Diam-diam, militer Indonesia sedang melakukan penguatan kapasitas di semua matra

DRADIOQU.COM - Diam-diam, militer Indonesia sedang melakukan penguatan kapasitas di semua matra.
Dua hari lalu, TNI Angkatan Darat menerima delapan helikopter serbu AH-64E Apache buatan Boeing, Amerika Serikat. Kemarin, satu kapal selam buatan Korea Selatan yang diberi nama KRI Ardadedali-404 tiba di dermaga Surabaya dan resmi memperkuat Angkatan Laut. Pada 1 Maret, kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa TNI Angkatan Udara berminat membeli 10 jet tempur multi-peran Sukhoi-35 untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah uzur dan bertugas sejak 1980.
Boeing, yang menandatangani kontrak produksi Apache untuk Indonesia pada 2015 atau di era Presiden Joko Widodo, rupanya mencium peluang besar dan dengan caranya sendiri mencoba merayu pemerintah untuk menambah armadanya.
"Boeing mengucapkan selamat kepada TNI AD atas diterimanya delapan AH-64 Apache dan merasa terhormat bisa mendukung banyak misinya. AH64 Apache adalah helikopter multi-peran paling canggih di dunia yang dioperasikan AD Amerika dan militer-militer negara lain," bunyi cuitan Boeing di akun Twitter.
congratulates @tni_ad on its eight AH-64 Apaches and is honored to support its many missions. The is the world’s most advanced multi-role helicopter operated by the U.S. Army & international forces. http://www.boeing.com/global/boeing-southeast-asia/indonesia/index.page#/defense 
Lalu di situsnya Boeing secara tersirat membujuk pemerintah untuk makin meningkatkan pertahanan udara dan daya jelajah menggunakan produk-produknya.
"Kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian maritim menjadi makin penting di kawasan ini dan kami melihat peluang untuk menghadirkan kemampuan itu di Indonesia," tulis Boeing di situs resminya.
"Solusi dari kami mencakup kemampuan pengintaian maritim dengan pesawat Airborne Early Warning & Control (AEW&C) dan P-8, dan kami juga memandang perlunya CH-47 Chinook untuk tugas-tugas bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, misi pencarian dan penyelamatan, dan mobilitas secara umum ke pulau-pulau terpencil dan wilayah samudera di kawasan ini. Terakhir, dengan dibutuhkannya operasi jarak jauh dan kewaspadaan situasi, kami juga melihat peluang untuk pesawat tanker KC-46 dan AEW&C."
Chinook adalah heli angkut dengan mesin dan rotor ganda depan belakang dengan kemampuan angkut luar biasa sehingga bisa dipakai untuk misi kemanusiaan dan militer.
Pesawat ini bisa mengangkut berbagai kargo mulai dari bantuan kemanusiaan, senjata artileri berat, sampai jeep Humvee. Bahkan bisa juga difungsikan sebagai pesawat pemadam kebakaran hutan.
Pada Februari 2016, situs media penerbangan AIN Onlinememberitakan bahwa Indonesia ingin membeli Chinook, mengutip pernyataan seorang pejabat Boeing.
“Mereka telah meminta pemerintah AS untuk memberikan surat penawaran, dan saya bertemu mereka di sini,” kata Jeff Kohler, wakil presiden penjualan global Boeing Defense, Space & Security di sela Pameran Dirgantara Singapura dua tahun lalu.
Jumlah unitnya belum disepakati, namun diperkirakan empat sampai delapan Chinook.
Untuk negara martitim seperti Indonesia, pesawat P-8 Poseidon juga tak kalah pentingnya. Pesawat ini bisa membantu mendeteksi posisi lawan, dan bisa digunakan untuk misi anti-kapal selam dan anti-serangan darat. P-8 juga bisa membawa torpedo dan senjata Harpoon anti-kapal.
Sementara itu pesawat AEW&C adalah sistem radar yang dirancang untuk mendeteksi pesawat, kapal, dan kendaraan lawan jarak jauh, lalu berfungsi sebagai pusat komando di udara untuk mengarahkan pesawat tempur sendiri dan serangan udara yang dilakukan.
Ketika digunakan di ketinggian, radar dalam pesawat itu bisa mendeteksi target dan membedakan antara pesawat sendiri dengan pesawat musuh dalam jarak yang lebih jauh dibandingkan radar darat biasa. Radar terbang ini juga bisa dideteksi lawan, tetapi karena mobilitasnya yang tinggi maka dia bisa menghindar dan lebih aman dari serangan dibandingkan radar di darat.
Meskipun kehadiran pesawat militer Boeing di Indonesia masih sangat kecil, namun secara komersial perusahaan itu sudah bermitra dengan Indonesia sejak 1949 ketika Garuda mengoperasikan pesawat Douglas DC-3. Sampai saat ini, Garuda telah memesan lebih dari 150 pesawat Boeing.
Kisah manis Boeing di Indonesia berlanjut dengan kehadiran Lion Air. Maskapai swasta itu mendapat kehormatan sebagai operator pertama di dunia yang mengoperasikan pesawat Boeing 737-900ER dan 737 MAX 9.
Pada Pameran Dirgantara Singapura 2012, Boeing dan Lion Air menuntaskan perjanjian jual beli 230 pesawat tipe 737 senilai US$ 22,4 miliar yang memcahkan rekor pembelian dalam sejarah Boeing baik dari nilai uang dan jumlah unitnya.
Selain Garuda dan Lion, masih ada Sriwijaya Air yang seluruh armadanya memakai pesawat Boeing.


TAG