Turki pada hari ini akan mengadakan pemilihan umum presidensial dan parlementer

DRADIOQU.COM - Turki pada hari ini akan mengadakan pemilihan umum presidensial dan parlementer. Sebanyak 55 juta pemilih, plus 3 juta pemilih di luar negeri masuk dalam daftar pemilih.
Pada April lalu, Erdogan meminta diadakan pemilu mendadak (snap election) dengan harapan bisa mengonsolidasikan pemerintahannya karena pada saat itu elektabilitasnya tinggi. Namun, hasil survei terkini menunjukkan bahwa pemilu bakal berlangsung ketat.
Untuk pertama kalinya, kelompok oposisi yang tercerai-berai -yang terdiri dari kelompok sekuler, nasionalis, Islamis, dan Kurdi- lebih bersatu. Beberapa partai bahkan berkoalisi. Kondisi ekonomi yang tadinya merupakan keberhasilan Erdogan, kini tampak goyah. Pertumbuhan ekonomi melambat dan mata uang terdepresiasi 25 persen.
Menurut survei Gezici yang dipublikasikan Kamis 14 Juni lalu, pemilu bakal berjalan dua putaran. Partai berkuasa AK juga diperkirakan bakal kehilangan kursi mayoritas di parlemen.
Survei Gezici yang melibatkan 2.814 responden 2-3 Juni lalu, menunjukkan Erdogan berpotensi merebut 47,1 persen suara di ronde pertama. Jika diperlukan, putaran kedua akan dilakukan 8 Juli. Koalisi AK dengan partai nasionalis MHP diperkirakan merebut 48,7 persen dalam pemilihan parlemen yang memperebutkan 600 kursi. Erdogan masih berpeluang besar menang, tetapi tidak akan mudah.
Sebanyak empat partai kelompok oposisi berkoalisi untuk pemilu parlementer, di antaranya Partai Baik pimpinan Meral Aksener yang berhaluan nasionalis. Oposisi utama adalah CHP, partai sekuler yang dipimpin Muharrem Ince. Dia meminta dukungan kelompok Kurdi dengan mengunjungi pimpinan partai HDP, Selahattin Demirtas, kandidat pro-Kurdi yang dipenjara. Meski CHP tidak berkoalisi dengan HDP, tetapi dukungan HDP merupakan modal penting jika pemilu memasuki putaran kedua.
Jika Erdogan menang, maka dia akan lebih berkuasa dari sebelumnya. Sistem presidensial yang baru akan menghapuskan jabatan perdana menteri dan memberikan kewenangan kepada presiden untuk membubarkan parlemen, menyatakan keadaan darurat, dan menambah jumlah juri yang dapat ditunjuk.
TAG