693 triliun untuk membangun infrastruktur energi terbarukan dengan target rampung tahun 2020.
Sebagai negara kepulauan beriklim tropis dengan 17.000 pulau, luas daratan 1,9 juta km persegi dan luas laut 3,2 juta km persegi, serta memiliki kekayaan hayati yang beragam, Indonesia memiliki daya saing tinggi. Namun, daya saing Indonesia yang bersifat intangible -- yakni sumber daya manusia dan good governance atau tata kelola -- masih rendah. Indonesia berada di urutan 113 dari 188 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Malaysia berada di peringkat 59, Thailand 87, dan Singapura di urutan ke-5. Ini semua disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola.
Mengutip Bank Dunia 2016, penduduk usia produktif di Indonesia 159 juta atau 67% dari populasi. Namun, jumlah ini didominasi pekerja tidak terampil. Sekitar 56% pekerja Indonesia tergolong underqualified, 37% well matched, dan hanya 7% yang overqualified.
Tahir menyarankan agar pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan dan konsumen yang menggunakan sumber daya alam terbarukan, kebijakan fleksibel bagi sektor riil untuk mengembangkan ekonomi maritim. Pemerintah juga diimbau menambah kuantitas dan memperbaiki kualitas infrastruktur guna meningkatkan skala ekonomi masyarakat melalui investasi nasional dan internasional.
Selain itu, pemerintah disarankan mendorong perbaikan industri gula dan produk lainnya untuk mencapai swasembada pangan melalui revitalisasi infrastruktur dan kemudahan akses finansial. Pemerintah diharapkan meningkatkan pendanaan di sektor pendidikan dan memprioritaskan sistem kompensasi sesuai capaian kinerja. Pemerintah juga disarankan untuk terus menjaga stabilitas makro dan mikro ekonomi melalui perangkat perundang-undangan yang mendukung inklusivitas ekonomi.

TAG