ITQUN MINANNAAR



Bismillah walhamdulillah walaa haula walaa quwwata illa billah.
....Quu anfusakum wa ahlikum naaro....

Fase terakhir dari romadhon adalah pembebasan dari siksa api neraka (Itqun Minannaar). Pesan ajaran ini mengajak dan mendidik kita untuk melakukan reflexi sosiologis (amaliyah sosial) terhadap pemaknaan konkrit puasa kita.

Dua fase sebelumnya, yakni Pertama, Fase Rahmah (Mengasihi & Menyayangi) dan Kedua, Fase Maghfiroh (Mengampuni & Memaafkan ), fase-fase itu menuntun dan menuntut kita agar senantiasa memberi, mengasihi, menyayangi dan menjadi pribadi pemaaf serta pengampun kepada sesama (hablumminannaas).

Realitas, disekeliling kita saat ini yang menjadi masalah adalah tanpa disadari kita selalu meminta kucuran/ limpahan rahmat dan ampunan dari Alloh swt namun begitu kita meraih serta merasakan rahmat dan ampunan itu, seringkali kita lupa untuk menebarkan dan mendistribusikan rahmat serta ampunan itu kepada sesama kita.

Fase Itqun Minannaar, seperti juga dua fase sebelumnya difahami sebagai fase jaminan atau bukti diturunkannya amnesti bagi siapapun yang telah menjalani puasa disepuluh hari pertama dan kedua. Jaminan itu adalah bahwa disepuluh hari terakhir itulah Alloh SWT menetapkan 'Pembebasan dari siksa api neraka' bagi pelaku puasa romadhon.

Neraka dalam maknanya yang hakiki merupakan tempat diakherat yang disediakan Alloh untuk mereka yang berdosa. Namun dalam pengertian majazi neraka adalah segala macam bentuk kesengsaraan, keterhimpitan, penderitaan dan penindasan yang merendahkan harkat martabat kemanusiaan seseorang. Artinya nerakapun ada didunia fana ini.

Dalam konteks itulah, maka Itqun Minannaar mesti dimaknai bagaimana kita berusaha dan berjuang untuk senantiasa mampu melepaskan dan membebaskan setiap penderitaan, kesulitan, keterhimpitan, keterbelakangan,  penganiayaan,  keterkungkungan jiwa, sosial bahkan struktural serta perbudakan/perhambaan manusia atas manusia dan segala situasi kondisi yang mempengaruhi dan menjadi faktor penyebab nya, agar puasa yang kita lakukan berdampak positif, bertenaga, memiliki daya dorong dan menjadi medium pembebasan etos liberasi bagi manusia sehingga dapat memanusiakan manusia dan terbebas dari kecenderungan-kecenderungan yang tidak manusiawi bahkan hewani dan syaithoni.

Semoga Alloh SWT memberikan kesadaran/keinsyafan kepada kita diromadhon 1439H ini, juga kekuatan lahir bathin untuk berkomitmen dan mampu mewujudkan pesan fase-fase ajaran puasa itu untuk membebaskan,  mengangkat, memuliakan,  meninggikan harkat martabat kemanusiaan yang luhur dimulai dari diri, keluarga,  lingkungan kita dan seterusnya. Ibda binafsik.

Taqobbalalloh minnaaa wa minkum. Taqobbal yaa Kariem. Allohumma ajirnaa minannaari saalimiin.
Fattaqulloha mastatho'tum.
Billahi fie sabielilhaq. 🤲🙏.
TAG