MA IPNU Lampung Gaungkan Revitalisasi Peran NU Jelang Muktamar ke-35: Satukan Gagasan Ulama, Akademisi, dan Alumni -->

MA IPNU Lampung Gaungkan Revitalisasi Peran NU Jelang Muktamar ke-35: Satukan Gagasan Ulama, Akademisi, dan Alumni

Sabtu, 18 Juli 2026


DRadioQu.com, BANDAR LAMPUNG — Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang digelar pada 2026 mendatang, Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) Provinsi Lampung menginisiasi langkah strategis dengan menggelar Diskusi Publik bertajuk "Momentum Merevitalisasi dan Mereaktualisasi Peran NU di Tengah Realitas Global."

Bertempat di Aula PWNU Lampung, Sabtu (23/8), forum ini menjadi ruang konsolidasi pemikiran yang mempertemukan para ulama, akademisi, dan alumni dalam satu visi: meneguhkan kembali peran NU sebagai jam'iyyah diniyyah ijtima'iyyah yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan khittah perjuangannya.

Mengawali diskusi, Ketua MA IPNU Pusat, Prof. Dr. KH. Asrorun Niam Sholeh, mengingatkan bahwa Muktamar NU ke-35 tidak boleh dipahami sekadar sebagai agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum Ijtihad Jam'iyyah untuk merumuskan arah gerakan NU di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi yang terus bergerak dinamis.


"NU tidak sedang mempertentangkan tradisi dengan modernitas. Yang harus dijaga adalah bagaimana nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah menjadi kompas moral dalam membaca perubahan. Tradisi harus terus hidup, tetapi juga harus melahirkan inovasi yang menghadirkan kemaslahatan. Di situlah makna Tajdid dalam perspektif Nahdlatul Ulama," tegas Prof. Niam.

Ia menambahkan bahwa Kaderisasi NU ke depan harus melahirkan generasi yang tidak hanya memahami struktur organisasi, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, memiliki integritas moral, serta mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan masyarakat modern.

Sementara itu, Ketua PWNU Lampung, Dr. Puji Raharjo, S.Ag., S.S., M.Hum., menegaskan bahwa revitalisasi NU bukanlah upaya mengubah identitas organisasi, melainkan menghidupkan kembali semangat khidmah yang menjadi ruh perjuangan para pendiri NU.

"Muktamar harus menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan gerakan. Jangan sampai NU hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, sementara tantangan umat semakin kompleks. Khidmah NU harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, penguatan organisasi harus selalu berorientasi pada kemaslahatan," ungkapnya.

Dr. Puji juga menekankan bahwa prinsip al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah — menjaga warisan keilmuan para ulama sekaligus terbuka terhadap pembaruan yang membawa kemanfaatan — harus menjadi pijakan dalam setiap langkah organisasi.

Senada dengan itu, Ketua PCNU Kota Bandar Lampung, Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., M.M., menilai bahwa kekuatan NU selama ini justru tumbuh dari pelayanan di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, revitalisasi organisasi harus dimulai dari penguatan ranting, masjid, pesantren, majelis taklim, dan ruang-ruang pengabdian yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

"Jam'iyyah ini besar karena keikhlasan para kiai dan para penggeraknya. Kekuatan NU bukan hanya pada struktur organisasinya, tetapi pada budaya melayani yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Spirit inilah yang harus terus dirawat di tengah perubahan zaman," jelasnya.

Ketua MA IPNU Lampung, H. Hasanuddin Errezha, menyampaikan bahwa forum ini merupakan ikhtiar alumni IPNU untuk ikut berkontribusi dalam membangun diskursus ke-NU-an menjelang Muktamar ke-35. Menurutnya, alumni IPNU memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga estafet perjuangan organisasi melalui pengabdian sesuai bidang keahlian masing-masing.

"Alumni IPNU tidak cukup hanya bernostalgia dengan masa kaderisasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah terus hidup dalam setiap profesi, setiap ruang pengabdian, dan setiap ikhtiar membangun masyarakat. Khidmah tidak mengenal batas jabatan, tetapi lahir dari keikhlasan untuk terus memberi manfaat," ujarnya.

Hasanuddin berharap MA IPNU Lampung menjadi ruang berhimpun bagi para alumni untuk memperkuat jejaring intelektual, sosial, dan profesional dalam mendukung gerakan Nahdlatul Ulama.

Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang terdiri atas akademisi, kiai, guru, mahasiswa, kader IPNU-IPPNU, pengurus badan otonom NU, serta tokoh-tokoh Majelis Alumni IPNU dari berbagai daerah di Lampung.

Kehadiran Rektor Universitas Ma'arif Lampung (UMALA) Agus Setiawan, Rektor ITS NU Lampung Prof. Bandi, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Provinsi Lampung, para pengurus PWNU dan badan otonom, serta sejumlah sesepuh MA IPNU Lampung menunjukkan bahwa gagasan tentang masa depan Nahdlatul Ulama bukan hanya tanggung jawab pengurus organisasi, melainkan ikhtiar bersama seluruh elemen nahdliyin.

Forum yang digagas MA IPNU Lampung ini diharapkan menjadi bagian dari kontribusi pemikiran menjelang Muktamar NU ke-35. Beberapa poin solutif yang mengemuka dalam diskusi antara lain:
  1. Penguatan ekosistem kaderisasi yang mengintegrasikan pendidikan pesantren dengan ilmu pengetahuan modern.
  2. Digitalisasi dakwah dan pelayanan tanpa meninggikan nilai-nilai tradisi keilmuan NU
  3. Penguatan peran NU dalam isu-isu global, termasuk krisis iklim, ketimpangan sosial, dan transformasi digital.
  4. Revitalisasi peran masjid dan pesantren sebagai pusat peradaban dan pemberdayaan masyarakat.
  5. Penguatan jejaring alumni sebagai garda terdepan pengabdian di berbagai sektor

Revitalisasi Nahdlatul Ulama pada hakikatnya bukan sekadar memperbarui program organisasi, melainkan menguatkan kembali fikrah (pemikiran), harakah (gerakan), dan khidmah (pengabdian) NU agar tetap menjadi penjaga tradisi (hirasah al-turats), penggerak transformasi sosial (taghyir ijtima'i), sekaligus penuntun peradaban di tengah realitas global yang terus berubah.

Dengan semangat itu, NU diharapkan terus meneguhkan perannya sebagai organisasi yang menghadirkan rahmah, kemaslahatan, dan keadaban bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Muktamar ke-35 menjadi momentum tepat untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut. (Brm)