Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi
mengancam hingga 1,3 juta lapangan kerja di Eropa pada 2026 akibat lonjakan
harga energi yang membebani industri padat energi.
Komisioner Ketenagakerjaan Uni Eropa Roxana Minzatu
mengatakan sektor otomotif, konstruksi, logam, kimia, hingga transportasi
menjadi yang paling rentan terdampak kenaikan biaya energi.
“Akibat perang di Timur Tengah, hingga 1,3 juta pekerjaan
berada dalam risiko, terutama di industri padat energi,” kata Minzatu dalam
konferensi pers di Brussels, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).
Komisi Eropa memperkirakan sektor otomotif menjadi industri
dengan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar, yakni mencapai 600.000
pekerja.
Sementara itu, sektor konstruksi, logam, kimia, dan
transportasi diperkirakan kehilangan sekitar 56.000 pekerjaan.
Tekanan juga diperkirakan terjadi pada proyek baterai
kendaraan listrik dengan risiko kehilangan sekitar 85.000 pekerjaan. Selain
itu, industri manufaktur panel surya berpotensi kehilangan sekitar 58.852
pekerjaan.
Di sektor baja, sekitar 4.500 pekerjaan terancam akibat
penerapan langkah transisi rendah karbon yang dinilai meningkatkan tekanan
biaya produksi.
Komisi Eropa juga memperkirakan rumah tangga berpenghasilan
rendah harus mengalokasikan tambahan sekitar 1,4% pendapatan mereka untuk biaya
bahan bakar transportasi akibat lonjakan harga energi.
Saat ini, sektor manufaktur Uni Eropa mempekerjakan sekitar
30 juta pekerja, sedangkan sektor jasa menyerap hampir 87 juta tenaga kerja.
Lonjakan harga energi dipicu meningkatnya ketegangan
geopolitik di Timur Tengah seusai eskalasi konflik antara AS dan Iran yang
mengganggu stabilitas pasokan energi global.