(Kapolda) Jatim Irjen Machfud Arifin mengatakan bahwa tim buru sergap gabungan Polres Pasuruan dan Polda Jatim sedang memburu Anwardi bin Abdullah (50), terduga teroris yang membawa bom dalam tas ranselnya

DRADIOQU.COM - Ledakan di sebuah rumah di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (5/7), diduga kuat melibatkan pelaku teror yang juga penghuni rumah tersebut, karena dia sempat mengancam petugas kepolisian yang datang ke lokasi.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jatim Irjen Machfud Arifin mengatakan bahwa tim buru sergap gabungan Polres Pasuruan dan Polda Jatim sedang memburu Anwardi bin Abdullah (50), terduga teroris yang membawa bom dalam tas ranselnya. Sebelumnya, sekitar lima kali ledakan bom tipe low explosive terjadi di dalam dan di halaman rumah kontrakan milik Saprani di Jalan Pepaya, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, sekitar pukul 11.30 WIB.
“Dia (Anwardi) menurut saksi mata warga setempat juga mengalami luka akibat ledakan bom di bagian wajahnya, namun masih bisa kabur dengan naik sepeda motor Suzuki Spin Nopol N-4881-AI. Motornya ditinggal di depan kantor Pegadaian kemudian dia kabur naik bus antarkota,” ujar Machfud ketika meninjau tempat kejadian perkara (TKP), Kamis siang.
Dari hasil penyisiran tim Jihandak Gegana Brimob Polda Jatim rumah kontrakan terduga teroris itu sudah steril -- tidak ada bom maupun bahan peledak lainnya. Sebagaimana keterangan warga, bom rakitan lainnya dibawa kabur Anwardi dalam tas ranselnya. Kapolda menambahkan istri siri Anwardi bernama Dina Rohana yang pernah tinggal di Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, tidak mengalami luka apapun.
“Selain melukai terduga pelaku sendiri, ledakan bom itu juga melukai anak balita lelakinya, Mdr (4). Anak itu kini dalam perawatan medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangil,” ujar Kapolda. Belum diketahui apakah Anwardi adalah bagian dari jaringan sel dari kelompok JAD (Jemaah Ansharut Daulah).
Anwardi diketahui warga Aceh, tetapi dari identitasnya dia disebutkan kelahiran Jakarta, 12 Juni 1968. Alamat terakhir di kartu identitasnya adalah Kelurahan Karang Tanjung RT-06/RW-07 Kecamatan Serang, Kabupaten Banten.
Istrinya, Dina, lahir 16 Juni 1978 di Sidoarjo namun memakai alamat keluarga di Perum Perumahan Arbain 6B, RT-07/RW-01 Desa Gempeng, Kecamatan Bangil, Pasuruan.
“Istri siri terduga pelaku saat ini sedang dalam pemeriksaan. Dia tidak mengalami luka apapun,” tandas Kapolda.
Mengancam Kapolsek
Machfud juga membenarkan ada laporan saksi mata warga yang menyatakan bahwa Anwardi dengan membawa ransel berisi bom sempat mengejar dan hendak menyerang Kapolsek Bangil Kompol M Iskak yang semula hendak menangkapnya.

Seorang warga mencoba mencegahnya dengan menembakkan senapan angin.
“Terduga lalu mengambil motornya dan kabur ke jalan raya Pasuruan,” ujar Kapolda sambil minta agar dalam pemberitaan tidak disebutkan arah kaburnya.
Barang bukti yang sementara ini diamankan polisi di antaranya satu unit komputer jinjing, satu sepeda mini, kaos bekas, satu kardus berisi rompi antipeluru, sepeda motor Suzuki Spin N-4881-AI serta 62 buku yang berisikan tentang radikalisme dan agama.
Ketua RT setempat bernama Mardiono mengatakan semula ada dua ledakan dari dalam rumah Dina yang suaranya terdengar dalam radius 500 meter. Tiga ledakan berikutnya agak lebih keras, terjadi di halaman rumah dan terdengar hingga radius satu kilometer. Ia dan warga lainnya semula menduga terjadi ledakan gas elpiji tiga kilogram, dan kemudian dibuat terkejut oleh tiga kali ledakan keras dari dalam tas warna hitam yang terbang ke jalan desa, dan dipastikan bukan dari gas elpiji.
“Semula kami hendak menolong anaknya yang terluka di bagian wajahnya, tetapi Dina Rohana istri siri Anwardi bin Abdullah langsung menghardik kami. Ibunya (Dina) yang menggunakan baju cadar menolak anaknya dievakuasi dengan alasan menunggu suaminya datang. 'Jangan disentuh. Tunggu suami saya',” ujar Mardiono menirukan ucapan Dina.
Namun karena ia desak, akhirnya Dina membopong anak lelakinya ke rumah sakit dengan diantar warga menggunakan sepeda motor.
Mardiono membenarkan, ia dan warga sempat memergoki Anwardi keluar rumah membawa ransel warna hitam. Namun ketika ditanya, dia malah kabur.
“Dia sempat menakut-nakuti kita bahwa jangan mendekat karena dalam tas ranselnya ada bom. Ya, kita langsung berhamburan ketakutan,” tandas Mardiono.
Kemudian dia melihat Kapolsek Bangil datang, tetapi malah dikejar Anwardi yang mengancam akan melemparkan bom yang ada dalam tas ranselnya.
TAG