Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan Bimoky mengatakan dirinya membawa karakter robot bernama Batik dalam film “Pelangi di Mars” -->

Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan Bimoky mengatakan dirinya membawa karakter robot bernama Batik dalam film “Pelangi di Mars”

Sabtu, 14 Maret 2026

 




Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan Bimoky mengatakan dirinya membawa karakter robot bernama Batik dalam film “Pelangi di Mars” sebagai sosok ayah yang melindungi anaknya dan terasa dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari.

“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi, kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang nanti menonton,” kata Bimo saat ditemui dalam acara intimate screening film Pelangi di Mars di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan dalam membangun karakter robot Batik, dirinya mengambil pengalaman pribadi sebagai seorang ayah yang memiliki anak yang harus dilindungi. Meski digambarkan sebagai robot, ia berusaha menghadirkan sosok Batik melalui suara yang terasa personal dan relevan dengan figur ayah di dunia nyata.

Dalam proses pengembangan karakter suara Batik, Bimo mengaku sempat mengalami kesulitan karena harus melakukan pengambilan vokal selama sekitar satu minggu dengan tipe suara berat yang menggambarkan robot rusak sehingga membuat suaranya kerap serak.

“Totalnya dari suaranya itu sekitar seminggu. Tapi dari pagi sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara sudah serak banget. Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” ujar Bimo.

Bimo mengaku bersyukur dapat terlibat dalam film tersebut karena sekaligus memperkenalkan profesi pengisi suara sebagai bagian dari talenta kreatif dalam produksi film animasi.

Ia juga menilai penggunaan teknologi extended reality (XR) dalam film Pelangi di Mars dapat menjadi standar baru bagi perkembangan film nasional yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual.

“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih jauh sama Hollywood’. Mungkin mindset-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia ternyata sudah sampai di tahap ini. Kalau kita menghargai setiap proses dan karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih bagus ke depan,” kata Bimo.