Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya menghadapi tantangan dalam mengontrol kadar gula darah, tetapi juga sering mengalami kondisi yang kurang disadari -->

Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya menghadapi tantangan dalam mengontrol kadar gula darah, tetapi juga sering mengalami kondisi yang kurang disadari

Rabu, 24 Juni 2026

 

Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya menghadapi tantangan dalam mengontrol kadar gula darah, tetapi juga sering mengalami kondisi yang kurang disadari, yaitu munculnya sinyal lapar palsu atau fake hunger di antara waktu makan.

 


Kondisi ini berkaitan erat dengan resistensi insulin, yaitu keadaan ketika tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa secara optimal. Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami kekurangan energi meskipun kadar gula dalam darah tetap tinggi. Situasi tersebut kemudian dapat memicu sinyal lapar yang keliru pada otak.

Fenomena fake hunger ini dapat berdampak pada pola makan penderita diabetes. Sebagian penderita cenderung mengonsumsi makanan ringan di luar jadwal makan utama, yang berpotensi menyebabkan peningkatan kadar gula darah secara perlahan. Sementara itu, sebagian lainnya menahan diri untuk tidak makan, namun justru berisiko mengonsumsi makanan dalam porsi berlebih saat waktu makan tiba.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang tepat, resistensi insulin dapat semakin memburuk dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes di kemudian hari.

Sejumlah kajian menunjukkan pengelolaan rasa lapar pada penderita diabetes tidak hanya berkaitan dengan jadwal makan, tetapi juga dipengaruhi oleh respons tubuh terhadap karbohidrat, serat, dan protein yang dikonsumsi. Karbohidrat kompleks, misalnya, dicerna lebih lambat sehingga dapat membantu menjaga kestabilan energi lebih lama.

Selain itu, asupan serat yang cukup diketahui dapat memperlambat penyerapan glukosa di usus, sehingga membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan. Sementara itu, protein berperan dalam meningkatkan rasa kenyang yang lebih tahan lama melalui respons hormonal yang mengatur nafsu makan.

Ahli kesehatan juga menekankan pentingnya vitamin B6 dan B12 dalam membantu proses metabolisme energi, yaitu mengubah nutrisi menjadi energi yang dapat digunakan tubuh secara optimal.

Menurut diabetologist dr Kelvin Candiago, pendekatan nutrisi yang tepat memiliki potensi dalam membantu penderita diabetes mengelola rasa lapar di antara waktu makan.

“Pengelolaan diabetes tidak hanya fokus pada kadar gula darah saat makan utama, tetapi juga bagaimana tubuh merespons rasa lapar di sela waktu makan. Pendekatan nutrisi dengan beban glikemik rendah dapat membantu menjaga respons glukosa yang lebih stabil,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, berbagai penelitian juga menunjukkan makanan dengan beban glikemik rendah dapat membantu mengurangi fluktuasi gula darah serta mendukung pengendalian diabetes secara lebih optimal.

Dengan pemahaman yang tepat mengenai fake hunger dan pemilihan pola makan yang sesuai, penderita diabetes diharapkan dapat lebih mudah menjaga kestabilan energi sekaligus mengurangi risiko lonjakan gula darah yang tidak disadari.

Untuk memastikan setiap formulasi memiliki dasar ilmiah yang kuat, tim research and development mGanik Nutrition mengembangkan mGanik Superfood.

"Saya melihat formulasi yang dikembangkan tim R&D mGanik Nutrition memiliki rasional ilmiah yang kuat untuk membantu mengatasi fake hunger pada penyandang diabetes. Karena itu, pendekatan ini menarik untuk divalidasi lebih lanjut melalui uji klinis," tambah Kelvin.