Ketegangan global kembali meningkat setelah
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan ambisinya
untuk mengakuisisi Greenland.
Pernyataan tersebut tidak hanya memicu perdebatan tajam pada
ranah diplomasi internasional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius di
kalangan sekutu Amerika Serikat, khususnya dalam aliansi pertahanan North Atlantic
Treaty Organization (NATO).
Isu Trump merebut Greenland kembali mencuat sebagai sorotan
utama karena menyangkut kedaulatan wilayah otonom milik Kerajaan Denmark yang
memiliki posisi strategis di Kawasan Arktik.
Sejumlah negara NATO pun mulai mengambil sikap tegas untuk
memastikan prinsip kedaulatan dan integritas teritorial tetap dihormati.
Trump Pertimbangkan Opsi Militer untuk Greenland
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan
Presiden Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk penggunaan
kekuatan militer, dalam upaya merebut Greenland.
Menurut Karoline, langkah tersebut dinilai sebagai bagian
dari kepentingan strategis Amerika Serikat dalam menjaga keamanan nasional.
“Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas mengakuisisi
Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, dan ini sangat
penting untuk mencegah musuh kita di wilayah Arktik,” ujar Leavitt seperti
dikutip dari AFP, Kamis (8/1/2026).
Ia menambahkan hingga kini Trump dan tim kebijakan luar
negerinya masih mendiskusikan langkah paling efektif untuk mencapai tujuan
tersebut. Penggunaan kekuatan militer, meski kontroversial, disebut tetap
menjadi salah satu opsi yang tersedia.
“Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk
mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja,
penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima
tertinggi,” tambah Leavitt.
Enam Negara NATO Tegas Tolak Ambisi Trump atas Greenland
Pernyataan Trump Greenland tersebut langsung memicu reaksi
keras dari Eropa. Bersama Denmark, enam negara anggota NATO secara terbuka
menolak ambisi Trump dan menyerukan penghormatan penuh terhadap kedaulatan
Greenland.
Keenam negara tersebut adalah Prancis, Jerman, Italia,
Polandia, Spanyol, dan Inggris. Dalam pernyataan bersama, ketujuh negara
menegaskan Greenland merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark dan tidak dapat
dijadikan objek klaim sepihak oleh negara mana pun.
“Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan
Greenland yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut masa depan Denmark dan
Greenland,” tegas para pemimpin ketujuh negara dalam pernyataan resmi mereka.
Seruan tersebut menekankan pentingnya penghormatan terhadap
kedaulatan, integritas teritorial, serta keutuhan perbatasan Greenland sebagai
bagian dari upaya menjaga stabilitas Kawasan Arktik.
Keamanan Arktik Jadi Prioritas Kolektif NATO
Dalam pernyataan yang sama, negara-negara NATO tersebut juga
menegaskan keamanan kawasan Arktik harus dijaga secara kolektif melalui kerja
sama multilateral. Mereka menyebut banyak negara Eropa telah meningkatkan
kehadiran militer, aktivitas strategis, serta investasi untuk memastikan stabilitas
di wilayah Greenland.
“Keamanan Arktik harus dicapai secara kolektif bersama
sekutu-sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan tetap menjunjung tinggi
prinsip-prinsip Piagam PBB, seperti kedaulatan, integritas teritorial, dan
perbatasan yang tidak dapat diganggu gugat,” bunyi pernyataan bersama tersebut.
Para pemimpin NATO juga menegaskan Prinsip-prinsip tersebut
bersifat universal dan akan terus dibela demi menjaga tatanan internasional
yang berbasis hukum.
AS Tetap Diakui sebagai Mitra Strategis
Meski menolak ambisi Trump Greenland, negara-negara NATO
tetap menegaskan posisi Amerika Serikat sebagai mitra penting dalam menjaga
stabilitas Kawasan Arktik.
Hal ini merujuk pada status AS sebagai sekutu NATO serta
adanya perjanjian pertahanan antara Kerajaan Denmark dan Amerika Serikat yang
telah berlaku sejak 1951.
Selain itu, negara-negara Nordik dan Arktik, seperti
Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia juga menyatakan komitmen kolektif
untuk menjaga keamanan dan stabilitas Greenland melalui peningkatan pencegahan
dan pertahanan kawasan.
“Kami telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan
pencegahan dan pertahanan di kawasan ini, termasuk melalui peningkatan
kemampuan, aktivitas, kehadiran, serta kesadaran situasional,” ujar para
menteri luar negeri negara-negara Nordik.
Isu Trump tersebut pun menegaskan, Greenland bukan sekadar
wilayah geografis, melainkan titik krusial dalam persaingan geopolitik global.
Dukungan luas NATO terhadap kedaulatan Greenland menjadi sinyal kuat masa depan
wilayah Arktik harus ditentukan melalui kerja sama internasional, bukan tekanan
sepihak.