Serda Andri Yanto, Jawara Binaraga TNI AD


DRADIOQU.COM - Makna kepahlawanan tidaklah selamanya diartikan dengan mengangkat senjata serta menumpas segala bentuk kolonial penjajah demi mempertahankan keutuhan bangsa. Di zaman sekarang arti kepahlawanan lebih menarik jika dituangkan melalui ajang prestasi yang mengatasnamakan suatu institusi, wilayah ataupun negara, salah satunya dengan persaingan olahraga.  Begitu halnya dengan binaraga, citra binaraga terdahulu tak kalah menariknya dengan semangat para pejuang kemerdekaan. Tujuannya sama, membela serta mengharumkan bangsa dan negara ini di mata dunia.


Bila dunia mengenal atlet binaraga legendaris seperti Arnold Schwarzenegger, Shawn Ray, Lee Haney, dan Dorian Yates, maka Indonesia pun tak mau kalah ketinggalan dengan bodybuilder dunia lainnya.

Putra Indonesia yang pernah mengharumkan nama bangsa melalui ajang pertandingan binaraga diantaranya adalah Levi Rumbewas yang memperoleh medali emas pada Asean Games tahun 1987 dan 1989. Berikutnya adalah Zarmi Bachtiar, menyabet medali emas di tingkat ASEAN mulai tahun 1983, 1984, dan 1985. Kemudian  Asrelawandi yang senantiasa menoreh prestasi dengan peraihan medali emas diperhelatan olahraga bertaraf dunia maupun Asia, dan telah mengumpulkan 6 medali emas selama PON. Selanjutnya Wempi Wungau yang telah memboyong pulang beberapa medali emas pada Sea Games tahun 1989 hingga tahun 1997.

Yang tak kalah tenar dan rasanya tak asing bagi kita, dialah I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai atau Ade Rai, yang pernah meraih medali emas SEA Games 1997, juara 1 IFBB Indonesian National Championship, ABBF/IBBF Mr.Asia 1995 & 1998, Mr. ASEAN 1995, juara 1 Muscle Mania World 1996 & 2000, overall winner Superbody World Profesional tahun 2000.

Pasca berlalunya era para binaragawan yang telah terlebih dahulu berkiprah mengharumkan nama bangsa di kancah nasional maupun internasional, kini hadir sosok binaragawan muda yang terlahir dari kawah Chandradimuka TNI AD.

Meski prestasinya belum setenar para pendahulunya, namun hingga saat ini binaragawan muda yang memiliki hobi pencak silat tersebut terus berupaya merangkai untaian medali, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Serda Andrianto, demikian namanya. Prajurit Kodim 0103/Aceh Utara ini merupakan seorang putra desa di pelosok Madiun, Jawa Timur yang sangat mencintai keluarga, hormat kepada orang tua dan taat terhadap perintah agama. Putra dari pasangan ayah bernama Bapak Harjo Suwito (65) dan Ibu Supriyatun (59), sedari kecil rajin membantu  orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh tani pada sebidang lahan garapan yang tidak terlalu luas milik tetangganya. Sejak usia sekolah, setiap hari dengan bekal seadanya Andri menapaki jalan yang terkadang terik terkadang hujan untuk menuntut ilmu demi meraih masa depannya. Dibesarkan dengan serba keterbatasan, lambat laun Andri pun tumbuh dewasa dan semakin bijak dalam menyikapi hidup. Ketika beranjak dewasa, ia mulai dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang ringan tangan dan mudah bergaul.

Setamat STM pada tahun 1998 Andri, panggilan akrabnya, memperoleh kesempatan mendaftarkan diri menjadi calon tamtama TNI AD di Koramil Madiun.

Setelah dinyatakan lolos seleksi dan berlanjut hingga mengikuti pendidikan militer selama 8 bulan di Rindam V/Brawijaya, Andri yang telah dilantik dengan pangkat Prajurit Dua, dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Tamtama di Batalyon 527/ Lumajang. Belum terlalu lama bergabung dengan satuan barunya, sekitar tahun 2000 Batalyonnya berangkat ke Ambon untuk melaksanakan operasi pemulihan keamanan.

Inilah awal Andri berlatih mengangkat beban yang terbuat dari kaleng yang diisi cor-coran semen, dalam rangka mengisi waktu luang sambil terus mengamati perkembangan keamanan lingkungan tugasnya. Sekembali dari tugas di Ambon, Andri berlatih fitnes secara rutin di lingkungan markasnya di Lumajang.

Pada tahun 2002 hingga 2003, Andri beserta satuannya tergabung dalam Satgas Rajawali melaksanakan operasi di Aceh Timur dan Utara. Di tempat tugas inipun Andri mengisi waktu luangnya dengan berlatih olah beban yang terbuat dari cor-coran semen dalam kaleng cat bekas. Hanya kali ini aktifitasnya bertambah karena ada beban yang lebih menyita perhatian dibandingkan dengan sekedar cor-coran semen.  Ternyata seorang gadis asli Lhokseumawe bernama Fitrihati telah mencuri hati Andrianto yang memang berperawakan gagah. Bagai gayung bersambut, komunikasi intensif keduanyapun terjalin seiring dengan berjalannya operasi keamanan di Aceh.

Dua tahun bertugas di Aceh akhirnya Andrianto beserta satuannya kembali ke pangkalan di Lumajang Jawa Timur dengan meninggalkan kesan mendalam. Karena situasi keamanan di Aceh saat itu belum kondusif, lebih kurang 4 bulan kemudian Andri menikahi kekasihnya Fitrihati di Madiun. Setelah pangkatnya menjadi Praka, dan telah dikaruniai dua putri yang cantik, Andri mengajukan pindah satuan ke Korem 011/Lilawangsa Aceh Utara, untuk selanjutnya ditempatkan di Kodim 0103/ Aceh Utara.

Selama bermukim di Lhokseumawe, aktifitas angkat beban terus dilakukan secara teratur. Pimpinan TNI AD memberi kepercayaan penuh kepadanya untuk serius berlatih binaraga. Bentuk tubuh yang diharapkanpun sudah semakin nampak, sehingga ia mulai mencari pentas untuk mengikuti lomba binaraga. Meski pada saat itu dalam setiap penampilan belum berhasil meraih nominasi, namun hal itu dinilainya sebagai upaya menambah pengalaman.

Pada tahun 2012 Andrianto mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara di Rindam Iskandar Muda Banda Aceh. Setamat dari pendidikan dengan menyandang pangkat Sersan Dua, ia kembali ke Kodim 0103 dengan jabatan Danru Provost. Kepercayaan pimpinan kepada Andri semakin menambah motifasi untuk semakin serius melahap beragam beban barbel secara rutin. Selama enam jam, sejak subuh hingga malam hari, diawali dengan jogging tiga kali dalam seminggu, kemudian berjemur dan berikutnya baru ke tempat Gym. Selama ini, untuk melakukan latihan penuh yang membutuhkan biaya besar dilakukannya  dengan mendapat dukungan dari KONI Aceh Utara. Berbagai lomba binaraga di tanah air berupaya ditaklukkannya.

Singkat cerita, selama menekuni kegiatan binaraga secara professional, Andrianto telah beberapa kali berhasil mengukir prestasi. Diantaranya adalah : Juara 1 kelas 75 kg pada lomba Binaraga Piala Walikota Binjai 2013, Juara 2 kelas 75 kg kejuaraan Binaraga TNI-Polri se Indonesia Paspampres 2013. Juara 1 kelas 85 kg Kejurnas Binaraga di Jakarta 2013. 11 besar Top Binaraga kejuaraan Binaraga se Asia Tenggara 2013. Juara 1 kelas 75 kg kejurnas Padang 2014. Juara 1 kelas 85 kg Porda ke XII Aceh Timur 2014. Juara 1 kelas 70 kg+ Binaraga TNI-Polri se Indonesia 2014. The best of the best Binaraga TNI-Polri se Indonesia Paspampres 2014. Juara 2 kelas 75+ Piala Dan Marinir 2014. Juara 2 Kejurnas Bali 2014. Juara 1 kelas 75+ Piala Bupati Bangka 2015. Juara 1 kelas 75 kg+ Kejurnas Padang 2015, dan peraih The Best Binaraga Padang 2016. Berbagai prestasi yang telah melambungkan namanya di kancah binaraga nasional sebagai jawara, tidak lantas membuatnya berpuas diri. Dengan tetap rendah hati Andri terus melakukan latihan intensif agar dapat meraih prestasi lebih dari hasil sebelumnya.

Karena tingkat keimanan dan prestasinya terbilang baik dan telah mengharumkan nama institusi, Pimpinan TNI Angkatan Darat memberi kesempatan kepadanya untuk menunaikan Ibadah Umroh ke Tanah Suci pada bulan Maret 2016 kemarin. Di sisi Ka’bah Andri tak lupa mengucapkan Syukur kepada Sang Pencipta atas Berkah, Rachmat serta Karunia yang telah diberikan kepadanya. Selanjutnya dalam Doa juga Andri berharap agar TNI AD dapat menyelenggarakan kejuaraan binaraga, mengingat yang menjadi penjuru utama prestasi binaraga dalam tubuh aparatur negara saat ini adalah dirinya.

Berlatih dan berlatihlah terus Andri Yanto. Pastikan bahwa kekuatan ototmu mampu mengangkat derajat dan martabat institusi TNI AD !!! (Redaksi)
TAG