Jenazah Anton Ferdiantono dan anak istrinya diduga kuat pemilik bom rakitan yang meledak

DRADIOQU.COM  - Jenazah Anton Ferdiantono dan anak istrinya diduga kuat pemilik bom rakitan yang meledak di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, akhir pekan lalu akhirnya dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Kelurahan Pucang yang selama ini khusus diperuntukkan jenazah tak dikenal, Jumat (18/5).
Anton (47), istrinya Sari Puspitarini alias Puspitasari (43), dan putri mereka Hilya Aulia (17), warga Rusunawa Lantai V Blok B/2 Wonocolo, Taman, Sepanjang, tewas Minggu (13/5) malam akibat bom yang meledak sendiri di hunian mereka. Diduga mereka juga merencanakan serangan bom bunuh diri satu keluarga seperti yang terjadi di tiga gereja di Surabaya pagi harinya.
Tiga jenazah itu dikubur di pemakaman milik Dinas Sosial (Dinsos) setempat. Kedatangan jenazah dikawal mobil rantis (kendaraan taktis) Brimob Polda Jatim, dan prosesinya tidak diikuti kerabat maupun keluarganya. Namun demikian, prosesi pemakaman tiga jenazah itu dilakukan secara Islam.
“Benar, ketiga jenazah teroris itu adalah satu keluarga yang terdiri ayah, istri dan anak, tewas terkena ledakan bomnya sendiri di rumahnya di Rusunawa, Wonocolo, Taman. Makam mereka berada di sisi barat makam Kelurahan Pucang itu karena memang khusus untuk jenazah yang selama ini tidak diketahui identitasnya,” ujar Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Dinsos Sidoarjo, Wiyono.
Menurut dia, pihaknya langsung menggali tiga lubang makam sesuai permintaan Polda Jatim via Polresta Sidoarjo.
Ditemui terpisah, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan bahwa sampai Jumat tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim baru menyelesaikan identifikasi pada tiga jenazah pelaku bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.
Masih ada 10 jenazah terduga teroris lainnya di Surabaya yang sebenarnya siap diambil keluarganya, tetapi terpaksa ditunda. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah berkirim surat meminta fatwa dari Majelis Ulama Islam (MUI) karena ada penolakan pemakaman mereka di Kota Surabaya oleh mayoritas masyarakat sekitar TPU.
Frans menjelaskan adanya kendala identifikasi jika belum ada pembandingnya lewat pemeriksaan DNA anggota keluarga.
“Kita upayakan semua jenazah yang tersisa itu dapat dituntaskan pemeriksaan (identitasnya), yang kita harapkan rampung paling lambat Sabtu (19/5),” ujarnya.
Dia mencontohkan ada pelaku yang mengenakan bom ikat pinggang sehingga tubuhnya hancur dan sulit dikenali.
“Yang begini ini harus dikumpulkan secara benar, sebelum diserahkan kepada ahli waris atau keluarganya,” tandas Frans Barung.
Diakuinya, semula jenazah para pelaku bom bunuh diri itu disimpan di RS Bhayangkara, Polda Jatim, dengan harapan segera diambil keluarganya untuk dimakamkan di tempat pemakaman yang diinginkan.
Namun warga menolak dengan alasan tempat pemakaman umum itu diperuntukkan bagi mereka yang meninggal secara wajar dan mereka tidak mau daerahnya dicap sebagai tempat teroris.

TAG