Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mengancam hingga 1,3 juta lapangan kerja di Eropa pada 2026 akibat lonjakan harga energi yang membebani industri -->

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mengancam hingga 1,3 juta lapangan kerja di Eropa pada 2026 akibat lonjakan harga energi yang membebani industri

Kamis, 04 Juni 2026

 

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mengancam hingga 1,3 juta lapangan kerja di Eropa pada 2026 akibat lonjakan harga energi yang membebani industri padat energi.

 


Komisioner Ketenagakerjaan Uni Eropa Roxana Minzatu mengatakan sektor otomotif, konstruksi, logam, kimia, hingga transportasi menjadi yang paling rentan terdampak kenaikan biaya energi.

“Akibat perang di Timur Tengah, hingga 1,3 juta pekerjaan berada dalam risiko, terutama di industri padat energi,” kata Minzatu dalam konferensi pers di Brussels, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).

Komisi Eropa memperkirakan sektor otomotif menjadi industri dengan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar, yakni mencapai 600.000 pekerja.

Sementara itu, sektor konstruksi, logam, kimia, dan transportasi diperkirakan kehilangan sekitar 56.000 pekerjaan.

Tekanan juga diperkirakan terjadi pada proyek baterai kendaraan listrik dengan risiko kehilangan sekitar 85.000 pekerjaan. Selain itu, industri manufaktur panel surya berpotensi kehilangan sekitar 58.852 pekerjaan.

Di sektor baja, sekitar 4.500 pekerjaan terancam akibat penerapan langkah transisi rendah karbon yang dinilai meningkatkan tekanan biaya produksi.

Komisi Eropa juga memperkirakan rumah tangga berpenghasilan rendah harus mengalokasikan tambahan sekitar 1,4% pendapatan mereka untuk biaya bahan bakar transportasi akibat lonjakan harga energi.

Saat ini, sektor manufaktur Uni Eropa mempekerjakan sekitar 30 juta pekerja, sedangkan sektor jasa menyerap hampir 87 juta tenaga kerja.

Lonjakan harga energi dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah seusai eskalasi konflik antara AS dan Iran yang mengganggu stabilitas pasokan energi global.