Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tampaknya harus bersiap menghadapi gelombang rasa malu yang lebih besar pada lanjutan fase grup Piala Dunia 2026 -->

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tampaknya harus bersiap menghadapi gelombang rasa malu yang lebih besar pada lanjutan fase grup Piala Dunia 2026

Sabtu, 13 Juni 2026

 Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tampaknya harus bersiap menghadapi gelombang rasa malu yang lebih besar pada lanjutan fase grup Piala Dunia 2026. Setelah ternoda oleh banyaknya tribun kosong pada pertandingan antara Korea Selatan dan Republik Ceko di Guadalajara, ancaman serupa kini membayangi laga besar antara tim nasional Inggris melawan Kroasia yang akan digelar di Texas, Rabu  (17/6/20260 pekan depan. Ratusan tiket dilaporkan masih belum terjual akibat harganya yang dinilai kelewat mahal dan mencekik kantong penonton.



Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim sepihak yang sempat disuarakan oleh FIFA sebelum turnamen dimulai. Otoritas tertinggi sepak bola tersebut sempat sesumbar telah menerima lebih dari 500 juta permintaan pemesanan tiket yang mereka sebut sebagai "lonjakan minat yang belum pernah terjadi sebelumnya." 


“Namun kenyataan di lapangan berbicara lain, tingginya angka penawaran di situs penjualan resmi maupun platform tangan kedua (resale) membuktikan bahwa daya beli masyarakat tidak setinggi narasi yang dibangun,” tulis Dailymail, Jumat (12/6/2026). 


Berdasarkan pantauan di berbagai situs resale, harga tiket untuk menyaksikan laga pembuka Tiga Singa tersebut benar-benar menguras dompet. Tiket kategori paling murah dipatok mulai dari US$ 867 atau setara dengan Rp 13 juta rupiah. Angka tersebut terus meroket hingga menyentuh US$ 9. 225 atau berkisar Rp 138 juta rupiah untuk paket premium yang mencakup akses ke ruang VIP khusus dan fasilitas jamuan makan mewah. Tingginya harga ini membuat kelompok suporter meradang dan menuduh FIFA sengaja mengasingkan fans kelas pekerja.

Bagi penonton yang menginginkan kenyamanan lebih, FIFA menyediakan tiket kategori hospitality di situs resmi mereka dengan rentang harga US$ 2.430 ( Rp 36,4 juta) hingga US$ 3.150 (Rp 47,2 juta). Untuk varian paket seharga US$ 2.430, penonton akan dimasukkan ke dalam kelompok 'Champions Club'. 


"Berdasarkan deskripsi resmi FIFA, paket ini “menawarkan kursi penonton pilihan yang terletak hanya beberapa langkah dari ruang hospitality eksklusif yang dinamis, menyediakan layanan minuman premium serta hidangan lengkap yang tersedia sebelum dan sesudah pertandingan,” jelas Dailymail. 


Tingginya harga tiket ini tidak hanya terjadi pada laga pembuka Inggris saja, melainkan merata di pertandingan fase grup lainnya. Pada laga kedua Inggris melawan Ghana di Boston, tiket di pasar sekunder dibanderol dari £ 423 (Rp 8,4 juta) hingga £ 4,354 (Rp 87 juta). Puncaknya terjadi pada laga kontra Panama, di mana tiket termurah dihargai £ 513 (Rp 10,2 juta) dan merangkak naik hingga £ 6,678 (Rp 133 juta). Biaya ini bahkan belum menghitung ongkos transportasi dan akomodasi super mahal untuk keliling tiga negara tuan rumah.


Mendapat tekanan dan kritik bertubi-tubi dari pencinta sepak bola di seluruh dunia, Presiden FIFA Gianni Infantino tetap pasang badan membela kebijakan lembaganya. Infantino berkilah bahwa jika mereka menjual tiket dengan harga yang terlalu murah di pasar Amerika Utara, tiket tersebut justru akan habis disapu bersih oleh para calo dan mafia pasar gelap untuk dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat demi keuntungan pribadi. "Jika kami melakukan sesuatu yang salah, maka kemungkinan semua orang yang menjual tiket di Amerika Utara saat ini juga melakukan hal yang salah," cetus Infantino membela diri.


Kendati pembelaan terus disuarakan, data dari laporan Financial Times mengungkap fakta yang mengkhawatirkan di mana hampir 180.000 tiket untuk fase grup masih telantar dan belum laku terjual di platform resmi. Bahkan untuk laga tim tuan rumah Amerika Serikat melawan Paraguay, terdapat sekitar 4.400 tiket sisa dengan harga termurah langsung dari FIFA sebesar $1,120 (Rp16,8 juta). Bahkan untuk pertandingan yang masuk kategori tidak populer sekalipun, harga tiket masih tertahan tinggi di atas $300 atau sekitar Rp4,5 juta rupiah.


Di sisi lain, pesta pembukaan di Stadion Azteca sebenarnya berlangsung megah dengan penampilan ikonik dari penyanyi internasional Shakira dan Burna Boy yang membawakan lagu tema "Dai Dai". Namun, hari pembukaan tersebut berubah menjadi kekacauan massal setelah aksi unjuk rasa besar-besaran yang diwarnai pelemparan bom molotov meletus di luar stadion, di mana ribuan warga Meksiko turun ke jalan untuk memprotes krisis orang hilang di negara mereka. Kombinasi antara boikot akibat harga tiket selangit dan kerusuhan keamanan di luar lapangan kini menjadi rapor merah yang mencoreng kredibilitas FIFA di awal turnamen.