Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga untuk menghadapi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino -->

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga untuk menghadapi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino

Minggu, 28 Juni 2026

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga untuk menghadapi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino melalui penguatan cadangan pangan pemerintah (CPP) serta kondisi produksi yang masih stabl.



Sekretaris Utama (Sestama) Bapanas Sarwo Edhy mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif sejak dini untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

"Pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipatif sejak dini. Kesiapan stok pangan Indonesia berada di status yang cukup kuat," kata Sarwo Edhy dilansir dari Antara, Sabtu (27/6/2026).

Menurut dia, kesiapan tersebut didukung oleh kondisi produksi yang masih terjaga dan ketersediaan CPP yang dinilai memadai.

Langkah antisipatif tersebut menjadi penting di tengah mulai munculnya dampak El Nino di Papua Nugini sebagaimana dilaporkan sejumlah lembaga internasional.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan peluang terjadinya El Nino.

Pemerintah juga memperkuat stok CPP, terutama cadangan beras, termasuk cadangan pangan pemerintah daerah (CPPD) yang dikelola masing-masing pemerintah daerah.

"Memang ada prediksi El Nino dan musim kering, sehingga kita sudah antisipasi daerah-daerah yang defisit itu untuk persiapan, baik dari produksi maupun stok. Pemerintah mempunyai CPP dan CPPD, yang dikelola di pemerintah pusat dan di 38 provinsi dan 514 kabupaten kota," terang Sarwo.

 

Dia menilai dampak El Nino di Indonesia hingga kini belum terlalu kuat. Perkembangan pertanaman pangan masih menunjukkan pertumbuhan yang baik. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog juga terus meningkat berkat penyerapan hasil panen petani lokal yang kini tercatat di atas 5 juta ton.

"Terkait dengan cuaca selama ini masih cukup normal, sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai," ujarnya.

Sarwo mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perkembangan cuaca.

"Dan kita juga sudah sosialisasi ke para petani untuk melakukan pola tanam sesuai dengan anjuran dari pemerintah," katanya.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, total produksi beras pada semester I 2026 diperkirakan mencapai 19,2 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional periode Januari-Juni 2026 yang diproyeksikan sebesar 15,4 juta ton.

Surplus produksi terhadap konsumsi beras yang mencapai 3,7 juta ton itu sebagian besar telah dikonversi menjadi stok CBP melalui penyerapan Bulog.

"Dari awal tahun sampai 26 Juni, Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sebanyak 3,2 juta ton," katanya.