Akselerasi transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan bayu (angin) masih menghadapi tantangan besar terkait intermitensi atau ketidakstabilan pasokan.
Dewan Energi Nasional (DEN) menilai kunci keberhasilan komersialisasi EBT terletak pada efisiensi biaya teknologi penyimpanan energi.
Anggota DEN, Satya Widya Yudha, memaparkan pemanfaatan EBT skala besar sangat bergantung pada Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini berfungsi menyimpan kelebihan daya saat produksi puncak untuk disalurkan ketika permintaan tinggi.
"Memang pertanyaannya adalah semuanya kalau yang energi terbarukan itu membutuhkan baterai. Kita berharap ke depannya harganya tidak mahal," kata Satya dalam diskusi daring, Minggu (28/6/2026).
Jika harga teknologi baterai bisa ditekan seminimal mungkin, tarif listrik dari sumber energi bersih yang digunakan masyarakat dapat turun secara signifikan.
Skenario ini diyakini mampu mengurangi beban subsidi energi yang ditanggung APBN, sekaligus menjaga prinsip keterjangkauan (affordability) dalam pilar ketahanan energi nasional tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan hidup.
Sekadar informasi, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat sebanyak enam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal atau terpusat telah beroperasi.
Kepala Dinas ESDM Kepri M Darwin mengatakan enam PLTS komunal tersebut tersebar di tiga daerah, yakni tiga unit di Kota Batam, dua unit di Kabupaten Lingga, dan satu unit di Kabupaten Karimun.
PLTS ini merupakan uji coba pengembangan PLTS di Kepulauan Riau, sejalan dengan target pemerintah pusat dalam meningkatkan porsi bauran energi bersih nasional.
Menurut Darwin, PLTS komunal dibangun oleh PT PLN dengan menyasar pulau-pulau terluar yang telah berpenghuni, tetapi belum terjangkau jaringan listrik PLN.
Ia menjelaskan satu unit PLTS komunal mampu melayani ratusan rumah tangga. Sebagai contoh, PLTS di Pulau Panjang, Kota Batam, dapat memasok listrik bagi lebih dari 200 kepala keluarga (KK).
Setiap KK memperoleh alokasi daya sekitar 1.000 kWh sehingga penggunaan listrik perlu disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.