DISKUSI"NGOPI NGERUMPI",TEMA"PEREMPUAN & POLITIK


DRADIOQU.COM - Komnas Rim bekerjasama dengan Forum 33 mengadakan diskusi"Ngopi Ngerumpi", episode yang ke 28 memperingati hari Kartini dengan tema diskusi;Perempuan & Politik.                       

Acara ini diselenggarakan di Kantor ILEW jalan Veteran 1 no.33 Gambir,Jakarta pusat,Selasa(24/4/2018),pukul 14.00-18.00wib.             

Narasumber yang hadir antara lain;Nursyahbani Katjasungkana(Kordinator Asosiasi LBH APIK Indonesia),,Dwi Septianti Djafar(Ketua Umum Kaukus Perempuan Politik Indonesia) dan Ratu Raja Arimbi Nurina (Krayon Kanoman Cirebon) dengan moderator Pipit Apriani dari Peneliti Forde & Aktivis Komnas Rim)

Mendorong kaum perempuan dalam kancah politik atau sebagai kandidat penting dalam legislatif.Gerakkan perempuan di Indonesia cukup maju walau mendapatkan diskriminasi dari kaum lelaki yang merasa peranan mereka banyak didominasi kaum perempuan;ujar Pipit Apriani sebagai moderator.

Pernyataan Dwi Septianti Djafar dari ketua umum Kaukus perempuan politik Indonesia;diperlukan education perempuan dalam kancah politik dan kandidat legislatif dalam peranan kaum perempuan,masyarakat terhadap program dan ide gagasan memberikan kemaslahatan agar bisa memenuhi koata 30% karena hal ini koata perempuan baru dibawah 20% menduduki anggota DPR dan DPRD.Kita masih gagal dalam kancah legislatif ,era saat ini saling bekerjasama dan berkolaborasi dalam hal perempuan berpolitik dan mendorong kaum perempuan dalam kancah pemilu 2019 agar mencapai min.25% koata kaum perempuan dalam legislatif.

Pendapat Ratu Raja Arimbi Nurina dari Krayon Kanoman Cirebon;dari Kesultanan Cirebon menurut beliau politik tidak asing untuk menata daerah dan keraton hampir dominan kaum perempuan dalam perannya berpolitik sehingga bisa menyimbang dengan kaum lelaki,Ratu sendiri belum bisa berperan aktif dalam kancah politik karena kesibukan dalam kekratonan Cirebon.Masyakat adat lebih menjambanin kekratonan dibanding pihak kekratonan terhadap masyarakat konteks belum ada kerjasama yang baik dalam kancah pemilihan kandidat legislatif.


Chairulnisa perwakilan dari PERLUDEM,perempuan boleh dinomor urut dalam pecaleqkan ,pembahasan dalam kaum pemilihan bertambah dalam penambahan 15 kursi,Pansus anggota perempuannya hanya 4 orang,mau mencalonkan kaum perempuan dalam pemilihan kandidat legislatif dalam UU sendiri belum mendapat kemajuan yang berarti dalam Pilkada pun calon kepalal daerah yang mendapat dukungannya hanya 30% peranan kaum perempuan.

Pendapat pribadi Nursyahbani Katjasungkana sebagai kordinator Asosiasi LBH APIK Indonesia;peranan perempuan dalam edukatif,yudikatif dan legislatif dalam peranan kaum perempuan hak berpolitik dilindungi dalam UU.Kaum perempuan dalam kancah berpolitik tidak ada masalah walau ada hambatan budaya dan kultur soal peranan kaum perempuan dalam koncah politik.sejak tahun 1965 gerakkan kaum perempuan mendapat penghancuran karena kultur dan budaya,menarik perempuan keranah politik dan domestik ,bahwa peranan perempuan harus selaras dalam perkawinan dan domestik dalam peran ganda untuk berkecimpung dalam politik.Pentingnya penambahan peranan perempuan dalam subtansinya dalam politik yang mayoritas berperan ganda sebagai pekerja,ibu rumahtangga dan politik.

 Sepakat yang disampaikan narasumber Nursyahbani,bahwa ada problem -problem domestik sejak dulu soal pergerakkan kaum perempuan yang penindasan dari kaum lelaki soal pembagian kerja yang tidak adil,kenyataan dalam suara politik dipartai-partai hanya sebagai pelengkap kenapa tidak ada education soal peranan pemilihan koata 30% secara subtansial tidak ada peranan posisi strategis yang penting dalam kancah politik hanya sebagai pelengkap jadi tidak bisa tampil sebagai mengkritisi soal kekuasaan,bagaimana soal regulasi soal UU dalam kancah politik tidak bisa tampil mengambil posisi yang trategis dalam bidang legislatif,yudikatif dan sebagainya.Peranan negara soal kaum perempuan yang belum cermat untuk mengatasnamakan hak-hak kaum perempuan yang lebih mendapatkan penindasan terutama dalam rangka kerja domestik,perusahaan masih berkepentingan dengan kerja kaum perempuan misalnya buruh migran yang mendapat penindasan yang belum bisa diadvokasi,kaum lelaki sendiri meligitimasi soal peranan perempuan dalam rumahtangga dalam dan domestik yang harusnya bisa berbagi tugas karena peranan perempuan sangat mendominasi pendapat Effendi Saman Ketua umum Komnas Rim.(Ine)
Attachments area
TAG