Jagat otomotif dunia tengah dihebohkan oleh gelombang kritik tajam dan kekecewaan mendalam yang diarahkan kepada raksasa otomotif Italia, Ferrari. Perusahaan mobil terkenal Italia itu dihujat karena dianggap salah langkah dalam mendesain mobil listrik perdana mereka, Ferrari Luce.
Bukannya mendapat pujian, mobil dengan empat motor listrik dan empat pintu ini justru ramai-ramai dicap sebagai produk yang sangat mengecewakan karena memiliki desain bodi bulat aneh yang terlihat modern, pasaran, sekaligus ketinggalan zaman di saat yang bersamaan. Gelombang kekecewaan publik terhadap Ferrari Luce kali ini terasa sangat masif dan intens.
Disebut Carscoops, Kamis (28/5/2026), kemarahan para pencinta otomotif bukan sekadar karena mobil ini bertenaga listrik, melainkan murni karena bentuk fisiknya yang dinilai merusak estetika legendaris Ferrari. Bahkan, saking buruknya desain tersebut, mantan CEO Ferrari sendiri sempat melontarkan komentar satir dengan menyebut bahwa mobil Luce yang baru ini sangat jelek, sampai-sampai pabrikan Tiongkok pun tidak akan mau menirunya.
Melihat kompetitor abadinya sedang dihujani kritik, CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, tidak bisa menahan diri untuk tidak menyindir atau melakukan dunking tipis-tipis terhadap Ferrari. Saat berbicara dalam wawancara eksklusif bersama CNBC, Winkelmann mengisyaratkan bahwa reaksi negatif publik yang sangat masif terhadap Ferrari Luce menjadi bukti kuat bahwa keputusan Lamborghini untuk membatalkan proyek mobil listrik mereka sebelumnya adalah langkah yang sangat tepat.
Winkelmann menjelaskan bahwa keputusan Lamborghini untuk mematalkan dan menyuntik mati proyek mobil listrik (Electric Vehicle/EV) mereka adalah jalan terbaik yang harus diambil oleh perusahaan. Namun, ia juga menambahkan kalimat bernada sindiran halus dengan mengatakan bahwa setiap merek dan setiap perusahaan tentu harus memutuskan nasib serta menanggung risikonya sendiri-sendiri.
“Membatalkan EV tersebut adalah cara yang tepat untuk melangkah, tetapi setiap merek, setiap perusahaan harus memutuskan sendiri bagi mereka masing-masing,” ujarnya.
Sebagai pengingat, Lamborghini sebenarnya sempat memperkenalkan mobil konsep bertenaga listrik bernama Lanzador pada tahun 2023 lalu. Mobil konsep tersebut awalnya dirancang sebagai pratinjau untuk model produksi massal masa depan yang dijadwalkan meluncur pada tahun 2028. Namun, pabrikan berlogo banteng mengamuk tersebut secara mengejutkan memilih untuk mematikan proyek Lanzador awal tahun ini karena melihat minat konsumen setianya terhadap varian listrik murni ternyata berada di angka yang mendekati nol.
Selain menyuntik mati proyek Lanzador, manajemen Lamborghini juga memutuskan untuk membatalkan total rencana mereka yang ingin mengubah SUV andalan mereka, Urus, menjadi sebuah crossover bertenaga listrik murni. Sebagai gantinya, Lamborghini Urus generasi kedua kini dipastikan akan ditawarkan dengan mesin plug-in hybrid (PHEV) dan dijadwalkan baru akan mengaspal sekitar tahun 2029 mendatang.
Sepanjang sesi wawancara, Stephan Winkelmann sebenarnya sangat berhati-hati agar tidak menyebut nama kompetitornya, Ferrari, ataupun model Luce secara langsung. Kendati demikian, ia memberikan catatan penting mengenai arah industri otomotif saat ini, di mana sebuah inovasi memang sangat krusial, tetapi teknologi baru tersebut tidak akan pernah bisa dipaksakan kepada konsumen jika mereka belum siap menerimanya.
“Inovasi adalah hal yang paling utama, tetapi tidak bisa dipaksakan kepada pelanggan,” tegasnya.
Winkelmann kemudian memuji kejelian tim internal Lamborghini yang dinilainya sangat pintar dalam membaca pergerakan pasar otomotif global. Berdasarkan pengamatan mereka dari waktu ke waktu, tingkat penerimaan terhadap mobil listrik murni (EV) di kalangan konsumen mobil mewah (supercar) justru sama sekali tidak menunjukkan tren peningkatan, malah cenderung stagnan dan menurun.
Fakta pahit di lapangan inilah yang akhirnya memaksa Lamborghini untuk berani mengambil keputusan sulit, yaitu membuang total ambisi mobil listrik murni dan beralih fokus mengembangkan teknologi mesin plug-in hybrid. Menariknya, Lamborghini bukanlah satu-satunya raksasa otomotif yang memilih mundur dari tren EV murni. Berbagai pabrikan global lainnya, mulai dari Ford hingga Honda, dilaporkan juga telah menyuntik mati sejumlah lini mobil listrik mereka, sementara beberapa pabrikan lain memilih untuk menunda target jangka panjang mereka untuk menjadi produsen mobil yang hanya menjual kendaraan listrik.