Penelitian ahli seismologi Tiongkok mengungkap rahasia di balik pernyataan Pemimpin Korea Utara

DRADIOQU.COM - Penelitian ahli seismologi Tiongkok mengungkap rahasia di balik pernyataan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk menghentikan uji coba nuklirnya.
Ternyata, situs uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara telah runtuh setelah ledakan bom besar-besaran tahun lalu. Mereka menyimpulkan bahwa situs itu tidak dapat digunakan lagi.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pekan lalu, menyatakan rejimnya menghentikan uji coba nuklir dan menutup situs nuklirnya di Punggye-ri di bawah Gunung Mantap.
Tawaran itu datang beberapa hari sebelum pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, yang dijadwalkan akan diikuti oleh pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump pada Jumat ini.
Korea Utara melakukan lima dari enam uji coba nuklirnya di lokasi, dengan ledakan terbesar pada 3 September lalu. Akibatnya memicu gempa berkekuatan 6,3 skala Richter yang dirasakan di seberang perbatasan utara dengan China.
Setelah itu, muncullah spekulasi bahwa tanah longsor dan gempa bumi setelah ledakan menyebabkan situs itu menderita "sindrom gunung yang lelah".
Dua penelitian yang melibatkan ahli Cina menemukan bahwa gempa susulan berkekuatan 4,1 yang terjadi 8 1/2 menit setelah gempa pertama menyebabkan runtuhnya batu di dalam gunung.
"Penting untuk terus memantau kemungkinan kebocoran bahan radioaktif yang disebabkan oleh insiden itu,” kata ahli dari Universitas Sains dan Teknologi China dalam ringkasan satu studi yang dipajang di situsnya.
Dikatakan penelitian ini akan dipublikasikan dalam Geophysicial Research Letters, sebuah jurnal dari American Geophysical Union.
Disimpulkan: "Peristiwa runtuhnya infrastruktur di bawah gunung Mantap tidak akan digunakan untuk uji coba nuklir di masa depan."
Garis tentang situs yang tidak dapat digunakan tidak muncul dalam ringkasan berbahasa Mandarin dan tidak jelas apakah itu akan dimasukkan dalam jurnal.
Salah satu penulis studi, Lianxing Wen dari Universitas Stony Brook di New York, tidak menanggapi pertanyaan yang dikirim melalui email.
Studi kedua yang dipimpin oleh ilmuwan Cina, termasuk para ahli dari Administrasi Gempa China, juga menyimpulkan bahwa gempa susulan September telah menyebabkan keruntuhan.
"Gempa susulan itu bukan ledakan sekunder yang dipicu gempa tektonik," kata studi kedua, yang diterbitkan bulan lalu, juga di Geophysicial Research Letters.
"Itu terjadi karena proses yang sebanding dengan 'gambar cermin' dari ledakan, yaitu runtuhnya batu, atau pemadatan, untuk pertama kalinya didokumentasikan di tempat uji Korea Utara," katanya.
Studi kedua, bagaimanapun, tidak menentukan apakah situs itu tidak dapat digunakan atau radiasi bocor.
"Model seismik, seperti dalam makalah ini, hanya memberikan pemahaman parsial dari ledakan bawah tanah," katanya. Ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat kebocoran radioaktif atau kemungkinan pencemaran air tanah.
Kedua studi mencapai kesimpulan mereka dengan melihat data dari stasiun pemantauan seismik.
Cina telah menyebarkan stasiun pemantauan radiasi di sepanjang perbatasannya dengan Korea Utara.

TAG