Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya
menghadapi tantangan dalam mengontrol kadar gula darah, tetapi juga sering
mengalami kondisi yang kurang disadari, yaitu munculnya sinyal lapar palsu atau
fake hunger di antara waktu makan.
Kondisi in
Fenomena fake hunger ini dapat berdampak pada pola makan
penderita diabetes. Sebagian penderita cenderung mengonsumsi makanan ringan di
luar jadwal makan utama, yang berpotensi menyebabkan peningkatan kadar gula
darah secara perlahan. Sementara itu, sebagian lainnya menahan diri untuk tidak
makan, namun justru berisiko mengonsumsi makanan dalam porsi berlebih saat
waktu makan tiba.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan
yang tepat, resistensi insulin dapat semakin memburuk dan meningkatkan risiko
komplikasi diabetes di kemudian hari.
Sejumlah kajian menunjukkan pengelolaan rasa lapar pada
penderita diabetes tidak hanya berkaitan dengan jadwal makan, tetapi juga
dipengaruhi oleh respons tubuh terhadap karbohidrat, serat, dan protein yang
dikonsumsi. Karbohidrat kompleks, misalnya, dicerna lebih lambat sehingga dapat
membantu menjaga kestabilan energi lebih lama.
Selain itu, asupan serat yang cukup diketahui dapat
memperlambat penyerapan glukosa di usus, sehingga membantu mengurangi lonjakan
gula darah setelah makan. Sementara itu, protein berperan dalam meningkatkan
rasa kenyang yang lebih tahan lama melalui respons hormonal yang mengatur nafsu
makan.
Ahli kesehatan juga menekankan pentingnya vitamin B6 dan B12
dalam membantu proses metabolisme energi, yaitu mengubah nutrisi menjadi energi
yang dapat digunakan tubuh secara optimal.
Menurut diabetologist dr Kelvin Candiago, pendekatan nutrisi
yang tepat memiliki potensi dalam membantu penderita diabetes mengelola rasa
lapar di antara waktu makan.
“Pengelolaan diabetes tidak hanya fokus pada kadar gula
darah saat makan utama, tetapi juga bagaimana tubuh merespons rasa lapar di
sela waktu makan. Pendekatan nutrisi dengan beban glikemik rendah dapat
membantu menjaga respons glukosa yang lebih stabil,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, berbagai penelitian juga menunjukkan
makanan dengan beban glikemik rendah dapat membantu mengurangi fluktuasi gula
darah serta mendukung pengendalian diabetes secara lebih optimal.
Dengan pemahaman yang tepat mengenai fake hunger dan pemilihan
pola makan yang sesuai, penderita diabetes diharapkan dapat lebih mudah menjaga
kestabilan energi sekaligus mengurangi risiko lonjakan gula darah yang tidak
disadari.
Untuk memastikan setiap formulasi memiliki dasar ilmiah yang
kuat, tim research and development mGanik Nutrition mengembangkan mGanik
Superfood.
"Saya melihat formulasi yang dikembangkan tim R&D
mGanik Nutrition memiliki rasional ilmiah yang kuat untuk membantu mengatasi
fake hunger pada penyandang diabetes. Karena itu, pendekatan ini menarik untuk
divalidasi lebih lanjut melalui uji klinis," tambah Kelvin.