Polsek Pasar Rebo menggerebek tiga toko penjual obat keras
yang viral diserang dan ditembaki petasan oleh sekelompok orang tak dikenal di
Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Senin (9/3) malam.
"Kami dari Polsek Pasar Rebo menindaklanjuti dengan
cepat informasi tersebut dengan mendatangi lokasi, terutama di Jalan Raya
Bogor, di depan PT Meiyume, di depan Mixue, dan lokasi ketiga di Jalan Lestari,
Kalisari," kata Kapolsek Pasar Rebo AKP I Wayan Wijaya di Kantor Walikota
Jakarta Timur, Selasa.
Dia menyebutkan penggerebekan itu dilakukan untuk menjawab
keresahan masyarakat terkait peredaran obat tersebut.
Dari hasil pemeriksaan di tiga lokasi tersebut, petugas
menemukan sejumlah obat yang diduga termasuk dalam kategori obat keras yang
seharusnya hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.
Secara keseluruhan, terdapat 15 papan obat daftar G yang
diamankan dari kios-kios tersebut.
Penggerebekan itu dilakukan dengan melibatkan pengurus
lingkungan setempat, seperti RT dan RW, serta pemilik kios.
Petugas kemudian melakukan penggeledahan di dalam kios yang
sebelumnya diketahui disewakan untuk usaha lain.
Menurut Wayan, awalnya kios tersebut digunakan untuk
berjualan kosmetik, perangkat telepon genggam, serta tisu.
Namun, dalam praktiknya kios tersebut disalahgunakan untuk
menjual obat-obatan keras secara ilegal.
"Awalnya, lokasi itu dipergunakan untuk sewa kosmetik,
perangkat HP (handphone/telepon genggam), dan tisu. Tapi, ternyata
disalahgunakan untuk menjual obat-obatan keras," ujar Wayan.
Polisi juga mengungkap salah satu kios di kawasan Jalan Raya
Bogor itu sebenarnya sudah lama dilaporkan tutup oleh pemiliknya. Namun, para
penjual diduga tetap beroperasi secara sembunyi-sembunyi.
Berdasarkan keterangan pemilik kios, tempat tersebut sudah
sekitar enam bulan tidak beroperasi secara resmi, namun para pelaku diduga
membuka kios hanya dalam waktu singkat untuk menghindari pantauan petugas.
"Kios itu sudah lama tutup, informasi dari pemilik,
kurang lebih sudah enam bulan. Tapi, mereka tetap kucing-kucingan, buka sekitar
satu sampai dua jam, lalu tutup lagi," jelas Wayan.
Sebelumnya, sempat terjadi pelemparan petasan ke arah salah
satu kios tersebut. Peristiwa itu diduga dipicu oleh kekesalan warga yang
mengetahui aktivitas penjualan obat keras di lokasi tersebut.
Saat kejadian, kios diketahui sedang dalam kondisi terbuka
sehingga pelemparan petasan tersebut sempat menarik perhatian warga sekitar.
Menanggapi kejadian itu, pihak kepolisian mengimbau
masyarakat untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri apabila menemukan
dugaan tindak pidana serupa.
"Kami dari pihak kepolisian mengimbau kepada masyarakat
apabila menemukan kios yang menjual obat-obatan daftar G agar segera melaporkan
kepada pihak berwajib. Kami akan menindaklanjuti laporan tersebut," ucap
Wayan.
Dia menegaskan tindakan main hakim sendiri, seperti
pelemparan petasan berpotensi membahayakan lingkungan sekitar, bahkan dapat
memicu kebakaran.
"Kami minta masyarakat tidak main hakim sendiri karena
tindakan seperti itu bisa mengakibatkan kebakaran di sekitar lingkungan
kios," tutur Wayan.
Polisi memastikan terus meningkatkan patroli dan pengawasan
terhadap peredaran obat-obatan keras ilegal di wilayah Pasar Rebo guna menjaga
keamanan serta melindungi masyarakat dari penyalahgunaan obat berbahaya.
Tindakan pemuda yang menembaki toko obat dengan petasan itu
viral di media sosial Instagram @infocibubur._ dan @info.jakartatimurr.
Pelaku penembak itu mengendarai sepeda motor dan berhenti
sambil menyulutkan petasan yang kemudian diarahkan ke toko tersebut.
Salah satu pengendara sepeda motor yang sedang membeli harus
menghindar ketika melihat petasan mengarah ke dirinya.
Tembakan pertama masuk ke dalam toko hingga meledak. Pemilik
toko hanya bisa menunduk ketika diserang dengan tembakan oleh orang tak
dikenal.
Tindakan pemuda itu dapat memicu kebakaran dari percikan api
kembang api bila mengenai bahan mudah terbakar di dalam toko.
Dari suara video itu, terdengar penembakan itu terjadi
lantaran pelaku kesal karena toko obat tersebut belum juga tutup.
Orang yang merekam kejadian itu pun menduga toko obat itu
di-backup oleh oknum aparat sehingga masih tetap berjualan.