Dolar Amerika Serikat (AS) berada pada jalur kenaikan
bulanan terbesar dalam hampir satu tahun pada Juni 2026. Penguatan mata uang
Negeri Paman Sam didorong meningkatnya keyakinan investor bahwa Federal Reserve
(The Fed) masih akan menaikkan suku bunga, ditambah optimisme terhadap prospek
ekonomi AS.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan konflik di
kawasan Teluk menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pekan
ini.
Dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026), indeks dolar AS
yang mengukur kinerja dolar terhadap enam mata uang utama lainnya stabil pada
level 101,34, tidak jauh dari level tertinggi dalam 13 bulan yang dicapai pekan
lalu.
Sepanjang Juni 2026, dolar menguat terhadap seluruh mata
uang utama dunia. Kenaikan dolar dipicu meningkatnya tekanan inflasi di AS
serta sikap hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang mengejutkan pasar.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini berubah
drastis.
Pada sisi lain, reli pasar saham AS yang ditopang
perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga terus menarik arus modal
global ke Amerika Serikat.
Dengan kondisi tersebut, dolar diperkirakan menguat sekitar
2,5% sepanjang Juni 2026, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025.
"Ini cukup signifikan karena sejak April tahun lalu
banyak pembahasan mengenai pelemahan struktural nilai dolar. Namun, meskipun
Anda sangat yakin dengan pandangan tersebut, tetap harus diakui bahwa masih ada
ruang bagi penguatan secara siklus," kata Kepala Strategi Valuta Asing
Rabobank, Jane Foley.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan
AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Data tersebut diperkirakan akan
memberikan gambaran lebih jelas mengenai peluang kenaikan suku bunga The Fed
pada tahun ini.