Ketika aku mengalami sakit hatiku yang pertama, aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri


DRADIOQU.COM - Ketika aku mengalami sakit hatiku yang pertama, aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Pikiran tentang “Seharusnya aku begini,” atau “Seandainya aku tidak melakukan itu,” tumpang tindih setiap hari, sepanjang waktu. Wajar kupikir, jika ada seseorang yang bunuh diri karena putus cinta. Seandainya saat itu usiaku sudah dewasa dan punya banyak peluang tanpa dikekang orang tua, aku sudah pasti bunuh diri. Meski bertahun-tahun setelahnya, aku bersyukur pengalaman itu membuatku tumbuh jadi individu yang lebih dewasa.

Aku menghabiskan apa yang seharusnya menjadi tahun-tahun terbaik dan masa remajaku dengan berduka. Tidak ada senang yang terlalu, dan sedihku selalu berkali-kali lipat lebih dari seharusnya. Aku ini tidak layak disayangi, kan? Seharusnya dia tidak pergi, seharusnya kami baik-baik saja. Tapi hari-hari berlalu untuk semua orang, dan tanpa kita sadari, pelan-pelan segalanya mulai membaik.



Dalam fase kehidupanku yang baru, aku mulai aktif dalam komunitas dan organisasi, menyibukkan diri dengan orang-orang baru. Siapa sangka bahwa di dalam komunitas ini lah, aku bertemu dengan lelaki yang akhirnya sempat menjadi pasanganku. Memaafkan diri sendiri dan membuka hati untuk orang lain adalah pisau bermata dua.

Di satu sisi, menyenangkan sekali rasanya mencintai dan dicintai, tetapi pada saat yang sama, aku tahu aku belum sepenuhnya “sembuh”. Ketika itu, pikirku, hubungan ini tidak boleh gagal. Segala hal yang pernah kulakukan salah, kali ini tidak boleh lagi demikian. Pokoknya, tidak boleh ada ruang untuk kesalahan yang sama.


Tanpa aku pahami kala itu, manusia itu... berbeda-beda. Aku tidak bisa serta-merta menyamakan perilaku atau mengemis cinta yang tidak seharusnya. Terkadang, entah bagaimanapun keras kita berusaha, apapun itu: sesuatu, seseorang yang bukanlah jodoh kita, tidak akan pernah jadi milik kita selamanya. Kali ini, di mana celahku? Tampaknya, menghindari konflik bukan sekadar dengan selalu menyatakan “iya,” atas segala hal. Terkadang, kita harus menyadari apa yang patut kita perjuangkan, dan seringkali itu adalah diri kita sendiri.

Aku mengakhiri hubunganku dengan lelaki ini akhir tahun lalu, menyadari bahwa pada akhirnya aku harus mampu menerima diriku sendiri terlebih dulu sebelum aku siap bersama dengan orang lain. Kami tidak mengakhirinya baik-baik, lelaki ini bosan padaku. Sepertinya, hubungan yang tenang dengan wanita yang selalu meng-iya-kan segalanya terlalu mudah untuk ia jalani.

Ketika akhirnya ia katakan bahwa tak ada lagi rasa dan bahwa kita sudah terlalu jauh melampaui jenuh, kurasa aku sudah menduganya sejak lama. Seperti “ditinggalkan” adalah akhir yang telah kuketahui, dan bahwa aku sendiripun yakin, aku bukan pribadi yang layak untuk bahagia. Tak lama setelah itu, kudengar kabar bahwa ia akhirnya menjalin hubungan dengan wanita lain, wanita yang adalah temanku sendiri.

Aku tidak ingin menduga-duga atau berspekulasi. Tetapi, melihat sekelilingku bahagia dengan urusannya sendiri, sementara duniaku hancur berantakan bukanlah sesuatu yang kuharapkan terjadi. Jadi aku memilih untuk pergi dari komunitas yang pernah jadi rumahku. Bayangkan, menghabiskan waktu untuk mencintai lelaki yang baru, membentuk diri dan menyempurnakan sikap, ternyata bukanlah jaminan seseorang tidak bisa pergi dari hidup kita. 

Ditambah kepergianku dari komunitas itu menyudutkanku pada posisi kehilangan: pasangan, dan rutinitas. Tapi pilihan itu adalah pilihan yang sama yang pada akhirnya menjadikanku hidup, karena akhirnya aku menyadari bahwa kehilangan rasanya tidak seburuk berada pada hubungan yang salah, yang penuh tuntutan, dan yang tidak membiarkanku bertumbuh sebagai individu. Dalam kehilangan itulah, aku rasa aku mulai menemukan diriku lagi.
TAG