Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai wacana pencapresan Amien Rais oleh Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan bukti bahwa kelompok oposisi tidak solid

DRADIOQU.COM - Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai wacana pencapresan Amien Rais oleh Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan bukti bahwa kelompok oposisi tidak solid. Koalisi keumatan yang dirancang pasca pertemuan antara Amien Rais, Prabowo Subianto dan Rizieq Syihab tampak tidak memiliki kepercayaan diri dan soliditas yang kuat.
"Koalisi keumatan yang dicanangkan kelompok oposisi, pada faktanya, tak memiliki kepercayaan diri dan soliditas yang kuat. Tragisnya, ketidakpercayaan diri itu justru makin mengental sejak adanya pertemuan ihram politik di mana Prabowo, Amien Rais dan Rizieq bertemu di Makkah," kata Ray di Jakarta, Selasa (12/6).
Menurut Ray, bibit ketidaksolidan oposisi sudah terlihat justru sejak Anies Baswedan ditetapkan sebagai pemenang pilkada dan Basuki T Purnama atau Ahok dipidana penjara. Hal ini, kata dia dimulai dengan adanya desakan untuk mendorong nama-nama tertentu masuk dalam bursa Pilkada 2018 yang menyebabkan barisan ini terkelompok pada setidaknya 3 barisan.
"Berlanjut pada tak juga ditetapkannya Cawapres Prabowo yang berjalan seiring dengan enggannya PKS menyatakan dengan tegas bahwa capres yang mereka usung adalah Prabowo," tandas dia.
Menurut dia, tagar ganti presiden 2019 justru sinyal ketidaksolidan koalisi oposisi. PKS yang memulai tagar itu bahkan tidak dengan spesifik menyatakan Prabowo adalah ganti Jokowi. Ujungnya, kata dia, PAN yang diharapkan bergabung di koalisi malah terus-menerus menjaga jarak.
"Bahkan ketika Gerindra membentuk struktur pengurus posko bersama, PAN menyatakan keberatannya logo dan nama partainya dilibatkan," ungkap dia.
Akhirnya, kata dia, Persaudaraan Alumni 212 merilis capres pilihan para ulama. Rilis tersebut hanya menempatkan Prabowo sebagai capres nomor 2 di bawah Rizieq. Menurut dia, hal tersebut di luar skenario.
"Untuk menjaga soliditas dan mengembalikan kembali wibawa Prabowo, maka umroh politikpun dilakukan. Di Mekah, Amien Rais, Prabowo dan Rizieq bertemu lalu, tercetuslah istilah koalisi keumatan. Tak berbilang hari, koalisi itu seperti pecah manakala beberapa pentolan kelompok ini malah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres. Puncaknya, Amien Rais juga menyatakan siap jadi capres 2019," tutur dia.
Dampak Elektabilitas Prabowo Stagnan
Lebih lanjut, Ray mengatakan langkah Prabowo semakin sulit. Di Partai Gerindra, tak terlihat ada tokoh yang ulung untuk melakukan lobi, hanya khas menjadi partai yang memang serba terkomando. Pernyataan-pernyataan kader-kader Gerindra di publik, kata dia sama sekali tidak membantu PS untuk dapat bertahan sebagai figur capres kelompok koalisi.

"Kebanyakan menyerang Jokowi malah membuat simpati publik meningkat, dan sebaliknya sedikitnya promosi pada Prabowo mengakibatkan elektabilitasnya seperti stagnan," ungkap dia.
Gerindra, kata Ray, harus mengambil alih kembali kepemimpinan koalisi. Gerindra harus mencari isu yang memang dapat menaikan simpati dan elektabilitas Prabowo. Menurut dia, pola menyerang yang selama 3 tahun ini ditampilkan tak menumbuhkan simpati masyarakat pada partai ini dan tak meningkat elektabilitas Prabowo.
"Pernyataan Amien Rais yang siap jadi capres 2019 tak luput dari situasi ini. Elektabilitas Prabowo stagnan karena publik butuh isu dan tentu saja figur lain. Dua hal inilah yang tak tersedia di Gerindra. Isunya lama, tak faktual, kebanyakan malah bersifat negatif pada saat yang sama juga figurnya adalah stok lama," kata dia.
Dia menilai deklarasi Amien Rais merupakan bagian dari upaya menekan Prabowo agar sebisa mungkin mendorong munculnya figur baru. Menurut dia, Amien Rais tidak serius untuk ingin maju.
"Tetapi ini semacam sinyal bahwa ketidakpercayaan pada elektabilitas Prabowo yang makin sulit mengejar Jokowi hari demi hari makin menggumpal. Bahkan kini sudah merasuk ke tokoh yang sebelumnya merupakan pendukung utamanya Amien Rais," pungkas dia.

TAG