Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyebutkan
bahwa teknologi 5G merupakan infrastruktur kritikal yang menjadi mesin
penggerak utama untuk menumbuhkan inovasi kecerdasan artifisial (artificial
intelligence/AI) serta ekonomi digital Indonesia mendukung visi Indonesia Emas
2045.
Sebagai praktisi teknologi konektivitas dan jaringan, Nora
mengatakan konektivitas yang saat ini mendominasi di Indonesia seperti 4G
maupun teknologi konektivitas tradisional lainnya apabila tidak segera di
tingkatkan menjadi 5G nantinya tidak lagi cukup untuk mendukung kebutuhan
pengembangan inovasi AI di masa depan.
"Untuk mendukung pengembangan industri AI di masa
mendatang, konektivitas yang sebelumnya sudah tidak lagi cukup. 4G dan WiFi
tidak dapat diandalkan untuk mengembangkan kecerdasan artifisial," kata
Nora dalam diskusi forum IndoTelko 2026 di Jakarta, Rabu.
Nora lebih lanjut mengatakan beragam aplikasi dan
gawai-gawai yang bergantung pada AI akan bekerja dengan baik berkat adanya
dukungan konektivitas dengan latensi rendah serta kemampuan uplink yang baik.
Dua kriteria itu merupakan hal yang bisa ditemui saat ini
pada teknologi konektivitas 5G. Maka dari itu, langkah mengimplementasikan 5G
agar lebih merata dan meluas perlu dilakukan oleh Indonesia.
Apalagi berdasarkan laporan organisasi operator seluler
global GSMA, implementasi 5G diproyeksikan mampu berkontribusi sebanyak 41 juta
dolar AS ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam periode 2024-2030.
Agar Indonesia dapat menangkap potensi penuh dari teknologi
5G, Nora mengatakan ada tiga area prioritas yang perlu diperhatikan.
Pertama, Indonesia harus segera melakukan pemerataan
infrastruktur digital 5G demi mendukung lebih banyak hadirnya inovasi-inovasi
baru seperti industri 4.0, pemerintahan digital, digitalisasi UMKM, serta
tumbuhnya perusahaan-perusahaan rintisan.
Lalu area kedua yang perlu diprioritaskan adalah
menghadirkan tata kelola spektrum frekuensi untuk lebih banyak mengakomodir 5G
secara nasional kepada masyarakat.
"Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih
dari 17 ribu pulau. Dengan merilis strategi spektrum yang tepat maka 5G akan
meningkatkan konektivitas yang inklusif, memberikan kualitas jaringan yang
baik, mendukung pembayaran digital lebih mudah, dan mendukung sektor penting
seperti pendidikan, pemerintahan, hingga layanan perbankan," kata Nora.
Terakhir, Nora menyoroti pentingnya kolaborasi Pemerintah
dengan pemangku kepentingan lainnya agar ekosistem digital yang ada dapat
semakin optimal setelah penerapan 5G secara masif.
Menutup pesannya, ia mengatakan tanpa adanya langkah
transformasi teknologi konektivitas ke 5G besar kemungkinan AI tidak bakal
bertumbuh dengan optimal untuk mengakselerasi ekonomi digital.
Maka dari itu, Indonesia perlu menangkap peluang dan tidak
kehilangan momentum agar tetap menjaga pertumbuhan digital yang positif dari
implementasi 5G.
"5G adalah fondasi untuk meningkatkan AI yang berdampak
pada ekonomi digital Indonesia. Teknologinya sudah ada di sini, ini saatnya
untuk mempercepat pemanfaatannya dengan menyiapkan kebijakan, ruang investasi,
dan ekosistem. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tetap dapat dicapai,"
kata Nora.