Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)
Universitas Indonesia (UI), Mervin Goklas, menilai target pertumbuhan ekonomi
sebesar 6% perlu diiringi dengan strategi yang jelas dan realistis.
Menurutnya, pemerintah perlu menunjukkan peta jalan yang
konkret agar target tersebut dapat dinilai layak dicapai.
“Kembali lagi, kita harus memastikan ekspektasinya rasional,
dalam arti bisa dicapai,” kata Mervin kepada Beritasatu.com usai menghadiri acara
The Forum B-Universe, Focus Group Discussion bertema “Outlook 2026: Atur
Strategi Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 6%” di Kantor B-Universe, PIK 2,
Tangerang, Rabu (14/1/2025).
Ia menjelaskan, target pertumbuhan boleh saja dipatok
tinggi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah memaparkan cara
untuk mencapainya. Tanpa strategi yang terukur, angka 6% berisiko hanya menjadi
target di atas kertas.
“Kalau mau ditargetkan boleh, tetapi pastikan pemerintah
menyampaikan bagaimana cara mereka mencapai target tersebut. Dari situlah kita
bisa menilai apakah 6% itu realistis atau tidak,” ujarnya.
Melvin menyoroti pentingnya kualitas belanja pemerintah
dalam mendorong pertumbuhan. Ia menilai salah satu pekerjaan rumah utama adalah
mengurangi belanja yang tidak produktif dan mengarahkannya ke sektor-sektor
yang memberikan dampak langsung bagi perekonomian.
“Yang pertama, belanja yang tidak produktif. Untuk
memastikan pemerintah dapat meningkatkan daya ungkit sebagai motor pertumbuhan
dan mengejar target 6%, belanja harus diarahkan ke sektor yang paling
produktif,” tandasnya.