Pengamat politik senior Boni Hargens mengemukakan program
"Mudik Gratis Polri Presisi 2026" merupakan wujud nyata transformasi
Polri dari kekuasaan menuju pelayanan.
Menurut dia, program tersebut bukan sekadar inisiatif
seremonial, melainkan wujud konkret dari perubahan paradigma Polri dalam
memandang hubungannya dengan masyarakat.
"Sebuah transformasi budaya kelembagaan yang
fundamental, dari power approach menuju servant approach, kini mulai dirasakan
langsung oleh masyarakat luas," ucap Boni dalam keterangan di Jakarta,
Senin.
Maka dari itu, dia berpendapat Polri, di bawah komando
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, telah memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap kesuksesan perayaan Idul Fitri tahun ini melalui program
Mudik Gratis Polri Presisi 2026.
Dengan menghadirkan program mudik gratis, sambung Boni,
Polri secara aktif meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan perjalanan
berlangsung aman dan tertib sehingga totalitas pengabdian personel Polri dalam
momen tersebut tidak dapat diragukan lagi.
Selain itu, pengamanan arus mudik dan balik dilakukan secara
menyeluruh, mulai dari pengaturan lalu lintas di titik-titik kritis,
pendampingan perjalanan, hingga pelayanan informasi bagi para pemudik.
Boni mengatakan bahwa dedikasi tersebut mencerminkan
semangat korps yang telah berubah secara mendasar dalam memaknai tugas dan
tanggung jawab kepada bangsa.
Dia menuturkan transformasi yang dilakukan Polri di bawah
kepemimpinan Kapolri bukan sekadar perubahan kosmetik atau pergantian seragam
semata.
Dengan demikian, transformasi tersebut merupakan sebuah
pergeseran paradigma yang dalam dan menyeluruh dari power approach (pendekatan
kekuasaan) yang menjadi ciri dominan tradisi kepolisian lama, menuju servant
approach (pendekatan pelayanan) sebagai fondasi baru identitas institusi.
Dalam tradisi lama, dia mengatakan institusi kepolisian
kerap diposisikan dan memposisikan sebagai entitas yang berkuasa atas
masyarakat sehingga relasi yang terbangun cenderung hierarki dan satu arah, di
mana polisi memerintah serta masyarakat mematuhi.
Meskipun memiliki logika ketertiban tersendiri, dia menilai
pendekatan tersebut pada kenyataannya menjauhkan polisi dari masyarakat yang
seharusnya dilayaninya.
Sebaliknya, pendekatan pelayanan menempatkan personel
kepolisian sebagai pelayan publik yang hadir untuk membantu, melindungi, dan memberdayakan
masyarakat.
"Dalam pendekatan ini kewenangan tetap ada, namun
digunakan sebagai alat untuk menghadirkan keamanan dan kenyamanan, bukan
sebagai instrumen intimidasi atau dominasi," ujarnya.
Karena itu, tambah Boni, Kapolri layak mendapatkan apresiasi
yang tulus atas keberhasilannya dalam mewujudkan slogan PRESISI dalam situasi
dan konteks yang tepat.
Menurut dia, kepemimpinan yang efektif tidak hanya soal
memiliki visi yang baik, tetapi soal kemampuan untuk menerjemahkan visi
tersebut ke dalam tindakan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat.
Ia juga menyoroti pengorbanan tak ternilai oleh anggota
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Brigadir Fajar Permana yang gugur dalam
tugas pengamanan mudik.
Boni berpendapat gugurnya Brigadir Fajar sebagai fakta yang
menjadi pengingat keras bahwa setiap momen keamanan yang dirasakan masyarakat
merupakan buah dari dedikasi bahkan nyawa para penjaga ketertiban.
Dengan demikian, kepergian Brigadir Fajar dalam menjalankan
tugas merupakan bukti paling autentik dari totalitas Polri sehingga bukan
sekadar statistik pengabdian, melainkan cerminan dari transformasi nilai yang
benar-benar telah meresap ke dalam jiwa korps kepolisian.
Disebutkan bahwa personel yang rela berkorban jiwa dalam
menjalankan tugas pelayanan merupakan personel yang telah menghayati makna sejati
dari pendekatan pelayanan.
Boni menyampaikan pengorbanan semacam itu sepatutnya
mendapat apresiasi dan penghormatan seluruh bangsa.
"Ini mengingatkan keamanan dan kenyamanan yang
masyarakat nikmati selama perjalanan Idul Fitri tidak datang begitu saja,
tetapi diperjuangkan dengan sepenuh hati oleh para abdi negara yang berdiri
tegak di setiap sudut jalanan," ucap Boni menegaskan.