Objek Wisata Camp Batam Menawakan Suasana Yang Berbeda

Dradioqu.com - Coba kamu perhaikan objek wisata yang satu ini namanya saja Camp, maka wajar jika terbayang jejak perang yang menggambarkan suasana seram, dingin, dan mencekam. Nuansa itu terasa ketika memasuki kompleks pengungsi Vietnam di Barelang, Batam, Kepulauan Riau.
Lokasi ini kini ramai dikunjungi pelancong, karena itu BP Batam berupaya mengubahnya menjadi tempat wisata alam yang nyaman. “Agar tak seram lagi, namun tidak menghilangkan jejak sejarahnya,” kata Kepala Sub Direktorat Humas BP Batam, Minggu (29/7).
Berada di ujung selatan Kota batam dan berjarak kurang lebih 50 km dari pusat kota, untuk menuju ke camp hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi dan ojek. Di sinilah terdapat areal 80 hektare yang menjadi tempat berlindung ribuan warga Vietnam. Mereka kabur dari kampung halamannya yang diamuk perang saudara pada 1957-1975, yaitu antara kubu komunis –Demokratik Vietnam (Vietnam Utara)-- dan liberal -- Republik Vietnam (Vietnam Selatan).
Berada di lokasi terasa sejuk. Pepohonan sangat rimbun. Jalan masuk ke lokasi telah beraspal. Tak begitu jauh dari pintu gerbang camp, ada sebuah menumen. Berada di sebelah kanan jalan, menumen berwujud seorang perempuan itu dikelilingi taman.
Di samping kanan patung ada plang bertuliskan “Humanity Statue” yang menjadi salah satu ikon camp Vietnam ini. Ada jalan setapak untuk naik ke bawah halte di dalam taman, di sini ada sebuah prasasti yang meriwayatkan kisah patung itu.
Patung itu dibuat oleh para pengungsi yang menaruh simpati pada seorang wanita Vietnam, Tinh Nhan, yang mengalami nasib tragis. Ia diperkosa tujuh pria sesama pengungsi di lokasi patung ini. Akhirnya ia gantung diri hingga tewas.
Disebutkan juga, bahwa kasus bunuh diri selama di pengungsian ini cukup tinggi. “Pada umumnya bunuh diri terjadi karena depresi, atau sebagai pernyataan sikap yaitu menentang kebijakan keputusan memulangkan mereka ke Vietnam,” begitu tulisan di prasasti itu.
Seorang saksi mata, Cipto Minarto, mengaku melihat sendiri peristiwa bunuh diri lantaran menolak pulang ke Vietnam. “Mereka tak mau pulang, lalu membakar dirinya sendiri sampai tewas. Sedih sekali, saya melihat sendiri,” ujarnya. Pria berusia 70-an tahun ini salah satu pengurus pagoda – tempat ibadah ummat Budha-- Quan Am Tu, peninggalan pengungsi Vietnam.
Tak begitu jauh dari lokasi patung, di sebelah kiri jalan terdapat kompleks pemakaman. Bernama Ngha Trang Grave, di sini ada 503 kuburan pengungsi Vietnam. Suasananya khas ummat Budha. Berhias patung-patung dan tulisan aksara Vietnam terlihat terawat.
Berjalan lurus mengikuti jalanan beraspal, ditemukan dua perahu kayu yang sudah rusak. Saat ini, kondisinya sedang diperbaiki oleh BP Batam. Perahu ini adalah jejak sejarah yang digunakan pengungsi Vietnam mengarungi lautan hingga ke Pulau Barelang.
Ramai pengunjung di sini, apalagi ada taman rusa. “Biasanya saya datang membawa keluarga. Tempatnya teduh dan bersejarah. Anak-anak tak hanya bermain-main, juga mendapat pengetahuan,” kata salah seorang pengunjung, Saiful Azman, warga Batam.
Azman mengatakan, ia juga membawa keluarganya ke museum pengungsi Vietnam. Sekitar 500 meter dari lokasi perahu, museum itu berada dalam satu kompleks semacam perkantoran para pengungsi. Bahkan di sini juga ada tempat tahanan berjeruji besi yang digunakan untuk mengurung para pengungsi yang melanggar hukum.
Bangunan museum yang berbentuk huruf L dikelilingi taman yang rapi. Pengunjung melihat-lihat sejumlah foto dan lukisan yang terpajang di dalamnya.
Dari lukisan bisa membaca isi hati para pengungsi. Mulai dari saat mereka berlabuh dalam bentuk lukisan ratusan perahu di tepi pantai, hingga suasana santai wajah-wajah pengungsi yang bersantai gembira berayunan di pohon-pohon. Di dinding museum ada data 4.627 pengungsi lengkap dengan label nama-nama mereka.
Selain museum, masih ada bekas bangunan rumah sakit, dan barak-barak pengungsi yang sudah rusak dimakan usia. Di antaranya ada yang tertutup semak belukar. Sebagian sudah diperbaiki ulang.
Bahkan ada tiga tempat ibadah, yaitu vihara, gereja (Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, dan gereja protestan), dan mushala. Ini menggambarkan, para pengungsi Vietnam ini memeluk berbagai macam agama, yaitu budha, kristen, dan muslim.
Mengelilingi camp Vietnam ini akan berakhir di Quan Am Tu, tempat ibadah ummat budha yang sangat teduh.

TAG