DRadioQu.com, PESAWARAN — Suasana Masjid Ar Rahman, Tanjung Jati Tengah, Desa Kedondong, Kabupaten Pesawaran, terasa khidmat dan menyejukkan kalbu saat peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW digelar. Jamaah memadati masjid sejak awal acara, menghadirkan nuansa spiritual yang kental—hening, namun penuh makna.
Peringatan Isra Mi’raj kali ini menghadirkan penceramah KH. Santibi dari Sukoharjo, Pringsewu. Dalam tausiyahnya, KH. Santibi menekankan esensi utama dari peristiwa agung Isra Mi’raj, yakni perintah shalat yang diterima langsung Rasulullah SAW dari Allah SWT. Ia mengajak jamaah untuk memaknai shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebagai fondasi kehidupan, penopang iman, dan penuntun akhlak dalam keseharian.
“Isra Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan langit, tetapi pesan bumi—agar manusia tidak jauh dari shalat,” ujar KH. Santibi dengan bahasa sederhana namun menyentuh, membuat jamaah larut dalam perenungan.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Ustadz Usturi Rozak, yang juga berasal dari wilayah yang sama dengan penceramah. Bacaan Al-Qur’an yang merdu menggema di dalam masjid, seakan menjadi pengantar ruhani sebelum nasihat keagamaan disampaikan.
Hadir dalam kegiatan tersebut M. Padli, S selaku Kepala Desa Kedondong dan Irwan Rosa selaku Camat Kedondong. Keduanya menyampaikan harapan agar peringatan Isra Mi’raj ini menjadi bekal amal saleh bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi antarwarga.
“Kegiatan keagamaan seperti ini bukan hanya seremonial, tetapi investasi akhirat yang nilainya jauh melampaui dunia,” ujar Kepala Desa Kedondong. Senada dengan itu, Camat Kedondong menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan nilai-nilai religius sebagai pondasi sosial masyarakat.
Seperti lazimnya kegiatan keagamaan, acara ini dihadiri mayoritas kaum ibu dari berbagai majelis taklim se-Desa Kedondong. Turut hadir pula tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur desa, serta unsur kecamatan yang tidak hanya hadir secara formal, tetapi juga terlibat aktif dalam rangkaian acara.
Peringatan Isra Mi’raj di Masjid Ar Rahman ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, masih ada ruang sunyi untuk menata hati, memperbaiki shalat, dan merajut kebersamaan. Sebuah momentum spiritual yang sederhana, namun sarat makna—karena dari masjid, ketenangan sering kali menemukan jalannya. (Brm)