Aktris Scarlett Johansson menceritakan tantangan yang
dihadapi sebagai aktris muda di masa tahun awal 2000-an di industri akting
Hollywood.
Menurut laporan Variety, Minggu (12/4) waktu setempat,
Scarlett Johansson mengatakan tahun 2000-an adalah masa yang “sangat keras”
bagi aktris perempuan muda di Hollywood, lantaran pada periode tersebut secara
sosial dianggap wajar untuk “diadili dari penampilan”.
“Itu sulit. Banyak tekanan terkait penampilan perempuan.
Peran atau peluang yang ditawarkan bagi perempuan seusia saya saat itu jauh
lebih terbatas dibandingkan sekarang,” kata Johansson kepada CBS Sunday
Morning.
Menurut aktris kelahiran 1984 itu, setelah lebih dari dua
dekade kemudian merasa senang melihat kini terdapat “jauh lebih banyak peran
yang memberdayakan” bagi perempuan muda dibanding saat ia berusia 20-an yang di
mana pilihannya sangat terbatas di awal kariernya.
“Anda akan sangat mudah terjebak dalam satu tipe peran dan
terus ditawari hal yang sama. Biasanya hanya jadi perempuan lain, selingan,
atau sosok seksi. Itu adalah pola karakter yang dominan saat saya seusia itu,”
tutur dia.
Scarlett Johansson justru menemukan pelarian dari pelabelan
peran tersebut melalui dunia teater di New York City. Mengambil jeda dari
Hollywood juga mengajarkannya untuk menunggu “peran yang tepat”, alih-alih
mengikuti tekanan untuk terus bekerja tanpa henti.
“Itu sesuatu yang saya pelajari seiring waktu, tapi memang
sulit. Begitu mulai bekerja, merasa setiap pekerjaan bisa jadi yang terakhir,
sehingga ketika ada kesempatan, merasa harus mengambilnya. Meskipun mungkin
tidak bervariasi seperti pekerjaan yang benar-benar memberi Anda kesenangan,”
imbuh dia.
Bintang film "Black Widow" itu mengatakan bahwa
setiap aktor merasakan hal itu karena industrinya sangat kompetitif.
“Dan ketika Anda sudah mendapat sorotan, Anda ingin tetap
mempertahankannya. Itu naluri, terutama bagi aktor muda, bahkan semua aktor,”
kata Scarlett Johansson.
Scarlett Johansson baru berusia 17 tahun saat meraih peran
terobosannya dalam film drama 2003 “Lost in Translation”. Beberapa film awal
lainnya termasuk “The Perfect Score”, “Match Point”, “The Prestige”, “The Other
Boleyn Girl”, dan “Iron Man 2”.