Sejumlah ekonom dan akademisi menilai fundamental ekonomi
Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah munculnya berbagai
narasi pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
Tingginya minat investor global terhadap instrumen investasi
Indonesia dinilai menjadi bukti bahwa kepercayaan pasar internasional masih
terjaga.
Salah satu indikator yang disorot adalah keberhasilan
Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai US$ 1,5
miliar. Penerbitan surat utang tersebut mendapat respons positif dari investor
global dengan nilai pemesanan mencapai US$ 4,6 miliar atau mengalami kelebihan
permintaan (oversubscription) lebih dari tiga kali lipat.
Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi menilai pencapaian
tersebut membantah anggapan investor asing mulai meninggalkan Indonesia.
“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara
menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat.
Ini sekaligus membantah narasi ‘Sell Indonesia’. Yang terjadi justru
sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap ‘Buy Indonesia’,” kata Iswadi di
Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, tingginya minat investor menjadi indikator bahwa
pasar global masih memandang prospek ekonomi Indonesia secara positif meski
kondisi ekonomi dunia masih diliputi ketidakpastian.
“Jika investor tidak percaya terhadap masa depan ekonomi
Indonesia, maka mustahil permintaan bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat
target penerbitan. Ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan pasar masih
sangat tinggi,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior INDEF, Prof Didik
J Rachbini. Ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor yang
sehat dan terkendali.
“Saya cermati, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan
dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai. Terutama soal defisit
sampai Mei 2026, terjaga 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus
terjaga sampai kuartal kedua,” katanya.
Menurutnya, kemampuan pemerintah menjaga defisit pada level
rendah menunjukkan pengelolaan APBN masih berjalan dengan baik. Selain itu, pendapatan
negara juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.
“Pendapatan fiskal meningkat sekitar 19 persen secara
tahunan hingga Mei 2026. Penerimaan pajak naik 22% dan menjadi salah satu
penopang utama stabilitas fiskal kita,” ujarnya.Didik juga menyoroti realisasi
pembiayaan fiskal yang telah mencapai Rp 379,4 triliun atau sekitar 55,1 persen
dari target tahunan.
“Artinya ada penyediaan pendanaan yang cukup untuk mendukung
pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ekonom Myrdal Gunarto menilai risiko utang
luar negeri (ULN) Indonesia masih relatif terkendali. Berdasarkan data terbaru,
pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 1,9%
secara tahunan.
“Perkembangan utang luar negeri kita memang pertumbuhannya
masih pelan. Ini masih mencerminkan ketergantungan yang relatif rendah dari
pemerintah ataupun pelaku bisnis swasta terhadap kebutuhan mereka untuk
melakukan utang luar negeri,” katanya.
Ia menjelaskan, dunia usaha saat ini masih cenderung
berhati-hati dalam melakukan ekspansi akibat ketidakpastian global. Karena itu,
peningkatan utang lebih banyak berasal dari kebutuhan pembiayaan pemerintah dan
refinancing utang yang jatuh tempo.
Myrdal juga menilai langkah pemerintah melakukan
diversifikasi sumber pembiayaan merupakan strategi yang positif untuk menjaga
stabilitas fiskal.
“Panda Bond bagus
karena yield-nya terlihat lebih rendah dibandingkan instrumen surat utang dalam
mata uang lain. Ini menjadi keuntungan bagi pemerintah untuk mendukung
pembiayaan pembangunan dan kebutuhan APBN,” ujarnya.