Memasuki bulan Ramadhan bagi warga masyarakat berbagai desa di Kabupaten Merangin bukan sekadar melaksanakan ibadah berpuasa

DRADIOQU.COM  - Memasuki bulan Ramadhan bagi warga masyarakat berbagai desa di Kabupaten Merangin bukan sekadar melaksanakan ibadah berpuasa. Bulan Ramadan bagi warga masyarakat daerah itu juga bermakna penting meningkatkan kebersamaan, silaturahmi dan solidaritas sosial.
Salah satu cara yang dilakukan umat Muslim di Kabupaten Merangin untuk menjalin kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi memasuki bulan suci Ramadan, yaitu tradisi Bantai Adat. Tradisi bantai adat ditandai dengan pemotongan ternak kerbau dalam jumlah banyak beberapa hari menjelang puasa.
Jumlah kerbau yang dipotong dalam perhelatan Bantai Adat tersebut di beberapa desa di Kabupaten Merangin bisa mencapai ratusan ekor. Daging kerbau yang dipotong dijual kepada warga dengan harga relatif murah. Seluruh warga desa umumnya mendapatkan daging kerbau, termasuk keluarga kurang mampu.
Irwansyah (50), warga Desa Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin pada acara Bantai Adat di desanya, Selasa (15/5) atau dua hari menjelang bulan Ramadan 1439 Hijriyah, menjelaskan, tradisi Bantai Adat di desa tersebut selalu ditunggu warga desa.
Bahkan, lanjut Irwansyah, para perantau pun banyak yang pulang kampung hanya untuk mengikuti tradisi bantai adat tersebut. Jumlah kerbau yang dipotong pada acara Bantai Adat di desa itu tahun ini sebanyak 30 ekor.
Menurut Irwansyah, tradisi Bantai adat ini sangat penting bagi warga desa Perentak, karena pada kesempatan tersebut terjalin kebersamaan, silaturahmi dan solidaritas segenap lapisan masyarakat desa. Para saudagar membeli kerbau dalam jumlah banyak.
Daging kerbau yang dipotong pada tradisi Bantai Adat tersebut, lanjut Irwansyah, dijual di bawah harga pasar kepada warga. Kemudian ada juga warga yang membeli kerbau secara berkelompok. Mereka memotong dan menjual daging kerbau secara serentak pada acara Bantai Adat.
Dikatakan, pada acara Bantai Adat di Desa Perentak menjelang Ramadan tahun ini, harga daging kerbau dijual paling tinggi Rp 75.000/kg. Sedangkan harga daging kerbau di pasar mencapai Rp 120.000/kg. Jadi seluruh warga desa mampu membeli daging kerbau pada tradisi Bantai Adat.
“Karena harga daging kerbau relatif murah dan ikut tradisi Bantai Adat dirasakan penting, maka warga desa mengutamakan membeli daging kerbau saat acara Bantai Adat ketimbang membeli baju baru saat lebaran. Jadi warga lebih mengutamakan ikut berpartisipasi pada acara Bantai Adat daripada adu gengsi kemewahan pakaian pada perayaan Lebaran,” katanya.
Tetap Lestari
Hal senada juga dikatakan tokoh masyarakat Desa Rantaupanjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Muhammad Fuad. Ritual Bantai Adat yang digelar setiap tahun menjelang Ramadan merupakan tradisi warisan nenek moyang yang hingga kini masih lestari.
“Tradisi leluhur ini tetap lestari karena memiliki nilai-nilai sosial dan religius yang bisa dijadikan bekal iman selama menunaikan ibadah Puasa. Melalui tradisi Bantai Adat ini, warga meningkatkan semangat gotong – royong, saling menolong sebagai perwujudan makna berpuasa,”katanya.
Muhammad Fuad mengatakan, kendala yang sering dialami melaksanakan tradisi Bantai Adat, yakni kesulitan pengadaan kerbau. Terbatasnya jumlah ternak kerbau di setiap desa terpaksa diatasi dengan membeli kerbau dari daerah lain, termasuk dari luar Jambi.
Pembelian kerbau dari liar daerah terpaksa dilakukan karena pada tradisi Bantai Adat harus kerbau yang dipotong, bukan sapi atau kambing. Sementara populasi kerbau di setiap desa cenderung berkurang karena dipotong untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, Idul Adha dan Idul Fitri.
Bekal Ramadan
Sementara itu Bupati Merangin, Al Haris mengakui, belakangan ini warga berbagai desa di Merangin yang melaksanakan tradisi Bantai Adat terpaksa mendatangkan kerbau dari kabupaten tetangga dan luar daerah. Pengadaan kerbau tersebut sebagian dibantu pemerintah setempat.
“Salah satu solusi yang kami lakukan mengatasi kekurangan ternak kerbau untuk keperluan pelaksanaan tradisi Bantai Adat di tahun mendatang, yakni meningkatkan peternakan kerbau di seluruh desa di Merangin. Kami sudah menginventarisir desa-desa potensial untuk pengembangan ternak kerbau,”katanya.
Menurut Al Haris, tradisi Bantai Adat di Kabupaten Merangin perlu dilestarikan karena tradisi tersebut menjadi salah satu wadah perekat kebersamaan warga. Ketika tradisi Bantai Adat digelar, seluruh warga masyarakat menyatu dalam kebersamaan tanpa membeda-bedakan kelas sosial.
Pada acara tradisi Bantai Adat tersebut, lanjut Al Haris, tidak sedikit warga yang ekonominya mampu mampu memebil daging kerbau cukup banyak lalu membagikannya kepada warga kurang mampu. Daging kerbau tersebut menjadi bekal selama melaksanakan bulan Ramadan.
“Semangat kebersamaan dan solidaritas tersebut sangat penting bagi warga memasuki bulan Ramadan. Dengan demikian bulan Ramadan dapat dijalani warga dengan sikap saling menolong dan peduli,” katanya.
Al Haris juga memberikan apresiasi terhadap tradisi Bantai Adat di desa-desa di Kabupaten Merangin karena tradisi tersebut member banyak manfaat bagi warga. Selain menjadi ajang silaturahmi dan solidaritras sosial, momen Bantai Adat juga memberikan kegembiraan bagi masyarakat menyambut Ramadan dan hari raya Idul Fitri.
“Selain itu, tradisi Bantai Adat di Merangin juga bisa mengendalikan lonjakan harga daging di pasaran selama Ramadan hingga Idul Fitri. Dengan demikian seluruh warga desa bisa menikmati sajian rendang daging sapi selama Ramadan hingga Idul Fitri,” katanya.
Mengenai putusnya jembatan gantung ketika pelaksanaan Bantai Adat di Desa Bari, Kecamatan Tabir, Merangin baru-baru ini, Al Haris mengatakan cukup prihatin. Putusnya jembatan gantung yang membuat belasan warga tercebur ke sungai disebabkan kurangnya pengawasan panitia.
“Panitia kurang mengawasi banyaknya warga yang menghadiri Bantai Adat berada di jembatan gantung. Akhirnya jembatan gantung putus. Belasan warga pun terpaksa dirawat. Saya harapkan di masa mendatang, kejadian seperti itu tidak terulang lagi,” ujarnya. 



TAG