Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen dan berbagai rumor -->

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen dan berbagai rumor

Kamis, 04 Juni 2026

 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen dan berbagai rumor yang beredar di pasar ketimbang faktor fundamental ekonomi nasional.



Salah satu isu yang beredar adalah kabar bahwa dirinya meminta perbankan melakukan stress test apabila kurs rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Purbaya membantah informasi tersebut dan menegaskan tidak pernah mengeluarkan arahan seperti itu.

 “Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja pelemahannya satu-dua hari ini kan. Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar,” kata Purbaya saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar turut memberikan tekanan terhadap rupiah yang kini bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp 18.000 lebih. Padahal saya enggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” ujarnya.

Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah melemah 127,5 poin atau 0,71% ke posisi Rp 17.966 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Garuda juga terjadi seiring pelemahan sejumlah mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan terkoreksi 1,00%, ringgit Malaysia turun 0,79%, rupee India melemah 0,56%, baht Thailand turun 0,43%, dan yuan China terkoreksi 0,16% terhadap dolar AS. Sementara itu, yen Jepang dan dolar Hong Kong masih mencatatkan penguatan tipis.

Purbaya menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat dan mampu menopang stabilitas jangka panjang.


“Namun, kalau kita lihat kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ,” kata Purbaya.

Terkait kemungkinan digelarnya rapat khusus Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menegaskan stabilisasi nilai tukar merupakan kewenangan utama Bank Indonesia sebagai bank sentral.

“Pertama itu kan yurisdiksi bank sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dahulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah siap memperkuat koordinasi apabila diperlukan untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.

“Tapi kalau ada, kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan, sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan, tetapi kan sekarang itu masih dalam yurisdiksi Bank Sentral kita. Kecuali bank sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” kata Purbaya.

Pada sisi lain, Purbaya membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kondisi fiskal pemerintah yang memburuk. Ia justru menilai kinerja APBN hingga Mei 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

"Enggak ada. Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depannya? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik dibanding bulan April,” pungkasnya.