Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran
dilaporkan masih terus berlangsung meskipun ketegangan militer antara kedua
negara kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Mengutip CNN, Kamis (11/6/2026), yang bersumber dari seorang
diplomat, proses negosiasi dinilai masih berada di jalur yang tepat meski
Washington dan Teheran terlibat aksi saling serang selama dua hari
berturut-turut.
Situasi memanas setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan
negaranya akan melancarkan serangan tambahan apabila Iran tidak segera menerima
kesepakatan damai yang ditawarkan.
Di tengah proses diplomasi tersebut, Komando Pusat Amerika
Serikat (Centcom) mengonfirmasi bahwa pasukan AS melancarkan serangan terhadap
sejumlah target militer di Iran sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari.
Dalam keterangannya, Centcom menyebut operasi tersebut
dilakukan sebagai respons atas insiden penembakan sebuah helikopter militer AS
di kawasan Selat Hormuz.
"Pertahanan diri," demikian alasan yang
disampaikan Centcom terkait serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran.
Sebelumnya, Trump juga menyampaikan kritik terhadap
lambannya proses negosiasi yang dilakukan Teheran.
"Iran terlalu lama melakukan perundingan dan karena itu
harus menanggung konsekuensinya," kata Trump.
Meski konflik kembali meningkat, jalur diplomasi antara
kedua negara belum terhenti. Perundingan yang berlangsung sejak tercapainya
gencatan senjata pada April 2026 difokuskan pada beberapa isu utama, termasuk
pembukaan kembali jalur pelayaran internasional melalui Selat Hormuz dan pembahasan
program nuklir Iran.
Selain itu, dialog yang dimediasi oleh Pakistan juga
bertujuan mencari solusi permanen untuk mengakhiri konflik bersenjata yang
pecah pada 28 Februari 2026.
Selat Hormuz menjadi salah satu fokus utama negosiasi karena
kawasan tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global.
Gangguan terhadap pelayaran di wilayah itu telah memicu kekhawatiran pasar
internasional dan mendorong lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa bulan
terakhir.