Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memaparkan sejumlah sektor yang dinilai berpotensi besar mendorong realisasi investasi nasional pada 2026 -->

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memaparkan sejumlah sektor yang dinilai berpotensi besar mendorong realisasi investasi nasional pada 2026

Jumat, 16 Januari 2026

 


Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memaparkan sejumlah sektor yang dinilai berpotensi besar mendorong realisasi investasi nasional pada 2026.

Sektor-sektor tersebut meliputi energi baru terbarukan (EBT), ekonomi digital, kawasan industri, serta waste to energy.

Rosan yang juga menjabat sebagai kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Chief Executive Officer (CEO) Danantara menyebut sektor EBT menjadi salah satu fokus utama pemerintah karena minat investor yang sangat tinggi, sejalan dengan kebijakan transisi energi nasional.

“Tentunya kita ingin mendorong salah satunya sektor yang potensinya sangat besar dan appetite-nya dari investor juga sangat tinggi, yaitu energi baru terbarukan atau renewable energy,” ujar Rosan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, porsi EBT dalam bauran energi nasional ke depan diproyeksikan mencapai 76%, sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN. “Potensi kita mencapai 3.700 gigawatt, tetapi yang sudah terpasang baru sekitar 15,1 gigawatt,” kata Rosan.

Menurutnya, potensi EBT Indonesia tersebar pada berbagai sumber, antara lain tenaga surya, hidro, dan panas bumi (geothermal). Untuk sektor panas bumi, minat investor dinilai cukup kuat, khususnya dari Jepang. Meski demikian, pemerintah masih perlu melakukan pembenahan, terutama terkait aspek perizinan.

Sebagai contoh, Rosan menyebut adanya rencana investasi geothermal dari Jepang dengan nilai penanaman modal sekitar US$ 900 juta yang akan mulai dibangun pada tahun ini.

Selain energi, Rosan menilai kawasan industri dan ekonomi digital juga akan menjadi motor penting investasi ke depan. Pada sektor ekonomi digital, investasi data center diproyeksikan tumbuh signifikan, terutama dari para hyperscaler global.

Indonesia, lanjut Rosan, telah menjalin komunikasi intensif dengan calon investor sejak tahun lalu dan melihat peluang investasi besar di sektor ini pada 2026. “Investasinya akan meningkat cukup signifikan, bahkan sangat signifikan,” ungkapnya.

Sektor lain yang tidak kalah penting, menurut Rosan, adalah waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Ia mengatakan proses tender proyek-proyek waste to energy sudah mulai berjalan dan mendapat respons positif dari investor.

Rosan menegaskan, pemerintah akan memastikan setiap investasi yang masuk tetap memperhatikan aspek keberlanjutan. Dengan demikian, investasi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan, penguasaan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

 

“Kita selalu berupaya agar investasi yang masuk memiliki standar kelas dunia, baik dari sisi operasional maupun teknologi, sehingga sumber daya manusia kita juga terus meningkat,” kata Rosan.