Harga minyak relatif stabil karena Amerika Serikat (AS) dan China memperpanjang jeda tarif yang lebih tinggi -->

Harga minyak relatif stabil karena Amerika Serikat (AS) dan China memperpanjang jeda tarif yang lebih tinggi

Rabu, 13 Agustus 2025

 Harga minyak relatif stabil karena Amerika Serikat (AS) dan China memperpanjang jeda tarif yang lebih tinggi, meredakan kekhawatiran bahwa eskalasi perang dagang akan berdampak pada konsumsi minyak.



Minyak mentah Brent berjangka turun 2 sen menjadi US$ 66,61 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 10 sen atau 0,2% menjadi US$ 63,86 per barel.

Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tarif dengan China hingga 10 November, menunda pengenaan bea masuk tiga digit untuk barang-barang China karena para pengecer AS bersiap menghadapi musim liburan akhir tahun yang krusial.

Hal ini meningkatkan harapan bahwa kesepakatan dapat dicapai antara dua ekonomi terbesar dunia dan mencegah embargo perdagangan virtual di antara mereka. Tarif berisiko memperlambat pertumbuhan global, yang dapat melemahkan permintaan bahan bakar dan menurunkan harga minyak.

"Pergerakan harga minyak juga didukung oleh tanda-tanda pelemahan baru di pasar tenaga kerja AS, yang telah meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve pada September," kata analis senior di perusahaan Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (12/8/2025).

Data inflasi AS yang juga menjadi sorotan adalah data yang dapat membentuk arah suku bunga The Fed. Pemangkasan suku bunga biasanya mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan minyak.

Pada sisi lain, Donald Trump menetapkan batas waktu bagi Rusia untuk menyetujui perdamaian di Ukraina atau pembeli minyaknya akan menghadapi sanksi sekunder, sembari menekan India dan China untuk mengurangi pembelian minyak Rusia. 

ADVERTISEMENT