Ketegangan antara Iran dan Amerika Srikat (AS) kembali
meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah
mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz.
IRGC dalam pernyataannya pada Senin (14/9/2026) mengatakan
sistem pertahanan yang baru dikembangkan berhasil menjatuhkan drone tersebut.
Namun, Iran tidak menjelaskan lebih jauh mengenai misi maupun aktivitas pesawat
nirawak itu ketika berada di kawasan Selat Hormuz.
MQ-1 merupakan pesawat nirawak yang diproduksi perusahaan
pertahanan AS, General Atomics. Pesawat tersebut secara historis banyak
digunakan oleh Angkatan Udara AS dan badan intelijen CIA.
Insiden terbaru ini menambah rangkaian konfrontasi antara
Iran dan AS yang melibatkan sistem militer tanpa awak di kawasan Teluk. Konflik
yang telah berlangsung selama tujuh bulan itu masih belum menunjukkan
tanda-tanda mereda, sementara upaya diplomatik terkait Selat Hormuz juga
mengalami kebuntuan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Washington
masih dapat melanjutkan kampanye militernya terhadap Iran. Ia bahkan membuka
kemungkinan AS mempertahankan kendali atas minyak Iran dengan membandingkannya
dengan kesepakatan yang dibuat Washington dengan Venezuela.
“Kita pada akhirnya akan keluar (dari perang), kecuali jika
kita memutuskan untuk tetap tinggal dan mempertahankan minyak seperti
Venezuela,” kata Trump saat menghadiri Irish Open di Irlandia, Minggu
(13/9/2026).
Trump juga menyebut pendapatan AS dari kesepakatan dengan
Venezuela telah membayar biaya perang berkali-kali.
Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada Agustus, Venezuela
disebut memberikan mayoritas kendali kepada AS atas lebih dari 65 miliar barel
cadangan minyak. Sebagai imbalannya, Venezuela memperoleh US$ 209 miliar untuk
kas negara.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan
tersebut juga diperkirakan menarik hampir US$ 100 miliar investasi swasta untuk
membantu menghidupkan kembali perekonomian Venezuela.
Trump juga memperkirakan perang dengan Iran yang telah
berlangsung selama tujuh bulan dapat berakhir tahun ini, kemungkinan setelah
pemilihan paruh waktu pada November.
Ia juga mengatakan harga bensin akan turun drastis setelah
konflik berakhir. Namun, Trump menegaskan Washington hanya akan menyepakati
perdamaian dengan persyaratan yang dinilainya tepat.
Presiden AS tersebut menyatakan Teheran telah terus-menerus
menyerukan pembicaraan damai, meski Iran sebelumnya telah membantah klaim
tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, pembicaraan
mengenai masa depan Selat Hormuz juga mengalami hambatan.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan pertemuan
antara negara-negara Teluk dan Iran yang sedianya membahas kemungkinan
kesepakatan terkait jalur pelayaran tersebut ditunda. Ia menyebut penundaan
dilakukan karena masih diperlukan konsensus.
Pejabat Iran dan negara-negara Teluk sebelumnya diperkirakan
bertemu pada Senin untuk membahas serta menandatangani kesepakatan mengenai
jalur pelayaran Iran-Oman melalui Selat Hormuz.
Namun, hingga kini belum terdapat pembicaraan langsung
antara AS dan Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam
konflik yang pecah pada Februari. Blokade dan operasi militer di kawasan
tersebut telah mengganggu arus perdagangan energi dan menjaga harga minyak
global tetap tinggi.
Kesepakatan yang dicapai Washington dan Teheran pada Juni
juga menghadapi persoalan terkait pengaturan jalur perairan tersebut. Dalam
perkembangan lain, serangkaian serangan kelompok Houthi di Yaman dalam beberapa
hari terakhir turut memberikan tekanan tambahan terhadap jalur pelayaran di
kawasan.
Kelompok yang bersekutu dengan Teheran tersebut memiliki
pengaruh terhadap Bab el-Mandeb, jalur strategis lain bagi perdagangan energi
dan pelayaran internasional.
Di sisi lain, kapal yang dinilai tidak mematuhi aturan Iran
dilaporkan menjadi sasaran serangan. AS juga secara berkala melancarkan
serangan terhadap wilayah pesisir Iran dalam upaya menantang kendali Teheran
atas Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan tersebut turut mendorong harga minyak
dunia. Harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya
sejak Mei dan melanjutkan penguatan pada Senin.
Pergerakan harga tersebut terjadi setelah Arab Saudi menutup
jalur pipa energi utama East-West Pipeline menyusul kerusakan yang dikaitkan
dengan serangan drone dari Irak.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,3%
menjadi US$ 102,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai
patokan internasional menguat 2,4% menjadi US$ 107,11 per barel.
Kenaikan harga tersebut menunjukkan bahwa setiap eskalasi di
sekitar Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasar
energi global, mengingat pentingnya kawasan tersebut bagi lalu lintas minyak
dan gas internasional.