Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyebutkan bahwa teknologi 5G merupakan infrastruktur kritikal -->

Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyebutkan bahwa teknologi 5G merupakan infrastruktur kritikal

Kamis, 30 April 2026

 


Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyebutkan bahwa teknologi 5G merupakan infrastruktur kritikal yang menjadi mesin penggerak utama untuk menumbuhkan inovasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) serta ekonomi digital Indonesia mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Sebagai praktisi teknologi konektivitas dan jaringan, Nora mengatakan konektivitas yang saat ini mendominasi di Indonesia seperti 4G maupun teknologi konektivitas tradisional lainnya apabila tidak segera di tingkatkan menjadi 5G nantinya tidak lagi cukup untuk mendukung kebutuhan pengembangan inovasi AI di masa depan.

"Untuk mendukung pengembangan industri AI di masa mendatang, konektivitas yang sebelumnya sudah tidak lagi cukup. 4G dan WiFi tidak dapat diandalkan untuk mengembangkan kecerdasan artifisial," kata Nora dalam diskusi forum IndoTelko 2026 di Jakarta, Rabu.

Nora lebih lanjut mengatakan beragam aplikasi dan gawai-gawai yang bergantung pada AI akan bekerja dengan baik berkat adanya dukungan konektivitas dengan latensi rendah serta kemampuan uplink yang baik.

Dua kriteria itu merupakan hal yang bisa ditemui saat ini pada teknologi konektivitas 5G. Maka dari itu, langkah mengimplementasikan 5G agar lebih merata dan meluas perlu dilakukan oleh Indonesia.

Apalagi berdasarkan laporan organisasi operator seluler global GSMA, implementasi 5G diproyeksikan mampu berkontribusi sebanyak 41 juta dolar AS ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam periode 2024-2030.

Agar Indonesia dapat menangkap potensi penuh dari teknologi 5G, Nora mengatakan ada tiga area prioritas yang perlu diperhatikan.

Pertama, Indonesia harus segera melakukan pemerataan infrastruktur digital 5G demi mendukung lebih banyak hadirnya inovasi-inovasi baru seperti industri 4.0, pemerintahan digital, digitalisasi UMKM, serta tumbuhnya perusahaan-perusahaan rintisan.

Lalu area kedua yang perlu diprioritaskan adalah menghadirkan tata kelola spektrum frekuensi untuk lebih banyak mengakomodir 5G secara nasional kepada masyarakat.

"Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Dengan merilis strategi spektrum yang tepat maka 5G akan meningkatkan konektivitas yang inklusif, memberikan kualitas jaringan yang baik, mendukung pembayaran digital lebih mudah, dan mendukung sektor penting seperti pendidikan, pemerintahan, hingga layanan perbankan," kata Nora.

Terakhir, Nora menyoroti pentingnya kolaborasi Pemerintah dengan pemangku kepentingan lainnya agar ekosistem digital yang ada dapat semakin optimal setelah penerapan 5G secara masif.

Menutup pesannya, ia mengatakan tanpa adanya langkah transformasi teknologi konektivitas ke 5G besar kemungkinan AI tidak bakal bertumbuh dengan optimal untuk mengakselerasi ekonomi digital.

Maka dari itu, Indonesia perlu menangkap peluang dan tidak kehilangan momentum agar tetap menjaga pertumbuhan digital yang positif dari implementasi 5G.

"5G adalah fondasi untuk meningkatkan AI yang berdampak pada ekonomi digital Indonesia. Teknologinya sudah ada di sini, ini saatnya untuk mempercepat pemanfaatannya dengan menyiapkan kebijakan, ruang investasi, dan ekosistem. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tetap dapat dicapai," kata Nora.