Rangkaian serangan bom bunuh diri di Surabaya dan insiden senjata makan tuan


DRADIOQU.COM - Rangkaian serangan bom bunuh diri di Surabaya dan insiden senjata makan tuan saat bom meledak di Sidoarjo mengubah seketika wajah ancaman teror di Indonesia. Sejumlah fakta baru muncul dalam rangkaian teror itu.
Salah satu fakta terbaru dalam teror yang sedikitnya menewaskan 25 orang — termasuk pelaku itu — adalah terlibatnya anggota keluarga inti dalam serangan teror bom bunuh diri. Hal ini tidak pernah terjadi dalam teror di masa lalu.
Dan bukan satu keluarga, melainkan tiga keluarga yang terlibat dalam teror di Surabaya dan Sidoarjo, mulai ayah, ibu, dan anak-anak.
Pada Minggu, pengeboman tiga gereja di Surabaya dilakukan Dita Oepriarto (suami), Puji Kuswati (istri), serta empat anaknya, yakni YF, FH, FS, dan FR. Dita diketahui sebagai Ketua Jamaah Ansharu Daulah (JAD) Surabaya.
Insiden senjata makan tuan terjadi di Rusun Wonocolo, Taman, Sidoarjo, juga melibatkan satu keluarga. Ceritanya satu bom yang dikuasai Anton Febrianto (47) meledak tanpa sengaja. Polisi pun datang dan mendapati Anton masih memegang saklar bom. Anton pun kemudian ditembak mati.
Bom rakitan yang meledak itu lebih dulu menewaskan istri Anton bernama Puspita Sari serta anak pertamanya, LAR (17). Sedangkan tiga anak Anton lainnya luka-luka, yakni AR, FP, dan GHA. Anton diketahui adalah sahabat Dita.
Terakhir, teror bom di Mapolrestabes Surabaya juga dilakukan satu keluarga yang menggunakan dua motor. Mereka adalah ayah (Tri Murtiono) dan istrinya Tri Ernawati. Lalu dua anak lelakinya MDS dan MDAM. Keempatnya meninggal.
Satu anak perempuan berinisial AAP, yang dibonceng di bagian depan terpelanting saat bom meledak. Dia selamat dan kini dirawat di UGD RS Bhayangkara.
Soal keluarga dan anak-anak terlibat bom bunuh diri disebutkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai fenomena baru. Namun, pelaku bom bunuh diri perempuan pernah terjadi sebelumnya meskipun pelaku tidak sempat menjalankan niat jahatnya.
“Maksudnya sebenarnya wanita (jadi pelaku bom bunuh diri) bukan yang pertama, tetapi ini (pertama) yang berhasil," kata Tito dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5).
Pada 2017, Polri memang berhasil menghentikan dan mencegah serangan bom bunuh diri dari seorang perempuan bernama Novi di Bekasi. Saat itu, Novi berencana menyerang Istana di Jakarta.
Namun fakta bahwa pelaku melibatkan anak-anak di bawah umur adalah fakta paling tragis yang menjadi sejarah kelam bangsa ini. Tak cuma Tito, Presiden Joko Widodo sampai kehabisan kata-kata menggambarkan kebiadaban para pelaku teror yang tega mengajak anak-anak mereka sendiri.
Seluruh komponen masyarakat tercengang dan seperti tak percaya dengan peristiwa di Surabaya dan Sidoarjo itu.
Pelaku bom anak-anak juga bukan hal baru, namun biasanya terjadi di daerah konflik seperti Suriah atau Irak, dan biasanya mereka bertindak atas perintah atau diperalat orang lain, bukan ayah ibunya sendiri. 
Dua Hari Penuh Ledakan
Hal baru lainnya dalam rangkaian teror yang muncul dalam kasus bom di Surabaya adalah soal rentetan serangan bom bunuh diri yang terjadi beruntun selama dua hari, Minggu dan Senin.

Di masa lalu memang ada rangkaian serangan teror berantai namun biasanya pada hari dan jam yang sama.
Misalnya bom Bali 12 Oktober 2002 di mana dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat di Pulau Dewata.
Lalu bom Bali 1 Oktober 2005 di satu lokasi di Kuta dan dua lokasi di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.
Begitu pula serangan pada 17 Juli 2009 yang terjadi di hotel JW Marriott bersamaan dengan serangan di Hotel Ritz-Carlton. Semua serangan di atas terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dan hari yang sama.
Pengamat dan penulis terorisme Solahudin ikut menggarisbawahi munculnya fenomena baru dalam serangan teroris di Indonesia, berkaca pada kasus di Surabaya dan Sidoarjo.
“Ada tiga alasan bagi saya mengapa mereka melibatkan anak dan istri. Pertama security, mereka ingin langkahnya tidak mencolok dan sulit dipantau aparat maka anak-anak dilibatkan. Lalu juga soal magnitudedan news value, mereka sadar jika anak dan istri dilibatkan, itu akan menarik media dan akan meneruskan teror itu di media. Kalau lelaki dewasa kan sudah biasa,” katanya.
Hal lain yang bahaya adalah adanya semacam pesan yang sangat provokatif bagi sel-sel teroris lainnya.
”Pesannya mungkin anak kecil saja berani bunuh diri, masa yang dewasa tak berani,” kata Solahudin.
Momentum dari Rutan Brimob
Solahudin menilai para teroris JAD mendapatkan momentum untuk melakukan serangan terkoordinasi di Surabaya pasca-rusuh di Rutan Brimob.

“Memang momentum rusuh Mako Brimob itu menggairahkan mereka. Tapi ada atau tidak ada rusuh, mereka pasti akan menyerang karena persiapan ini kan pasti panjang. Ada yang bikin bom dan membuat rencana,” kata Solahudin.
Bisa jadi kasus di Brimob membuat mereka mempercepat amaliah dengan melakukan serangan terkoordinasi saat ini, karena sebenarnya di bulan Rajab seperti sekarang ada larangan untuk berjihad.
Dalam Alquran disebutkan bila bulan Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, dan Al-Muharram dinamakan bulan Haram karena kemuliaannya yang lebih dan larangan melakukan perang.
“Saya perkirakan mereka akan amaliah di Ramadan tapi mereka percepat mungkin karena rusuh Brimob,” sambungnya.
Mantan narapidana terorisme Iqbal alias Rambo punya analisis yang berbeda. Dia menduga jika serangan di Surabaya terpicu atas rasa “terhina” buntut penanganan 155 napi teroris di Rutan Mako Brimob oleh aparat.
Persepsi tentang hinaan itu adalah tudingan miring jika mereka hanya sekelas teroris “kelas nasi bungkus”-- karena mau bernegoisasi menyerahkan sandera Bripka Iwan dengan nasi -- dan juga karena mereka menyerah tak melawan dan seperti teroris kelas “amatiran”.
“Ini bisa jadi membangkitkan semangat perlawanan jaringannya di luar, yang juga sama-sama JAD, untuk unjuk gigi. Menunjukkan eksistensi jika JAD ada dan berani,” sambungnya.
Balas Dendam dan Fatwa ISIS
Sedangkan menurut Tito rentetan serangan di Surabaya adalah pembalasan dendam atas belum dibebaskannya dua orang pimpinan JAD yakni Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori.

Aman ditangkap kembali karena terlibat kasus perencanaan pendanaan kasus Bom Thamrin pada 2016.
Dia sebelumnya diproses dalam kasus pendanaan bagi militer bersenjata di Aceh dan seharusnya sudah bebas beberapa bulan lalu.
Sedangkan Zainal divonis bersalah terkait pendanaan dan memasukkan senjata api dari Filipina ke Indonesia. Proses hukum keduanya membuat JAD Jawa Timur memanas dan mereka ingin melakukan pembalasan, kataTito.
Bagi Tito, kerusuhan di Mako Brimob juga bukan sekadar dipicu karena salah paham soal makanan, tapi ada kaitannya dengan balas dendam dalam proses hukum para pimpinan JAD itu.
Jika ditarik ke yang lebih luas, kata Tito, rangkaian serangan ini juga ada kaitannya dengan posisi kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang terdesak di Suriah dan memerintahkan agar sel-sel teroris di seluruh dunia untuk bergerak.
“Selain serangan di Surabaya juga ada serangan di Paris, hari Minggu kemarin, satu pelaku pakai pisau, satu tewas empat luka, pelaku tembak mati polisi di Paris," kata dia.

TAG