Pasukan militer China
mengumumkan pihaknya telah berhasil menyelesaikan latihan militer di sekitar
Taiwan. Latihan militer ini mencakup latihan tembak langsung, yang bertujuan
untuk mensimulasikan blokade pelabuhan-pelabuhan utama dan serangan terhadap
target maritim.
Mengutip laporan Channel News
Asia, Rabu (31/12/2025), dalam latihan militer ini, pasukan China meluncurkan
rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, dan kapal
penjaga pantai selama dua hari berturut-turut, Senin (29/12/2025) hingga Selasa
(30/12/2025) di sekitar pulau utama Taiwan berpenduduk 23 juta jiwa tersebut.
“Latihan yang diberi kode
nama “Misi Keadilan 2025” telah berhasil diselesaikan,” kata bunyi keterangan
Eastern Theater Command of China's People’s Liberation Army.
Merespons latihan militer
China, otoritas Taiwan mengecam keras latihan yang disebut sebagai tindakan
sangat provokatif dan sembrono. Meski penjaga pantai Taiwan menyebut sejumlah
kapal perang dan kapal penjaga pantai China mulai mundur, namun 11 kapal Taiwan
tetap ditempatkan karena kapal China belum sepenuhnya meninggalkan perairan
tersebut.
Pemimpin Taiwan, Lai Ching Te
menegaskan, latihan militer China tersebut jelas menimbulkan risiko signifikan
bagi keamanan kawasan.
“Ekspansi otoriter China dan
paksaan yang meningkat menimbulkan risiko terhadap stabilitas regional,
pelayaran, perdagangan, dan perdamaian global,” katanya.
Latihan militer China
tersebut dilakukan setelah penjualan paket senjata senilai US$ 11,1 miliar atau
sekitar Rp 172 triliun dari AS ke Taiwan, dan komentar dari Perdana Menteri
Jepang Sanae Takaichi yang memperingatkan penggunaan kekuatan terhadap Taiwan
oleh China dapat memicu respons militer dari pemerintah Jepang.