DRadioQu.com, PESAWARAN — Warga Ceringin Asri, Kecamatan Way Ratai, kembali dibuat resah akibat dugaan pembuangan limbah pengolahan emas ke aliran sungai setempat pada Jumat, 14 November 2025. Kejadian ini menjadi salah satu dan terparah dari rangkaian insiden serupa yang telah berulang kali dikeluhkan masyarakat.
Seorang warga yang memviralkan kondisi sungai melalui video mengaku sempat didatangi pihak terkait aktivitas pengolahan emas tersebut dengan bersikap baik. Namun demikian, ia tetap meminta bantuan dan perlindungan kepada organisasi yang diikutinya karena khawatir dianggap menghambat usaha maupun memprovokasi warga. “Saya hanya ingin menjaga lingkungan. Sungai itu bukan hanya air mengalir, melainkan nadi kehidupan keluarga Nahdliyyin di sini,” ujarnya.
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Salah satu warga lain menyebut, perubahan warna air sungai kali ini lebih pekat daripada sebelumnya. “Setiap limbah masuk, ikan pasti mati. Bau belerangnya menusuk. Kami pakai sungai untuk mandi dan cuci, jadi jelas kami takut,” katanya.
Warga lainnya, menambahkan bahwa insiden semacam ini sudah terlalu sering terjadi. “Kalau dibiarkan, lama-lama bukan hanya ikan yang mati. Anak-anak kami yang main di sungai bisa kena dampaknya. Kami tidak mau kejadian ini dianggap sepele lagi,” ujarnya dengan nada kecewa.
Meski sejauh ini warga tidak mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi ikan dari sungai, kekhawatiran terhadap efek jangka panjang tetap tinggi. Warga berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan meminta pengelola usaha menunjukkan itikad penyelesaian yang lebih konkret.
Menanggapi situasi yang berkembang, Olvi—yang disebut-sebut terkait dengan lokasi usaha—memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan pemilik usaha pengolahan emas, melainkan pemilik lahan yang disewa pihak lain.
Namun demikian, ia mengaku merasa perlu bertanggung jawab secara moral. “Walaupun saya bukan pengelola, saya tidak ingin warga merasa ditelantarkan. Begitu tahu ada masalah, saya langsung mendatangi warga,” jelasnya dengan lugas pada awak media yang menyambangi dikediamannya.
Olvi juga membuka ruang dialog agar penyelesaian masalah dapat ditempuh secara damai dan bermartabat. “Saya siap membantu apa yang bisa saya bantu. Saya berharap warga datang dengan kekeluargaan. Mari kita duduk bersama, cari solusi yang baik, bukan saling menyalahkan. Sungai ini milik kita semua,” tegasnya.
Warga berharap kejadian ini tidak hanya selesai dengan permintaan maaf atau janji perbaikan semata. Mereka menginginkan adanya pengawasan, kepastian pengelolaan limbah yang aman, serta penegakan hukum bagi pelaku usaha yang lalai.
“Jangan tunggu sungai rusak total. Kami butuh tindakan nyata,” ujar seorang pemuda setempat. (Brm)