Kelompok Houthi Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi pada 2026. Serangan tersebut tidak terlepas dari konflik panjang di Yaman, -->

Kelompok Houthi Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi pada 2026. Serangan tersebut tidak terlepas dari konflik panjang di Yaman,

Jumat, 02 Oktober 2026

 Kelompok Houthi Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi pada 2026. Serangan tersebut tidak terlepas dari konflik panjang di Yaman, perseteruan dengan Riyadh, serta dinamika persaingan antara Arab Saudi dan Iran di kawasan Timur Tengah.



Houthi merupakan kelompok politik dan agama bersenjata yang berasal dari wilayah utara Yaman. Kelompok yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah itu memperjuangkan kepentingan komunitas minoritas Muslim Syiah Zaidiyah di Yaman.


Gerakan Houthi muncul pada dekade 1990-an dan mengambil nama dari pendirinya, Hussein al-Houthi. Setelah Hussein meninggal, kepemimpinan de facto beralih kepada saudaranya, Abdul Malik al-Houthi, yang kemudian menjadi tokoh utama gerakan tersebut.


Pada awal 2000-an, Houthi memberontak terhadap presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh. Kelompok tersebut menuntut otonomi yang lebih besar bagi wilayah asal mereka di Yaman bagian utara.


ADVERTISEMENT

Mengapa Houthi Menyerang Arab Saudi?

Salah satu akar utama konflik Houthi dengan Arab Saudi adalah keterlibatan Riyadh dalam perang saudara Yaman.


Konflik langsung antara Houthi dan Arab Saudi dimulai pada 2015 ketika Riyadh melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang didukung secara internasional dan bermarkas di Aden.


Bagi Houthi, Arab Saudi kemudian menjadi salah satu pihak utama yang mendukung lawan mereka dalam konflik Yaman. Perseteruan tersebut berkembang menjadi perang lintas batas, dengan Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi.


Serangan Houthi juga digunakan sebagai alat untuk memberikan tekanan terhadap Riyadh. Dalam konflik sebelumnya, serangan lintas batas kelompok tersebut antara lain menyasar infrastruktur energi dan fasilitas strategis Arab Saudi.


Tuntutan Pengakhiran Blokade Arab Saudi

Faktor lain yang menjadi alasan Houthi menyerang Arab Saudi adalah persoalan blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai di Yaman. Houthi menuntut diakhirinya blokade yang diberlakukan Arab Saudi serta menginginkan akses terhadap sumber pendapatan negara, termasuk dari sektor minyak dan gas.


BACA JUGA


Menelisik Hubungan Konflik Houthi-Arab Saudi di Laut Merah

Dalam eskalasi terbaru, Houthi juga mengumumkan blokade terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi. Kelompok tersebut menyatakan langkah itu merupakan respons terhadap kebijakan Saudi dan serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai.


Serangan terhadap kapal dan kepentingan Saudi bukan hanya berkaitan dengan operasi militer. Bagi Houthi, tekanan terhadap jalur pelayaran dan kepentingan ekonomi Saudi juga menjadi cara untuk meningkatkan tekanan terhadap Riyadh.


Akar Persaingan Houthi dan Arab Saudi

Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi memiliki sejarah panjang. Ketegangan tersebut bermula dari konflik politik dan sosial di Yaman sebelum berkembang menjadi perang terbuka.


Setelah gelombang Arab Spring pada 2011 mengguncang Yaman, Houthi semakin memperluas pengaruhnya. Kelompok tersebut kemudian merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan menjadi kekuatan utama di wilayah utara.


Arab Saudi melihat perkembangan tersebut sebagai ancaman terhadap pemerintah Yaman yang didukungnya sekaligus sebagai bagian dari meningkatnya pengaruh Iran di kawasan.


Mohammed bin Salman, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan Arab Saudi dan kemudian menjadi putra mahkota, mendukung intervensi militer Saudi pada 2015 untuk membantu pemerintah Yaman menghadapi Houthi.


Konflik berlangsung selama bertahun-tahun sebelum memasuki jeda secara praktis pada 2022. Saat itu, Arab Saudi berupaya mengurangi keterlibatannya dalam perang, sementara Houthi tetap menguasai sebagian besar wilayah yang padat penduduk di Yaman.


Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022 memang mengurangi kekerasan secara signifikan, meski tidak menyelesaikan seluruh persoalan politik dan militer antara pihak-pihak yang bertikai.


Intensitas Serangan Houthi pada 2026

Eskalasi terbaru terjadi ketika perang di kawasan Timur Tengah kembali meluas pada 2026. Perang antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran, yang akhirnya merembet menjadi konflik di kawasan Teluk membuat posisi Arab Saudi kembali menjadi bagian penting dalam persaingan timur Tengah.  


Pada saat yang sama, Houthi meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan kepentingan Arab Saudi di Laut Merah.


Pada Juli 2026, Houthi mulai menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah dan mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi. Kelompok tersebut juga melancarkan serangan rudal ke Arab Saudi.


Salah satu pemicu langsung eskalasi terbaru adalah serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa. Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut, sedangkan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan serangan dilakukan untuk mencegah pesawat yang membawa tokoh Houthi kembali dari Iran. Setelah itu, Houthi melancarkan serangan rudal ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi.


Selat Bab el-Mandeb Jadi Kunci Konflik

Selain perang di daratan Yaman, jalur laut menjadi bagian penting dalam konflik Houthi dan Arab Saudi. Houthi menguasai atau berupaya memperkuat posisi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.


Posisi tersebut penting karena menjadi salah satu jalur perdagangan dan energi antara Eropa dan Asia. Bagi Arab Saudi, jalur tersebut juga semakin penting untuk pengiriman minyak melalui Laut Merah.


Ketika Selat Hormuz terganggu akibat perang AS dengan Iran, ketergantungan Saudi terhadap jalur ekspor melalui Laut Merah meningkat. Kondisi itu membuat Bab el-Mandeb semakin strategis sekaligus menjadi titik tekanan bagi Houthi.


Pada September 2026, Houthi meningkatkan tekanan dengan menguasai wilayah strategis di sekitar Bab el-Mandeb dan menyatakan blokade terhadap pelayaran Saudi. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan dan pasokan energi global.


Peran Iran

Konflik Houthi dan Arab Saudi juga tidak dapat dipisahkan dari hubungan Houthi dengan Iran. Arab Saudi dan sejumlah negara Barat menuduh Iran memasok senjata kepada Houthi, termasuk drone serta rudal jelajah dan rudal balistik. Tuduhan tersebut telah lama menjadi bagian dari perseteruan antara Riyadh dan Teheran.


Panel ahli PBB pada 2024 menyimpulkan Houthi telah berkembang menjadi organisasi militer yang kuat melalui transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Garda Revolusi Iran, Hizbullah Lebanon, serta para ahli dari Irak.


Laporan Conflict Armament Research (CAR) pada Mei 2026, menemukan perubahan pola dukungan Iran. Jika sebelumnya Teheran disebut mengirimkan senjata jadi kepada Houthi, Iran kini semakin banyak mengirimkan komponen yang dapat dirakit oleh kelompok tersebut serta berbagi teknologi rudal yang lebih canggih. Namun di sisi lain, Iran membantah memasok senjata kepada Houthi dan menyatakan hanya memberikan dukungan politik kepada kelompok tersebut.


Sejumlah analisis melihat hubungan tersebut juga memiliki dimensi strategis. Dukungan kepada Houthi memberi Iran pengaruh terhadap salah satu jalur pelayaran penting, yakni Bab el-Mandeb.


Tujuan Houthi Serang Arab Saudi

Serangan Houthi terhadap Arab Saudi memiliki beberapa latar belakang yang saling berkaitan. Pertama, Houthi menentang keterlibatan Saudi dalam perang Yaman dan dukungan Riyadh terhadap pemerintah Yaman.


Kedua, Houthi menuntut diakhirinya blokade dan ingin memperoleh posisi yang lebih kuat dalam menentukan masa depan politik serta ekonomi Yaman.


Ketiga, serangan terhadap kapal, fasilitas energi, dan wilayah Saudi menjadi instrumen tekanan terhadap Riyadh. Terakhir, posisi Houthi di sekitar Bab el-Mandeb memberikan kelompok tersebut pengaruh terhadap jalur perdagangan dan energi yang sangat penting.


Di tengah konflik Iran dan Amerika Serikat pada 2026, kepentingan Houthi juga semakin terkait dengan dinamika persaingan regional. Karena itu, serangan terhadap Arab Saudi kini bukan sekadar kelanjutan perang saudara Yaman, tetapi juga bagian dari konflik yang lebih luas di Timur Tengah, seperti dilansir dari BBC dan Britannica, Kamis (1/10/2026).