Direktur Risk Management PT Bank Syariah Indonesia (Persero)
Tbk (BSI) Grandhis Helmi Harumansyah menyatakan perseroan mencatatkan
pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy)
menjadi Rp328,54 triliun per triwulan I 2026.
Ia menuturkan pertumbuhan pembiayaan perseroan lebih tinggi
dibandingkan yang dialami oleh industri perbankan secara keseluruhan. Pada
Februari 2026, kredit BSI naik 14,32 persen yoy, sementara kenaikan di industri
hanya 9,37 persen yoy.
“Hal tersebut mendorong pertumbuhan pangsa pasar pembiayaan
yang terus mengalami peningkatan dibandingkan dengan perbankan nasional dan
perbankan syariah di Indonesia,” kata Grandhis Helmi Harumansyah di Jakarta,
Selasa.
Perseroan memiliki pangsa pasar pembiayaan sebesar 3,77
persen dari keseluruhan pangsa pasar kredit perbankan nasional pada Februari
2026.
Ia mengatakan pertumbuhan pembiayaan perseroan sepanjang
Januari-Maret 2026 terutama ditopang oleh segmen consumer, gold, and card
dengan kenaikan 17,59 persen yoy menjadi Rp184,28 triliun. Segmen tersebut
mendominasi penyaluran pembiayaan perusahaan dengan porsi sebesar 56,09 persen.
Secara rinci, pembiayaan segmen konsumer meningkat 9,19
persen yoy menjadi Rp154,58 triliun, pembiayaan segmen gold (bisnis emas)
melonjak 101,23 persen yoy menjadi Rp28,84 triliun, dan pembiayaan segmen card
(kartu pembayaran) tumbuh 5,03 persen yoy menjadi Rp853 miliar.
Grandhis menyatakan pertumbuhan kredit perseroan juga
didukung oleh segmen wholesale yang mengalami kenaikan 12,59 persen yoy menjadi
Rp90,77 triliun, terdiri dari segmen corporate (korporasi) Rp71,8 triliun dan segmen
commercial (komersial) Rp18,97 triliun.
Selain itu, pertumbuhan pembiayaan juga disumbang oleh
segmen ritel yang meningkat 7,25 persen yoy menjadi Rp53,49 triliun.
Kinerja positif pembiayaan tersebut pun didukung dengan cash
coverage yang semakin meningkat menjadi 254 persen, Cost of Credit (CoC) yang
terus menurun menjadi 0,73 persen, serta Non-Performing Financing (NPF) gross
dan net yang terjaga pada kuartal I 2026.
“Rasio NPF gross membaik menjadi 1,80 persen dengan NPF net
yang juga menunjukkan perbaikan menjadi 0,38 persen,” imbuh Grandhis.