Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan
Bimoky mengatakan dirinya membawa karakter robot bernama Batik dalam film
“Pelangi di Mars” sebagai sosok ayah yang melindungi anaknya dan terasa dekat
dengan kehidupan keluarga sehari-hari.
“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi,
kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang
nanti menonton,” kata Bimo saat ditemui dalam acara intimate screening film Pelangi
di Mars di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan dalam membangun karakter robot Batik, dirinya
mengambil pengalaman pribadi sebagai seorang ayah yang memiliki anak yang harus
dilindungi. Meski digambarkan sebagai robot, ia berusaha menghadirkan sosok
Batik melalui suara yang terasa personal dan relevan dengan figur ayah di dunia
nyata.
Dalam proses pengembangan karakter suara Batik, Bimo mengaku
sempat mengalami kesulitan karena harus melakukan pengambilan vokal selama
sekitar satu minggu dengan tipe suara berat yang menggambarkan robot rusak
sehingga membuat suaranya kerap serak.
“Totalnya dari suaranya itu sekitar seminggu. Tapi dari pagi
sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara
sudah serak banget. Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak
bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” ujar Bimo.
Bimo mengaku bersyukur dapat terlibat dalam film tersebut
karena sekaligus memperkenalkan profesi pengisi suara sebagai bagian dari
talenta kreatif dalam produksi film animasi.
Ia juga menilai penggunaan teknologi extended reality (XR) dalam
film Pelangi di Mars dapat menjadi standar baru bagi perkembangan film nasional
yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual.
“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih
jauh sama Hollywood’. Mungkin mindset-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia
ternyata sudah sampai di tahap ini. Kalau kita menghargai setiap proses dan
karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih
bagus ke depan,” kata Bimo.