Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Wibowo menilai partisipasi -->

Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Wibowo menilai partisipasi

Sabtu, 17 Januari 2026

 Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Wibowo menilai partisipasi Danantara Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) 2026 menjadi sinyal positif bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

 


Menurut Dradjad, forum ekonomi global yang sudah sekitar 10 tahun tidak dihadiri langsung oleh pemimpin Indonesia itu memiliki peran strategis dalam perekonomian dunia karena mempertemukan tokoh-tokoh penting di sektor keuangan, investasi, bisnis, dan inovasi.

 “Tampilnya kembali Indonesia di forum ini memberikan angin segar buat kemajuan ekonomi Indonesia. Itu forum tepat, para tokoh dan orang kuat di jaringan keuangan, investasi, bisnis, dan inovasi hadir di sana,” ujar Dradjad dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (16/1/2026).Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri WEF 2026 yang digelar di Davos, Swiss, pada 19-23 Januari 2026. Forum ini mengusung tema “A Spirit of Dialogue” dan melibatkan pemimpin negara, pelaku usaha global, akademisi, serta perwakilan masyarakat sipil.

Dradjad menilai kehadiran Danantara di WEF sangat strategis, terutama untuk menjelaskan arah kebijakan ekonomi nasional dan peran badan investasi tersebut dalam mengelola modal negara yang nilainya diperkirakan mencapai US$1 triliun.

“Ujungnya membangun confidence, kepercayaan para investor global untuk masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, WEF harus dimanfaatkan Danantara untuk menjelaskan kepada para pemimpin dunia, konglomerat global, dan inovator teknologi mengenai tujuan pembentukan sovereign wealth fund Indonesia serta iklim usaha yang ingin dibangun.

“Para raksasa dunia itu harus jelas, iklim bisnis apa yang mau kita bangun dengan SWF Indonesia ini,” kata Dradjad.

Menurutnya, kepercayaan investor tidak berhenti pada forum internasional semata, tetapi perlu dijaga dengan persiapan lanjutan agar ketika pelaku usaha global melakukan riset dan penilaian langsung ke Indonesia, mereka melihat ekosistem yang kondusif dan meyakinkan.

“Setelah dari WEF persiapkan segalanya supaya saat riset mereka datang, mereka melihat yang membuat mereka mau masuk dan nyaman dengan iklim dan ekosistemnya,” ujarnya.

Sebagai catatan, kehadiran presiden Indonesia di WEF terakhir kali terjadi lebih dari satu dekade lalu, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato pada 2011 dengan tema ekonomi hijau.

Pada WEF 2026, Presiden Prabowo dijadwalkan hadir bersama CEO Danantara Rosan Roeslani, serta sejumlah pejabat kabinet, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Sebelumnya, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief menyatakan partisipasi Danantara di WEF 2026 akan dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan institusi dan membangun keterlibatan global.

 “Kehadiran kami di sini sekaligus juga memperkenalkan secara institusi. Kita memerlukan badan pengelolaan investasi strategis nasional dengan tata kelola yang baik, dan kita siap menjadi mitra bagi mitra-mitra global,” ujar Mohamad Al-Arief.

Ia menegaskan, WEF menjadi jembatan penting antara agenda pembangunan nasional Indonesia dan akses terhadap modal global, yang diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di mata investor internasional.