Sejumlah maskapai Iran terpaksa membatalkan penerbangan
internasional pada Rabu (23/9/2026) setelah Amerika Serikat (AS) memperketat
sanksi terhadap industri penerbangan Iran. Kebijakan tersebut menjadi bagian
dari upaya Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Mengutip AFP, seorang agen perjalanan di Teheran mengatakan
penerbangan menuju Baghdad, Muskat, Qatar, Georgia, dan Azerbaijan telah
ditangguhkan. Namun, penerbangan ke sejumlah tujuan lain masih tersedia,
termasuk China.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan sanksi terbaru
tersebut pada Senin (21/9/2026). Kebijakan itu merupakan bagian dari ancaman
Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran setelah perang
berlangsung hampir tujuh bulan.
Industri penerbangan Iran sebenarnya telah menjadi sasaran
sanksi selama bertahun-tahun. Namun, dampak penuh dari kebijakan terbaru AS
serta negara mana saja yang akan menerapkannya masih belum dapat dipastikan.
Meski sanksi baru mulai berlaku pada Rabu, pesawat Mahan Air
yang terbang dari Teheran tercatat mendarat di Guangzhou, China. Mahan Air
merupakan salah satu maskapai terbesar Iran.
Berdasarkan data pelacakan penerbangan FlightRadar24,
penerbangan tersebut tetap beroperasi setelah sanksi diberlakukan. Bandara
internasional Teheran juga mencatat penerbangan menuju Shanghai dijadwalkan
berangkat pada hari yang sama.
China sebelumnya menyatakan menentang sanksi AS terhadap
Iran dan menyebut kebijakan tersebut ilegal.
Sejumlah penerbangan menuju Istanbul juga masih dijadwalkan,
meskipun beberapa penerbangan lainnya dibatalkan. Agen perjalanan di Teheran
mengatakan ketidakpastian membuat pihaknya untuk sementara menghentikan
penjualan tiket karena khawatir terjadi pembatalan penerbangan.
“Situasinya tidak stabil dan untuk sementara kami tidak lagi
menjual tiket karena khawatir terjadi pembatalan,” kata agen perjalanan yang
meminta identitasnya dirahasiakan.
Penerbangan Mahan Air dari Kabul juga dijadwalkan tiba di
Teheran. Sementara itu, sejumlah penerbangan menuju Turki dan Armenia masih
tersedia melalui maskapai Iran lainnya, termasuk Varesh. Penerbangan menuju
Najaf di Irak dan Dubai, Uni Emirat Arab, juga masih dijadwalkan.
Bessent sebelumnya memperingatkan negara dan perusahaan yang
tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran dapat menghadapi konsekuensi dari
AS.
“Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan
bakar, tidak boleh memberikan layanan pendaratan, dan tidak boleh menjual tiket
kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar,” kata Bessent.
Pembatasan tersebut berpotensi semakin menyulitkan warga
Iran yang ingin bepergian ke luar negeri maupun kembali ke negaranya.
Media Iran juga melaporkan sejumlah pembatalan penerbangan.
Kantor berita Tasnim mengutip pejabat penerbangan sipil yang mengatakan bandara
Baghdad dan Muskat tidak lagi menerima penerbangan Iran. Namun, penerbangan
internasional lainnya, termasuk menuju Istanbul, disebut tetap beroperasi
sesuai jadwal.