Sedikitnya sembilan warga Palestina tewas dan 20 lainnya
terluka akibat dua serangan udara Israel di Jalur Gaza, Minggu (7/6/2026).
Insiden itu terjadi di tengah dimulainya kembali upaya mediasi untuk
menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Menurut otoritas kesehatan setempat, serangan pertama
menyasar sebuah pos polisi yang dikelola Hamas di dekat kawasan tenda
pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan. Serangan tersebut menewaskan lima
orang dan melukai 16 lainnya.
Petugas medis belum merinci jumlah korban yang merupakan
anggota kepolisian. Dalam beberapa bulan terakhir, militer Israel meningkatkan
serangan terhadap markas dan personel kepolisian di Gaza. Pejabat keamanan
Hamas menyebut puluhan anggota kepolisian telah tewas akibat serangan tersebut.
Beberapa jam kemudian, serangan udara Israel lainnya
menghantam sebuah kendaraan yang melintas di pusat Kota Gaza. Serangan itu
menewaskan empat orang dan melukai empat lainnya. Hingga kini, militer Israel
belum memberikan pernyataan resmi terkait kedua insiden tersebut.
Pertempuran berskala besar di Gaza memang telah mereda sejak
gencatan senjata diberlakukan pada Oktober tahun lalu setelah perang yang
berlangsung selama dua tahun.
Namun, belum ada kesepakatan baru untuk melanjutkan rencana
yang didukung Amerika Serikat terkait penarikan pasukan Israel, pelucutan
senjata Hamas, dan rekonstruksi Gaza.
Saat ini, pasukan Israel masih menguasai lebih dari separuh
wilayah Gaza. Sebagian besar bangunan di kawasan tersebut telah hancur,
sementara hampir seluruh populasi yang berjumlah sekitar dua juta jiwa kini
tinggal di wilayah pesisir yang sempit, sebagian besar di tenda darurat atau
bangunan yang rusak.
Keberadaan sekitar 10.000 personel kepolisian Hamas menjadi
salah satu isu utama dalam perundingan. Hamas menginginkan mereka masuk dalam
struktur kepolisian baru Gaza, sedangkan Israel menolak keterlibatan personel
yang memiliki afiliasi dengan kelompok tersebut.
Sementara itu, Mesir kembali menjadi tuan rumah perundingan
gencatan senjata yang melibatkan pimpinan Hamas dan sejumlah faksi Palestina
lainnya. Sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyebut pembicaraan
diperkirakan berlangsung selama beberapa hari.
Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran
terhadap kesepakatan gencatan senjata. Sejak kesepakatan tersebut diberlakukan,
serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 950 warga Palestina,
sedangkan serangan kelompok bersenjata Palestina menewaskan empat tentara
Israel.
Kesepakatan yang dicapai tahun lalu juga membentuk Dewan
Perdamaian yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawasi
pelaksanaan gencatan senjata secara bertahap. Kesepakatan tersebut telah
mendapat pengesahan dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski demikian, sejumlah isu utama seperti pelucutan senjata
Hamas, penarikan pasukan Israel, dan pembentukan pemerintahan Gaza masih
ditunda pembahasannya ke tahap berikutnya.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan kelompoknya
terbuka terhadap berbagai gagasan yang dapat mengakhiri serangan Israel di Gaza
dan membantu tercapainya kesepakatan pada tahap kedua rencana perdamaian yang
diusulkan Amerika Serikat.
Namun, ia menilai Dewan Perdamaian harus bersikap lebih netral
dan tidak memihak Israel.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, hampir 73.000 orang telah
tewas sejak perang dimulai, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil.
Perang pecah setelah kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas
melancarkan serangan lintas perbatasan ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023
yang menewaskan sekitar 1.200 orang serta menyandera 251 warga Israel dan warga
negara asing.