Seorang komandan senior militer Ukraina menyebut enam bulan ke depan menjadi periode krusial yang dapat menentukan arah perang melawan Rusia, sekaligus membuka peluang memperkuat posisi dalam perundingan damai.
Komandan Korps Angkatan Darat Ketiga Ukraina, Brigadir Jenderal Andriy Biletsky, mengatakan Ukraina memiliki jendela waktu sekitar enam bulan untuk merebut kembali inisiatif di medan perang setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung.
Menurutnya, pada periode tersebut Rusia dinilai mulai mengalami kelelahan militer, sementara pasukan Ukraina berupaya meningkatkan tekanan di berbagai lini pertempuran.
“Saya percaya enam hingga sembilan bulan ke depan adalah titik balik. Lebih tepatnya, enam bulan ke depan adalah yang paling kritis,” kata Biletsky dalam wawancara dengan ReutersIa menilai pasukan Rusia saat ini tidak lagi mampu melakukan terobosan besar seperti pada fase awal invasi, meski masih mencatatkan kemajuan bertahap di beberapa wilayah timur Ukraina.
Biletsky menyebut jika Ukraina mampu mempertahankan momentum dalam beberapa bulan ke depan, maka posisi negosiasi dengan Rusia dapat meningkat, terutama terkait wilayah Donetsk yang menjadi salah satu titik utama perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat.
“Kami perlu menentukan arah mana yang dapat memperbaiki posisi kami, mengambil titik strategis, lalu berbicara dengan Rusia dari posisi yang kuat, bukan lemah, untuk mencapai gencatan senjata yang stabil,” ujarnya.
Ia juga menegaskan kondisi di medan tempur saat ini menunjukkan tanda-tanda kelelahan pada pasukan Rusia, terutama di sektor logistik dan koordinasi tempur.
Namun, dari sisi lain, Ukraina masih menghadapi tantangan kekurangan personel militer meski terus meningkatkan kemampuan teknologi di medan perang.
Biletsky yang dikenal sebagai pendiri batalion Azov mengatakan pertempuran modern kini semakin bergantung pada teknologi, termasuk drone dan sistem tanpa awak yang mulai menggantikan sebagian peran infanteri.
Menurutnya, unit yang ia pimpin tengah mengembangkan penggunaan kendaraan darat nirawak serta drone tempur untuk meningkatkan efektivitas operasi militer sekaligus mengurangi risiko korban manusia.
Ia memperkirakan sekitar 30% operasi tempur dapat digantikan oleh sistem robotik pada 2027.
Selain itu, perang teknologi juga terus berkembang, dengan Ukraina unggul dalam beberapa sistem drone tertentu, sementara Rusia disebut lebih maju dalam pengembangan drone berbasis kabel serat optik yang sulit dilumpuhkan sistem gangguan elektronik.
Biletsky menambahkan, transformasi militer Ukraina saat ini diarahkan untuk menciptakan strategi tempur yang lebih fleksibel dan hemat personel, termasuk kombinasi operasi darat dan udara berbasis sistem tanpa awak.
Ia menilai perubahan tersebut akan menjadi salah satu “revolusi” dalam cara perang modern dijalankan di Ukraina.
“Itu akan terjadi tahun ini, dan kami akan menunjukkan bagaimana korps kami menjadi contoh nyata dari transformasi tersebut,” ujarnya.