Perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya memasuki fase gencatan senjata setelah kedua -->

Perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya memasuki fase gencatan senjata setelah kedua

Rabu, 24 Juni 2026

 


Perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya memasuki fase gencatan senjata setelah kedua negara menandatangani memorandum kesepahaman terbaru.

Meski negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan masih akan berjalan, Presiden AS Donald Trump lebih dulu menyampaikan narasi kemenangan kepada publik dan pendukungnya di dalam negeri.

Melalui akun media sosial pribadinya, Trump menulis pesan singkat dengan huruf kapital "SAMA-SAMA!", sebelum memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya menunjukkan keberhasilan AS.

Trump menyebut aliran minyak telah pulih, pasar saham menguat, lapangan kerja mencetak rekor, serta program nuklir Teheran berhasil dibatasi demi menjaga stabilitas dan keamanan global.

Namun, sejumlah data dan laporan pascakonflik menunjukkan gambaran berbeda. Perang AS melawan Iran justru meninggalkan beban fiskal besar, tekanan ekonomi, dan penurunan dukungan publik.

Pentagon Menanggung Kerugian Puluhan Miliar Dolar

Salah satu dampak terbesar dari konflik AS-Iran terlihat pada kondisi keuangan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon.

Berdasarkan analisis awal Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya langsung yang dikeluarkan Pentagon selama perang mencapai US$ 40 miliar atau sekitar Rp 712 triliun.

Nilai tersebut mencerminkan pengeluaran untuk amunisi, peralatan tempur yang rusak atau hancur, serta kerusakan fasilitas militer.

Penasihat Senior CSIS Mark Cancian, menjelaskan angka tersebut belum mencerminkan seluruh biaya perang yang sebenarnya.

"Nilai tersebut mencakup biaya amunisi, peralatan tempur yang hancur, dan kerusakan pangkalan. Namun, itu belum memasukkan biaya operasional internal yang sebenarnya sudah memakan porsi dari anggaran rutin Pentagon tahun fiskal 2026 yang totalnya mencapai US$ 1 triliun (Rp 17.800 triliun)," kata Penasihat Senior CSIS Mark Cancian, dikutip dari CNN International, Selasa (23/6/2026).

Beban anggaran Washington semakin terlihat setelah dua sumber internal pemerintah mengungkap Pentagon telah mengajukan dana talangan darurat tambahan atau supplemental funding sebesar US$ 80 miliar, setara Rp 1.424 triliun.

Sebagian besar dana tersebut direncanakan untuk memperbaiki kerusakan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah sekaligus menutup berbagai pos anggaran yang terkuras selama konflik berlangsung.

Rudal Tomahawk Jadi Sumber Pengeluaran Raksasa

Biaya perang yang membengkak tidak lepas dari tingginya penggunaan persenjataan berteknologi tinggi selama konflik berlangsung.

Mark Cancian mengungkapkan militer AS sangat bergantung pada penggunaan senjata jarak jauh modern yang memiliki biaya produksi dan operasional sangat mahal.

Salah satu contohnya adalah rudal Tomahawk. Harga satu unit rudal tersebut mencapai sekitar US$ 2,5 juta atau setara Rp 44,5 miliar.

Selama perang melawan Iran, AS dilaporkan meluncurkan sekitar 1.000 rudal Tomahawk. Dengan jumlah tersebut, pengeluaran hanya untuk penggunaan rudal Tomahawk diperkirakan mencapai US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun.

Besarnya intensitas serangan juga berdampak pada cadangan senjata strategis Washington. Persediaan logistik militer dilaporkan mengalami tekanan serius hingga akhirnya Trump mengaktifkan Defense Production Act pada awal Juni.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong perusahaan-perusahaan domestik meningkatkan produksi persenjataan secara cepat guna memenuhi kebutuhan militer yang terus meningkat selama konflik.

Tidak hanya Pentagon yang terkena dampaknya. Sejumlah lembaga sipil pemerintah AS juga ikut menanggung kerugian.

Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Urusan Veteran tercatat mengalami beban kerugian hingga US$ 135 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun. Selain itu, lonjakan harga bahan bakar selama operasi militer turut memicu tambahan beban sekitar US$ 165 juta atau Rp 2,9 triliun.

Perang Menggerus Cadangan Energi dan Menekan Warga AS

Pada saat pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan militer, masyarakat AS juga harus menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat.

 

Salah satu dampak paling nyata terlihat pada sektor energi. Konflik yang berlangsung hampir empat bulan menguras cadangan minyak darurat AS hingga mencapai level terendah sejak 1983.

Data Kpler menunjukkan dunia kehilangan pasokan sekitar 1,15 miliar barel minyak mentah akibat blokade yang terjadi di Timur Tengah selama perang berlangsung.

Gangguan pasokan tersebut segera memengaruhi harga energi di dalam negeri.

Harga bensin di AS melonjak dari rata-rata di bawah US$ 3 per galon menjadi lebih dari US$ 4 per galon selama konflik berlangsung. Kenaikan tersebut secara langsung meningkatkan beban pengeluaran masyarakat.

Berdasarkan pelacak biaya energi Brown University, rata-rata rumah tangga AS harus mengeluarkan tambahan biaya energi sebesar US$ 253 atau sekitar Rp 4,5 juta dibandingkan kondisi normal tanpa perang.

Harga Diesel Melonjak, Pelaku Usaha Kena Imbas

Tekanan ekonomi tidak berhenti pada sektor rumah tangga. Sektor logistik dan pangan juga menghadapi dampak besar akibat kenaikan harga bahan bakar diesel.

Selama konflik berlangsung, harga diesel sempat melonjak hingga US$ 5 per galon dari posisi awal sekitar US$ 3,80 per galon.

Kenaikan tersebut meningkatkan biaya distribusi barang dan aktivitas transportasi secara signifikan.

Secara kumulatif, masyarakat dan pelaku usaha AS diperkirakan harus mengeluarkan tambahan biaya mencapai US$ 27,1 miliar atau sekitar Rp482,3 triliun hanya untuk menutup selisih harga diesel.

Tekanan tersebut juga diperparah oleh kenaikan harga pupuk yang berpotensi mengganggu keberlanjutan sektor pertanian AS dalam jangka panjang.

Dengan demikian, dampak perang tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga merembet ke rantai pasok nasional dan berbagai sektor ekonomi produktif.

Inflasi Naik di Atas 4 Persen

Berbagai tekanan biaya yang muncul selama konflik kemudian bermuara pada kenaikan inflasi.

Data terbaru Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi tahunan AS telah naik melampaui 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Angka tersebut berada jauh di atas target Federal Reserve (The Fed), yang selama ini berupaya menjaga inflasi pada level lebih rendah.

Kenaikan inflasi membuat bank sentral AS mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap kebijakan moneter.

 

Di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, yang dipilih Trump, bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dan bahkan membuka peluang pengetatan moneter tambahan pada akhir tahun.

Kebijakan tersebut memberikan tekanan lanjutan terhadap sektor perumahan.

Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) tenor 30 tahun bertahan pada level 6,47% sehingga aktivitas pasar perumahan mengalami perlambatan. Kondisi ini membuat akses kepemilikan rumah bagi banyak pekerja AS menjadi semakin sulit.

Popularitas Trump Tertekan Akibat Dampak Ekonomi

Lonjakan inflasi juga berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan harga berbagai kebutuhan menggerus pertumbuhan upah riil pekerja sepanjang April dan Mei 2026.

Akibatnya, banyak warga merasakan tekanan ekonomi meski pemerintah menyampaikan narasi positif terkait hasil perang melawan Iran. Situasi tersebut tercermin dalam berbagai survei opini publik.

Berdasarkan Poll of Polls CNN, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump turun ke angka 37%.

Temuan serupa juga muncul dalam jajak pendapat Fox News. Hanya 31% pemilih terdaftar yang menyatakan setuju terhadap kebijakan ekonomi Trump.

Sementara itu, hanya 35% responden yang mendukung cara Trump menangani krisis Iran. Data tersebut menunjukkan dampak ekonomi yang muncul setelah perang telah menjadi faktor penting yang memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintah.