Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran di tengah berlangsungnya perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Teheran -->

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran di tengah berlangsungnya perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Teheran

Senin, 22 Juni 2026




Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran di tengah berlangsungnya perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Teheran di Swiss pada Minggu (21/6/2026).

Ancaman tersebut muncul bersamaan dengan pengumuman Iran yang kembali menutup Selat Hormuz, yang memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Perundingan yang digelar di resor pegunungan Bürgenstock, Swiss, itu merupakan pembicaraan pertama berdasarkan nota kesepahaman yang disepakati sepekan sebelumnya. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian seluruh konflik, termasuk di Libanon yang sejak Maret 2026 mengalami invasi oleh Israel.

Namun, Iran menyatakan penutupan kembali Selat Hormuz dilakukan karena Amerika Serikat dinilai gagal memenuhi komitmen untuk menghentikan pertempuran di Libanon.

Teheran juga menegaskan pembahasan isu substantif, termasuk program nuklir, tidak akan dilanjutkan sebelum kondisi di Libanon membaik dan manfaat ekonomi yang dijanjikan terealisasi.

Trump dalam pernyataannya menuding Iran harus segera menghentikan kelompok proksi di Libanon. Ia juga mengancam akan melancarkan serangan lebih besar jika situasi tidak berubah.

“Iran harus segera menghentikan proksi bayaran tinggi mereka di Libanon. Jika tidak, kami akan menyerang lebih keras seperti sebelumnya, bahkan lebih keras lagi,” ujar Trump dilansir Reuters.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi dalam perundingan menyebut telah ada kemajuan awal dalam upaya meredakan konflik di Libanon. Ia menilai proses tersebut masih berlangsung meski situasi di lapangan tetap kompleks.

Di sisi lain, Iran kembali menutup Selat Hormuz yang sebelumnya sempat mengalami pemulihan aktivitas perdagangan. Penutupan ini berdampak pada arus pelayaran global, dengan hanya sedikit kapal yang melintas setelah pengumuman tersebut.

Amerika Serikat membantah klaim penutupan total Selat Hormuz, namun data pelacakan kapal menunjukkan penurunan signifikan aktivitas pelayaran. Banyak perusahaan pelayaran dilaporkan masih menunggu izin keamanan dari Iran untuk melintas.

Iran juga menyatakan tidak akan memulai tahap lanjutan perundingan, termasuk pembahasan nuklir, sebelum konflik di Libanon berakhir dan manfaat ekonomi dari kesepakatan mulai diterima.

Perundingan di Swiss yang dimediasi Qatar itu juga dihadiri perwakilan Pakistan. Dalam kesempatan tersebut, Vance, utusan AS Steve Witkoff, serta Jared Kushner bertemu dengan sejumlah pejabat, termasuk Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir.

Pertemuan berlangsung hangat dengan sejumlah momen keakraban antara para pejabat yang hadir.

Menurut rencana, perundingan ini akan membahas implementasi nota kesepahaman selama 60 hari, termasuk pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.

Namun, Iran menegaskan tahap substantif tidak dapat dimulai sebelum terpenuhinya syarat awal, termasuk stabilisasi situasi di Libanon serta pencairan aset yang dibekukan.

Di tengah ketegangan tersebut, kondisi di Libanon masih belum sepenuhnya stabil. Meski gencatan senjata diumumkan, laporan di lapangan menunjukkan masih terjadi serangan terbatas dan pergerakan warga yang mulai kembali ke wilayah selatan.