Gelombang protes antipemerintah di Iran dilaporkan mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun, meredanya aksi tersebut bukan karena situasi membaik -->

Gelombang protes antipemerintah di Iran dilaporkan mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun, meredanya aksi tersebut bukan karena situasi membaik

Sabtu, 17 Januari 2026

   Gelombang protes antipemerintah di Iran dilaporkan mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun, meredanya aksi tersebut bukan karena situasi membaik, melainkan akibat ketakutan mendalam warga setelah penindakan keras aparat keamanan.



Melansir Mirror, Jumat (16/1/2026), sejumlah sumber menyebut demonstrasi berubah mematikan setelah aparat diperintahkan menembak massa.

Lembaga berbasis Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency, mencatat sedikitnya 2.615 orang tewas sejak aksi protes pecah. Meski pembunuhan massal dilaporkan mereda untuk sementara, suasana mencekam justru semakin terasa.Warga menggambarkan kehadiran aparat bersenjata lengkap di jalan-jalan utama. Tank dan truk militer dilaporkan berpatroli di sejumlah kota, dengan pasukan bersenjata mengawasi warga sipil.

“Ada tank di mana-mana. Truk berisi orang-orang bersenjata mengarahkan senjata ke siapa pun di jalan,” ujar seorang sumber kepada media internasional.

Sumber lain menyebut aparat kepolisian menghentikan warga secara acak di Teheran.

“Tidak ada lagi protes karena pembunuhan besar-besaran. Orang-orang sangat ketakutan,” katanya.

Meski aktivitas lalu lintas di ibu kota Teheran terlihat kembali normal, kondisi tersebut dinilai mencerminkan tekanan psikologis, bukan stabilitas. Banyak warga memilih tetap di rumah demi keselamatan.

Situasi ini berkembang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran terkait rencana eksekusi terhadap demonstran. Trump menyatakan akan mengambil tindakan sangat kuat jika eksekusi berlanjut, seraya menyebut bantuan sedang dalam perjalanan.

Salah satu kasus yang memicu kecaman global adalah ancaman eksekusi terhadap Erfan Soltani, pemilik toko berusia 26 tahun yang ditangkap seusai diduga ikut demonstrasi. Ancaman tersebut kemudian dilaporkan mereda setelah tekanan internasional meningkat.

Pada sisi lain, media pemerintah Iran bahkan menyiarkan ancaman pembunuhan terhadap Trump, menambah ketegangan politik internasional di tengah krisis domestik Iran.

Meski protes jalanan tampak mereda, kelompok HAM menilai akar persoalan belum terselesaikan. Penurunan aksi lebih disebabkan rasa takut, bukan hilangnya kemarahan publik.